Sugito_Merajut Desa mandiri di Lereng Slamet Kompas 9 Januari 2017.Hal

Desa Serang, Kabupaten Purbalingga, dilereng Timur Gunung Slamet, dulunya daerah yang sunyi dan miskin dan tertinggal. Namun, tiga tahun terakhir, wilayah itu menjadi magnet wisata alam dan agro di Jawa tengah bagian selatan. Semua tak lepas dari upaya Sugito (48) mengembangkan potensi wilayah sesuai kearifan lokal.

Oleh Gregorius Magnus Finesso

Ingin menyerap dikawasan Best Area Lembah Asri Desa Serang kecamatan karangreja, Purbalingga Jawa Tengah, pertengahan Desember 2016 diteras pengelola tempat wisata berbasis desa itu belasan anak muda sibuk membuat papa-papan petunjuk lokasi dengan sentuhan artistic. “ Saya meminta mereka menumpahkan ide kreatifnya dengan membuat papan-papan petunjuk lokasi wisata. Daripada Nganggur. Kalau disini paling enggak ada makan siang” Kata Sugito kepala desa serang sekaligus penggerak Rest Area Lembah Asri, mengawali pembicaraan. Ia menceritakan awalnya tidak mudah merangkul warga dalam kegiatan pariwisata.  Ia perlu waktu enam tahun untuk meyakinkan mereka. Pada akhirnya mereka tertarik juga terlibat. Sugito lahir di Desa Serang. Ia pernah merantau dan bekerja diperusahaan sawata nasional yang bergerak dibidang agroindustri. Hidupnya dikata sudah cukup mapan. Namun, hatinya sering gusar melihat kemiskinan membelenggu warga desanya. Padahal desa tersebut dianugerahi tanah subur dan keindahan alam. Pada suatu titik ayah dua anak itu tergerak membantu warga keluar dari belenggu kemiskinan ia pun memilih berhenti bekerja dan pulang ke kampungnya yang terletak sekitar 7 kilometer di lereng timur puncak Gunung Slamet. Berbekal pengalaman kerja ditempat sebelumnya, Sugito mencoba menggerakkan warga lewat pertanian. Ia memperkenalkan sistem pertanian terpadu. Ia mengajarkan cara bercocok tanam yang baik dan cara beternak kambing etawa dan kelinci. Ia mesti mencairkan tabungan pribadinya untuk dipinjamkan segabagi modal kepada warga yang tertarik beternak dan mengembangkan pertanian. Selanjutnya ia mengajak warga menanam stroberi yang belakangan menjadi salah satu tanaman unggulan agrowisata di Desa Serang. Awalnya ia membawa sejumlah bibit stroberidari wilayah Ciwidey, Bandung Jawa Barat. “ Saya yakin bibit stroberi darisana bisa ditanam di Desa Serang karena kondisi iklim dan tanahnya mirip” katanya.melihat kiprah Sugito pada 2007,ia didaulat warga untuk maju kepemilihan kepala desa setempat, setelah terpilih sebagai kepala desa, Sugito kian getol memperjuangkan kemajuan Serang. Ia kembangkan Serang sebagai sentra sayur-mayur di Purbalingga. Sugito pun menjadikan Serang sebagai desa wisata. Awalnya, ia membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan mengunggulkan wisata pemetik stroberi. Beberapa warung makan dibangun ditepi jalan desa yang juga jalur utama menuju pos terakhir jalur pendakian Gunung Slamet dari Purbalingga.

