Tak jarang kita mendengar ungkapan dari seorang mentor: menjadi direktur atau entrepreneur itu pilihan. Memang benar, itu pilihan masing-masing. Namun demikian, kedua pilihan tersebut mesti dipelajari. Lupakan factor keberuntungan. Sebab, tidak ada yang lebih baik ketimbang orang yang bejo alias beruntung, kan?
Ketika kecil kita sering ditanya apa cita-cita kita, dan mayoritas menjawab ingin menjadi dokter, guru, pilot, atau presiden. Adakah yang menjawab presiden direktur? Nyaris tidak ada. Tapi, begitu menginjak usia kerja, sama seperti entrepreneur, menjadi presiden direktur sebuah perusahaan menjadi cita-cita baru bagi banyak orang.
Semakin ketatnya persaingan bisnis di berbagai sktor turut mendorong meningkatnya kebutuhan sumber daya manusia, termasuk jajaran direksi. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang baik, walau belakangan agak mengkhawatirkan akibat gejolak golal, juga membuka beragam peluang bisnis sehingga mengiming-imingi siapa pun untuk menjadi entrepreneur.
Melonjaknya jumlah orang yang ingin menjadi direktur atau entrepreneur itu kemudian ditangkap oleh perguruan tinggi, lantas dibentuk sekolah-sekolah bisnis. Dalam satu dekade terkahir jumlah sekolah bisnis bertambah berkali lipat. Akreditasinya ada yang sekedar diakui keberadaannya, ada yang memang diakui kualitasnya. Mau pilih yang mana, itu juga pilihan mereka.
Tapi, bagi sekolah bisnis, jelas tak sesederhana itu. Sekolah bisnis, yang mengajari bagaimana orang berbisnis, baik posisinya sebagai direktur ataupun entrepreneur, juga harus mempraktikan teori bisnis mereka dalam mendapatkan beasiswa. Strategi bisnis sekolah bisnis mesti disusun secara matang sehingga mampu menarik mahasiswa sebanyak-banyaknya.
Di antara puluhan sekolah bisnis di Indonesia, setidaknya ada beberapa yang menonjol. Mereka mencoba menawarkan positioning yang berbeda. Ada yang khusus mengahsilkan direktur bagi perusahaan, ada yang memilih menciptakan entrepreneur.
Masing-masing sekolah bisnis itu mengunggulkan kurikulum mereka, bahkan menggandeng banyak Universitas mancanegara demi mendapatkan pengakuan internasional. Apakah strategi mereka sendiri memang keren? Ke mana saja alumninya? Kami membahas strategi bisnis sekolah bisnis ini secara detail, gambling. Berikut contoh-contohnya, dalam cerita sampul edisi minggu ini.
Selain itu, kami juga menyediakan berita-berita menarik lainnya seperti dorongan bagi usaha kecil untuk masuk bursa efek, saham apa saja yang jatuh akibat gejolak pasar modal, langkah China setelah mendevaluasi yuan, skandal korupsi yang menggoyang perdana menteri Malaysia, dan rencana pemerintah membentuk perusahaan khusus panas bumi. Untuk itu selamat membaca, selamat terinspirasi!
Sumber : Bloomberg, No 33. 31 Agustus- 06 September 2015

