Oleh Rofian Akbar (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah Franchise Indonesia)

Maraknya franchise di Indonesia akhir – akhir ini menjadi sebuah ancaman bagi para franchisor di dunia bisnis. Karena salah satu faktor yang paling berpengaruh pada bisnis franchise adalah franchisornya atau pewaralabanya. Di mana dalam membangun bisnis franchise seorang franchisor harus berkompeten dan tangguh dalam persaingan di dunia bisnis.

Bisnis franchise yang tengah “booming” bisa menjadi sebuah ancaman bagi mereka yang tidak memiliki inovasi dan renovasi dalam membangun atau mempertahankan franchienya. Tetapi juga menjadi sebuah kesempatan bagi mereka yang baru dan memiliki inovasi dan ide – ide kreatif dalam berbisnis franchise. Dengan melihat fenomena terssebut, seorang franchisor mau tidak mau harus mampu mengembangkan kemampuan bersaingnya dalam dunia bisnis.

Beberapa tahun yang lalu mungkin kita masih ingat bagaiman Dunkin Donuts menjadi brand yang dominan dalam dunia donat. Yang memang dulu relatif tidak memiliki pesaing. Namun coba kita lihat sekarang, di mana – mana sudah muncul J – CO, Mister Donut, Krispy Kreme dll. Sama halnya juga dengan Pizza Hut, yang juga saat ini sudah diganggu oleh merek Domino Pizza dll. Hoka – Hoka Bento pun begitu pula, semula seolah – olah tanpa pesaing, sekarang ditantang oleh beberapa merek lainnya. Hal ini menunjukan bahwa tidak ada yang stag dalam dunia bisnis, harus terus – menerus ada inovasi inovasi baru.

Di 2018, pemilik bisnis franchise (Franchisor) harus memiliki orientasi mengembangkan bisnis menjadi tangguh agar bisa bertahan di tengah – tengah persaingan yang semakin sengit. Sebab, jika sudah tagguh dan kuat, hail ini akan lebih mempermudah mengundang calon terwaralaba untuk memberi hak waralaba mereknya.

Apalagi kondisi perekonomian Indonesia diprediksi semakin membaik. Hal ini akan menjadi salah satu pendorong tumbuhnya berbagai produk baru yang di pasarkan dengan sitem franchise. Keadaan ini juga yang membuat segala bentuk informasi tentang franchise (waralaba) mulai dicari pasar, karena pada dasaarnya masyarakat mulai tertarik unutuk memasarkan produk – produknya dengan system franchise.

Nah sebelum kita sampai pada strategi memasarkan franchise kita pada franchisee tentunya kita harus memiliki kesiapan dalam memperkokohkan franchise kita sehingga bisa mengundang franchisee untuk berkerja sama dengan kita. Berikut persiapan yang harus di siapkan:

  • Mempersiapkan paradigm

Persiapa parafigma merupakan hal yang pertama yang dilakukan oleh pewaralaba (franchisor). Ketika kita telah memutuskan akan memfranchiskan bisnis kita, makan paradigm yang harus dimiliki bukan lagi paradigma untuk menjual produk/jasa kepada konsumen.

Misalnya, ketika kita memiliki bisnis makanan bakso, maka paradigm kita bukan lagi menjual bakso kepada pelanggan tetapi paradigm yang harus dibangung adalah menjual “bisnis” baksonya kepada calon – calon franchisee. Maka perlakuan untuk kedua jenis customer tersebut sangat berbeda. Yang pertama, kita bisa menjual kepada pembeli langsung yang merupakan pemakanan bakso kita, tetapi yang kedua, kita menjual kepada calon investor franchise yang belum tentu suka makan bakso. Namun Karena tertarik dengan bisnis kita maka dia membeli franchise kita.

  • Mempersiapkan Organisasi yang Solid

John Schnatten di usianya yang masih 20 tahunan, John mulai bereiraswasta dengan membuka took pizza. Ketika harus memilih merek, ia lebih suka menyusung namanya sendri, yakni John. Maka jadilah Papa John’s oada tahun 1984.

Berkat kegigihan dan sedikit keberuntungannya, ia berhasil melebarkan sayapnya menjadi 46 outlet pada 7 tahun pertama. Dan 7 tahun berikutnya jumlah outletnya melonjak secara eksponensial yakni lebih dari 1.600 unit. Tidak hanya itu saja, rata – rata penjualan per outletnya bahkan sanggup mengalahkan nama nama besar seperti Pizza hut, Domino’s dan Sebagainya.

Ada sedikit rahasia dibalik kesuksesan John, dan itu adalah kepawaiannya dalam memimpin. Tetapi tidak hanya sampai di situ saja, John juga memimpin para pemimpin – pemimpin (bisnis) kelas satu seperti Oney, Robert Wadell dan lain – lainnya.