Lurah Tanpa Bengkok

Awal 2010 pemerintah kabupaten Purbalingga menetapkan Desa Serang sebagai desa wisata pertama di daerah yang hingga pertengahan 2000-an menjadi salah satu daerah di Jawa Tengah yang paling banyak memasok pembantu rumah tangga kesejumlah daerah. Namun, perkembangan wisata Desa Serang itu tidak berjalan mulus. “Banyak konflik internal ditubuh Pokdarwis. Pengurusnya kurang fungsional.” Kata Sugito. Hal itu berbuntut pada penurunan pelayanan wisata. akhir 2010 Sugito berinisiatif membentuk badan usaha milik desa (BUMDes). Baginya, pengelola wisata melalui badan usaha bakal lebih profesional. Ia mengajak sejumlah warga urunan untuk membeli beberapa wahana permainan “ Saat itu terkumpul 50 juta. Kami beli flying fox dan motor ATV.” Katanya. Pada 2013 Sugito berinisiatif membuka kompleks wisata memamfaatkan tanaman bengkok seluas 1,3 hektar yang semestinya berhak ia gunakan.  “Enggak ada gunanya kalau saya nikmati sendiri (tanah bengkok) lebih bermamfaat jika dipakai untuk kemakmuran warga.” Ujarnya. Namu tidak mudah bagi Sugito menggerakkan warga ikut membantu pembangunan kawasan yang kemudia disebut Rest Area Lembah Sari tersebut. Sugito tidak menyerah. Ia sabar melakukan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat. setelah ia bisa mengajukan beberapa contoh warga yang sukses dari pariwisata perlahan pandangan warga lainnya berubah. Akhirnya, secara sukarela warga mau menyumbang bamboo dan alang- alang untuk membuat bangunan gajebo. Mereka juga membangun jalan dikawasan kompleks wisata secara swadaya. Menurut Sugito saat itu ada 1000 orang lebih yang datang bergotong royong. Sugito menekankankemandirian dalam membangun desa. Dia menolak dua bantuan Program Nasional Pembrdayaan Masyarakat yakni usaha ekonomi produktif dan simpan pinjam perempuan. Baginya urusan utang piutang akan menimbulkan masalah. Dia tidak ingin terjadi kasus kemacetan pelunasan simpanan yang bisa berdampak buruk pada rasa kebersamaan dan sikap gotong royong. Sikap Sugito di dukung warga.

Hidupkan Tradisi

Melalui BUMDes, promosi agrowisata Desa Serang dilakukan lebih massif lewat media konvensional ataupun media social. Media juga menghidupkan kembali tradisi budaya yang dikemas menjadi paket wisata. salah satunya perhelatan festival Gunung Slamet yang telah digelar dua kali sejak 2015. “ Dalam festival ada prosesi pengambilan air dan perang tomat. Tradisi itu sejak dulu memang ada kami jadikan daya tarik wisata.” Agar wisatawan nyaman berkunjung, Sugito mempercantik wajah desa melalui program PKK, seluruh warga diwajibkan menanam sayur-mayur dipekarangan rumah. Desa pun terlihat semakin asri. Inovasi-inovasi itu terbukti meningkatkan pendapatan desa dari sektor wisata. jika 2012 pendapatan asli desa dari wisata baru sekitar 7 juta pada 2016 melonjak menjadi 125 juta. Rest Area Lembah Sari tidak pernah sepi pengunjung.

BUMDes Serang kini memiliki 5 unit usaha yakni pariwisata, pertanian, peternakan, pengelolaan air, dan lembaga keuangan mikro. Warga serang yang dulu banyak merantau menjadi pembantu rumah tangga kini hidup mandiri di desa. Belakangan ia kembali berinovasi dengan membuka investasi berupa penjualan saham senilai RP 10 juta perlembar melalui BUMDes. Hasilnya hingga akhir 2016, terkumpul RP 600 juta dari seluruh warga Serang. Investasi itu akan dikelola untuk membangun taman labirin dan membangun wahana sepeda air, bianglala dan sepeda udara. Dengan penambahan sejumlah wahana wisata, Sugito menargetkan kunjungan wisatawan yang saat ini sekitar 110.000 orang pertahun bisa menjadi 15.0.000 orang. pendapatan asli desa ditargetkan Rp 1 miliar pada tahun 2018. Kisah sukses desa yang dihuni 2430 keluarga ini mengilhami pemerintah kabupaten Purbalingga  setahun terakhir giat mengembangkan desa-desa wisata lain. Sugito Kini berbangga perekonimian desa yang digerakkan pariwisata tumbuh tanpa mengikis kearifan local. Mereka membuktikan mampu hidup mandiri dengan potensi yang dianugerahkan Sang Pencipta sedari mula.

 

Sumber : Kompas, 9 Januari 2017. Hal 16