Selama bertahun – tahun ini, komik Jepang dan Amerika Serikat dengan “Superhero”-nya mendominasi Indonesia. Gelisah terhadap situasi ini, Sukaryadi “Lolo Biru” (32) mengembangkan komik dengan pahlawan lokal. Ia ingin generasi muda kian bangga terhadap bangsanya. (Oleh Erwin Edhi Prasetya)
Lolo, yang memiliki nama asli Sukaryadi, melahirkan komik perdananya pada Agustus 2015. Dua komik superhero lokal karyanya, yaitu Biru Putera Langit dan Executor diproduksi massal dan telah terjual sekitar 2.000 eksemplar. Biru merupakan hasil kolaborasi dengan ilustrator komik Dicky Maulana, sedangkan Executor berkolaborasi dengan ilustrator Aris Naka Abee dan Mas Poer.
Lolo kini tengah menyiapkan edisi bahasa Inggris kedua komik itu. “Ada permintaan dari penggemar komik di Australia, Singapura, dan Filipina sehingga dibuat versi bahasa Inggris,” ujarnya saat ditemui di rumahnnya di Mojolaban, Sukoharjio, Jawa Tengah, pertengahan November lalu.
Biru Putera Langit mengisahkan kepahlawanan Punta atau Biru Putera Langit yang berjuang menjaga kedamaian Bumi. Biru memiliki kemampuan terbang, bahkan mengendalikan petir sebagai senjatanya. Ia punya kekuatan super karena merupakan anak dari Raja Langit bernama Dirgantara dengan Ibu seorang manusia, Pertiwi.
Executor mengisahkan sosok Caka. Pahlawan lokal ini memiliki senjata andalan berupa bumerang pemberian tetua suku Dayak. Kedua komik itu mengambil latar era modern.
Komik Baru
Setelah melahirkan dua komik itu, Lolo memproduksi komik baru dengan tokoh berbeda. Ia menciptakan karakter Ayu Srikandi dan membuat komik Gatotkacareo. Ayu dikisahkan sebagai perempuan muda cantik bernama Sekar Ayu. Ayu adalah anak Profesor Candra, ilmuwan yang dalam komik Gatotkacareo diceritakan membangkitkan kembali Gatot Kaca dari mati suri.
Ayu piawai menggunakan senjata panah sehingga dijuluji Srikandi. Anak panahnya canggih sehingga bisa melumpuhkan penjahat dengan berbagai cara: menebarkan gas bius, mengluarkan jaring yang kuat, atau bermedan magnet.
Komik Gatotkacareo dalam edisi perdana, yang berjudul Reborn, Lolo memodifikasi kisah Mahabharata. Diceritakan tentang Gatotkaca yang kembali siuman setelah mati suri akibat bertarung dengan Adipati Karna dan terkena senjata Kunta Wijaya dalam perang Bharatayudha.
Setelah terkena Kunta Wijaya, Gatotkaca terlempar jauh hingga ke Gunung Lawu di Karanganyar, Jawa Tengah. Tubuhnya tercebur dalam lava pijar di perut Gunung Lawu. Namun, justru lava itu menyusupkan kekuatan untuk bertahan hidup, seperti ketika ia dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka.
Kisah melompat era saat ini ketika Prof Candra sedang melakukan ekspedisi di Gunung Lawu. Ia terperosok dalam lubang dan secara tidak sengaja menemukan tubuh Gatotkaca terselimuti lava pijar. Dengan bantuan teknologi, ia memulihkan tokoh itu dan memberinya kostum modern, hasil modifikasi dari baju klasik
Gatotkaca modern berkekuatan super. Kostumnya mirip superman, dengan topeng kecil di bagian mata sehingga mirip Robin. Ia juga digambarkan berotot kekar, berbadan tegap, berambut pendek, dengan kostum yang ketat.
Ayu Srikandi, selain cantik, digambarkan memiliki rambut sebahu yang dibiarkan terurai. Kostumnya juga ketat berwarna biru dengan lambang anak panah di bagian depan, mengenakan rok pendek, dan bersepatu bot merah setinggi hampir selutut.”Kalau menggambarkan gatotkaca dalam pewayangan, akan sulit diterima kalangan. Jadi, kami sesuaikan dengan tema sekarang dan latar cerita zaman modern,” katanya.
