Stigma di Area Kesehatan Mental

5 Oktober 2024. Hal.3

Kebanyakkan orang yang hidup dnegan masalah kejiwaan atau gangguan mental acap kali mengalami prasangka dan diskriminasi secara ilegal, tanpa keadilan. Istilah lainnya mereka mendapat stigma dari lingkungannya. Namun, ada pula fenomena yang disebut stigma diri. Mari kita cermati bersama.

Ashlay Olivine (2024), psikolog praktik yang berbasis di Texas, menjelaskan bahwa stigma adalah sikap atau gagasan negatif tentang ciri mental, fisik, atau sosial seseorang atau sekolompok orang yang menyiratkan ketidaksetujuan sosial. Meskipun ada banyak jenis stigma sosial, stigma kesehatan mental cenderung sangat umum dan lebih sering terjadi. Damapaknya bisa sangat kuat dan sering pada kesehatan mental dan fisik seseorang yang menerimannya. Beberapa dampak  stigma termasuk penarikan diri atau isolaso sosial, terganggunya pekerjaan dan keamanan finasial, kekerasan fisik, dan banyak lagi.

Stigma adalah ciptaan masyarakat, yang oleh para psikolog sosial disebut sebagai prasangka dan diskriminasi. Sayangnya, beberapa orang dengan ganguan mental serius menginternalisasi stigma yang diperolehnya dan menderita “pukulan” berat terhadap harga diri dan kepercayaan dirinya. Stigma diri terjadi ketika orang-orang menginternaslisasi sikap publik ini dan menderita berbagai konsekuensi negatif sebagai akibatnya.

Kelly Burch (2024), penulis lepas bidang kesehatan, menjelaskan bahwa stigma diri terjadi ketika Anda memiliki gagasan atau sikap negatif tentang diri sendiri. Stigma diri adalah keyakinan negatif yang Anda pegang tentang diri sendiri. Orang dengan ganggua mental seering mengalamai stigma kesehatan mental, yang mengakar kuat dalam budaya kita. Beberapa contoh stigma diri meliputi: Percaya bahwa orang dengan gangguan mental rentan terhadap kekerasan, percaya bahwa orang dengan penyalahgunaan za tidak bertanggung jawab, dan sebagainya.

Seiring berjalannya waktu, setelah hidup dengan keyakinan seperti itu, Anda mungkin percaya bahwa hal-hal tersebut benar adanya. Inilah stigma diri. Stigma diri dapat membuat Anda merasa malu, dapat menyebabkan diri yang rendah, dan mengurango efikasi diri (rasa mampu dapat mencapai sesuatu). Hal ini juga dapat menggangu kemampuan Anda dalam mencari pengobatan untuk kondisi kesehatan Anda atau untuk merawat diri sendiri dengan baik.

Dampak lebih terperinci

Adanya stigma diri dapat berdampak nyata pada kualitas hidup dan memburuknya kondiisi kesehatan bagi orang-orang dengan gangguan mental. Stigma diri membuat Anda merasa tidak layak atau tidak berhak atas hal-hal yang sama dengan orang lain, seperti karier yang memuaskan dan hubungan yang penuh kasih.

Stigma diri dapat menghilangkan pemberdayaan diri dan membuat Anda merasa kurang berharga. Anda mungkin bertanya-tanya mengapa harus mencoba mencapai suatu tujuan.

Banyak orang denga stigma diri khawatir tentang bagaimana gangguan yang mereka miliki akan memengaruhi karier mereka. Anda mungkin tidak berani atau menahan diri untuk melamar pekerjaan atau promosi karena merasa tidak memenuhi syarat. Atau, Anda mungkin menghindar dari posisi yang lebih menantang karena khawatir tentang dampak negatif terhadap kesehatan mental Anda.

Relasi

Stigma diri dapat melemahkan relasi Anda yang sudah terjalin selama ini dan mempersulit pembentukan relasi dengan orang baru. Jika Anda merasa tidak dicintai atau berpotensi menjadi beban bagi orang lain, Anda cenderung tidak mencari persahabatan dan hubungan romantis, misalnya.

Kesehatan fisik dan mental

Orang yang memiliki stigma diri cenderung tidak mencari layanan kesehatan, termasuk konseling. Karena konseling dan janji temu dengan penyedia layanan kesehatan berperan penting untuk menjaga stabilitas emosi dan keshatan fisik untuk membuat kehidupan yang stabil. Pada gilirannya, hal itu justru dapat memperkuat stigma diri.

Cara mengatasi

Mengingat rentannya pemulihan pada mereka dengan gangguan mental yang telah memiliki stigma diri, sangat penting untuk segera membantu mereka mengatasi keadaannya.

Patrick Corrigan dan Deepa Rao (2012), profesor psikologi dari Illinois Institute of Technology, berpendapat bahwa kunci untuk melawan stigma diri adalah dengan mempromosikan pemberdayaan pribadi. Salah satu caranya adalah melaluo pengungkapan diri, memberi tahu orang lain tentang riwayat kejiwaanya. Ketika seorang terbuka tentang kondisi dirinya, kekhawatiran atas kerahasiaan berkurang, dia mungkin segara menemukan teman sebaya atau anggota keluarga yang akan mendukungnya. Dia mungkin menemukan bahwa keterbukaan diri meningkatkan rasa kekuatan dan kendali atas hidupnya.

Namun, bersikap terbuka tentang kondisi diri juga dapat memiliki impliasi negatif. Pada beberapa kasus, pengungkapan mungkin lebih mengisolasi, akrenannya mengungkapkan pada akhirnya merupakan keputusan yang sangat pribadi, terkait erat dengan konteks budaya yang memerlukan pertimbangan menyeluruh tentang potensi manfaat dan konsekuensinya.

Kelly Burch (2024) juga mengatakan pentingnya membangun harga diri dan memberdayakan orang ketika mereka memiliki keyakinan negatif tentang diri mereka sendiri. Dia menyarankan beberapa hal yang dapat membantu ketika penderita merasa rendah diri, yaitu:

1. Kumpulkan fakta

Lihatlah fakta yang membantah keyakinan negatif Anda. Ini bisa berasal dari data tentang orang-orang dengan penyakit mental atau dari pengalaman pribadi Anda sendiri. Misalnya, jika Anda merasa tidak dicintai, lihatlah hubungan kasih sayang yang Anda miliki dalam hidup Anda.

2. Membagikan diagnosis Anda 

Beberapa orang merasa berdaya untuk membagikan diagnosis mereka kepada orang-orang di sekitar. Anda dapat membagikannya dengan menentukan apakah ini langkah yang tepat untuk Anda.

3. Cari bantuan profesional

Konselor atau terapis memiliki posisi unik untk membantu Anda. Terapi perilaku kognitif dan intervensi lain dapat membantu mengembangkan mekanisme penanganan untuk menghadapi stigma diri.

4. Temukan teman sebaya

Berhubungan dengan orang lain yang sama-sama memiliki gangguan mental dapat membantu Anda meras tidak sendirian dan mengurangi perasaan stigma diri. Carilah organisasi sosial yang menawarnkan program untuk memabntu orang dengan gangguan mental dengan saling mendukung dalam menghadapi tantangan.