Disinilah kunci kesuksesan John, selain ia juga pawai dalam memimpin, John juga melantik salah satu anggotanya untuk menjadi leader (ketua) anggota anggota lainnya. Itulah yang disebut hukum reproduksi kepemimpinan.

Sehingga semua anggota diberdayakan, akhirnya semua kendari tidak terpusat pada satu kepala saja. Karena, kita telah menggunakan system empowerment, dimana wewenang telah dipercayakan dan dititipkan kepada kepala setiap bagian dan tentunay hal ini dilakukan bertujuan untuk membentuk organisasi yang solid.

  • Mempersiapkan investasi

Persiapan terakhir adalah persiapan investasi. Di sini merupakan persiapan modal yang nantinya harus kita keluarkan untuk menjalankan bisnis franchise.

Setelah ketiga persiapan itu telah siap matang, saatnya kita menyiapkan strategi – strategi dalam memasarkan bisnis franchise. Yang di antaranya adalah:

  • Memberikan kunggulan produk yang bersaing

mengenai hal keunggulan suatu produk adalah suatu hal yan berkaitan dengan kreatifitas. Yang mana, hal ini berkaitan dengan perbedaan produk kita dengan produk saingan lainnya, sehingga menciptakan keunikan yang lain dari pada yang lain. Umumnya konsumen akan memilih produk yang memberikan nilai lebih pada dirinyaa. Oleh karena itu, kita dapat membuat produk yang baru dan sulit untuk ditiru para pesaing. Bila perlu kita dapat menggunakan strategi diferensiasi produk dan kemudian kita fokus untuk menggarap segmen pasar tertentu. Hal ini berguna membidik target konsumen yang ditentukan. Dengan demikian konsumen tidak akan berpaling pada produk lain, dan secara tidak langsung telah menciptakan keunggulan suatu produk dibanding dengan produk lain. Misalnya, dengan banyaknya franchise makanan junk food yang bertebaran di Indonesia, kita dapat menciptakan franchise makanan daerah uang diolah sedemikian rupa. Sehingga dapat menarik konsumen yang mulai bosan dengan makanan junk food dan berpindah ke franchise makanan daerah tersebut. dan hal ini tentunya akan menjadi bahan pertimbangan para franchisee dengan meliihat franchise  makanan daerah tersebut dengan pasar yang jelas.

  • Memperkuat produk merek produk

Untuk memenangkan persaaingan pasar yang semakin padat, kekuatan brand atau merek produk menjadi modal utama untuk memenangkan persaingan yang ada. Karena itu menjaga citra baik perusahaan dan memberikan pelayanan teraik bagi para konsumen adalah hal utama yang harus diperhatikan. Strategi ini secara tidak langsung dapat membangun loyalitas konsumen. Jika kita perhatikan bagaimana membangun citra yang baik ataupun brand nukan hanya sekadar dari promosi dari dalam perusahaan saja, akan tetapi promosi terbaik berasal dari konsumen sendiri. Sehingga pemasaran dapat berjalan dengan sendirinya melalui promosi dari mulut ke mulut para pelanggan.

  • Membuat rencana pemasaran yang kreatif

Selain memberikan produk dan pelayan yang terbaik, dalam memasarkan sebuat produk juga membutuhkan pemasaran kreatif untuk menciptakan daya tarik tertentu bagi para konsumen. Langkah ini dapat dilihat pada sebahian besar bisnis franchise yang saat ini ada di pasaran. Banyak dari mereka sengaja menggunakan both (gerobak) menarik, baju seragam mencantumkan logo dan nama brand yang menonjol untuk menarik minat konsumen, bahkan sampai menggunakan warna cerah untuk menarik konsumen. Sehingga bisnis yang dijalankan lebih menarik dibandding bisnis – bisnis non kemitraan.

  • Pemasaran dengan gencar

Poin ke empat ini tentulah menjadi point penting yang harus diperhatikan dan giat dalam memasarkan franchisenya dengan berbagai media, seperti beiklan di media segmented, mengikuti pameran waralaba, menjadi sponsor, dan sebagainya. Karena menjual franchise bukan proses sekali jadi, buka stand di pameran atau satu kali pasang iklan dan langsung mendapat pembeli. Menjul franchise adalah merupakan rangkaian proses yang terkain, dimulai dari memperkenalkan usahanya, memperhatikan kualitanya meningkatkan mereknya (Brand, melakukan positioning, menetapkan target market investornya dan kemudian mempromosikan franchisenya. Dengan strategi pemasaran tersebut, maka peluang dalam memasarakan produk – produk kita lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan strategi – strategi pemasaran. Selajutnya para pelauku usaha yang menjadi franchisor maupun franchisee dapat terhindar dari kemungkinan gulung tikar yang saat ini banyak dialami pelaku usaha.

Sumber: Franchise. Januari-2018.Hal_.78-79