Meskipun gambarnya bergaya layaknya komik Amerika, latar tempat tetap dibuat berada di Indonesia, seperti Kota Solo, Jakarta, dan Yogyakarta. Dengan begitu, pembaca lebih merasakan kedekatan emosional dibandingkan saat – saat menikmati komik –kmoik impor.
Lolo juga melahirkan komik Anoman yang juga mengadopsi cerita Wayang, serta komik untuk anak – anak, yakni Global Heroes, yang bergaya komik Jepang. Semuanya bersemangat mengusung pahlawan lokal.
Berimajinasi
Lolo menyukai komik sejak di bangku Sekolah Dasar. Ia sangat suka Superman, Gundala Putera Petir, Godam, Batman, dan juga Dragon Ball. Aksi – aksi pahlawan super asing itu memenuhi runag imajinasinya. “Imajinasi itu terbawa sampai saya besar hingga kemudian mulai koleksi komik dari sejumlah negara, termasuk komik indie,” katanya.
Beberapa tahun belakangan, di saat komik Indonesia mulai bangkit dari tidur panjangnya, Lolo melihat negara ini krisis komik superhero lokal. Indonesia terlanjur dikuasai komik asing, terutama manga dari Jepang atau komik Amerika.”Superhero Jepang dan Amerika mendominasi sehingga kepikiran untuk membuat superhero Indonesia yang kemasannya beda dengan komik jaman dulu,”
Lolo mulai merintis dengan menyiapkan konsep komik di tahun 2014. Ia melakukan riset mandiri soal karakter tokoh, cerita, dan gaya komik yang akan dikembangkan. Setahun penuh melakukan persiapan, ia akhirnya meluncurkan pahlawan kreasinya. Selain menggambar sendiri, ia juga menggandeng para ilustrator untuk mewujudkan ide – ide nya.
Semua komik karyanya diluncurkan dalam warna penuh kertas mengilap. Harapannya, penggemar benar – benar bisa menikmati gambar dan cerita yang hidup. Komik dicetak dengan standar ukuran Amerika, yakni 17 sentimeter x 26 sentimeter. Komik buatan Supermoon Comics dijual seharga Rp 35.000 per eksemplar yang terdiri atas 28 halaman.
Selain dipasarkan langsung melalui pameran – pameran, komik itu juga dijual secara daring. Ia juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook, twitter, dan Instagram untuk promosi. Komik – komik terbarunya, selain Biru dan Executor edisi 1, hingga kini telah terjual sekitar 3.000 eksemplar.
Dalam wadah Supermoon Comics, Lolo menggandeng tujuh mitra kerja yang masing – masing memiliki tugas khusus sesuai dengan keahliannya, seperti sebagai ilustrator, pewarna, editor, dan bagian promosi. Ia menjadikan tempat tinggalnya di Mojolaban, Sukoharjo, merangkap sebagai tempat kerja karena belum memiliki studio khusus. Ilustrator, Colorist, dan Editor juga bekerja secara terpisah. “Kami belum memiliki percetakan sendiri sehingga pencetakan komik diserahkan kepada pihak lain,” katanya.
Lolo berharap, komik Indonesia yang kembali bergairah menyentuh hati masyarakat di Nusantara dan mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Harapan terbesar saya, anak – anak Indonesia memiliki superhero di dalam negeri sendiri,” ujarnya
Nama : Sukaryadi
TTL : Grobogan, 19 Oktober 1984
Riwayat Pendidikan :
- SD Kristen purwodadi, Grobogan (1991-1997)
- SMP Kristen Purwodadi, Grobogan (1997-2000)
- SMA Kristen Purwodadi, Grobogan (2000-2003)
- Pertelevisian, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta (2003-2008)
Istri : Novita Indrasari
Anak : Alecia Aiko Kirani , Acitia Jingga Kirani
Pekerjaan : Karyawan Swasta, Pendiri, Penulis, Editor, Creator Design Comics Supermoon Indonesia
Penghargaan : Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Award 2015 kategori Young Creative People.
Sumber : Kompas, Sabtu 17 Desember 2016

