Srikandi Forensik Indonesia. Kompas.26 Agustus 2015.Hal.16

Pada 2000,ketika mengikuti sebuah operasi di tempat kejadian pembunuhan, Kepala Satuan Reserve Kriminal Poltabes Semarang Ajun Komisaris Purwo Lelono menyarankan dirinya untuk fokkus pada budang forensik. Apalagi, ketika itu belum ada dokter forensik perempuan di kepolisian. Hastry yang ketika itu masih mengenyam pendiikan Sekolah Perwira Polisi langsung mengikuti saran tersebut.

OLEH MUHAMMAD IKHSAN MAHAR

Itulah kisah yang diceritakan Ajun Komisaris Besar Sumy Hastry Purwanti (45) saat mengenang awal keterlibatannya di dunia forensik dan bergabung dalam berbagai operasi tim Identifikasi Korban Bencana atau Disaster Victim Identification (DVI) Polri.

Sekitar 13 tahun berkiprah di dunia forensik, Hastry telah terlibat dalam 24 penugasan, dua di antaranya kasus international, yaitu identifikasi korban kebakaran pesawat MH17 di Amsterdam, Belanda (2014).

“Ketika mendapat saran itu, saya termotivasi karena keahlian forensik ketika itu belum dimiliki polwan lain. Saya adalah polwan pertama yang menjadi dokter forensik,” ujarnya saat ditemui di Rumah sakit Bhayangkara R Said Sukanto, Jakarta, akhir Juli lalu. Meski bertugas di Semarang, ia kerap berdinas di Ibu Kota.

Tugas perdananya di bidang forensik ketika mengidentifikasi korban bom Bali I pada 2002. Ketika itu, ia hanya bermodalkan kemampuan dokter umum. Dalam penugasan itu, ia merupakan perempuan pertama dari anggota tim forensik asal Indonesia.

Penugasan pada kasus bom Bali I juga menjadi titik balik bagi dunia forensik Indonesia. Sebab, tim tersebut baru mengetahui adanya bidang DVI yang khusus berkecimpung dalam proses penangana jenazah, tidak sekadar ilmu kedokteran forensik yang berkaitan untuk pengungkapan penegakan hukum.

Seusai bertugas dalam kasus bom Bali I, Hastry bertekad untuk berkecimpung di dunia forensik. Karena itu, ia melanjutkan studi di bidang kedokteran forensik di Universitas Diponegoro pada 2002-2005.

Meski sedang belajar, ia juga masih bertugas seperti mengidentifikasi korban bom Kedutaan Besar Australia di Jakarta (2004), kecelakaan pesawat Mandala di Medan (2005), dan bom Bali II (2005).

Kursus resmi di bidang DVI ia dapatkan setelah peugasan bom Bali II. Ia mengikuti kursus DVI di Singapura pada 2006. Selain DVI, ia juga mendapatkan pendidikan spesialisasi lainnya, seperti kursus DNA di Malaysia (2007) dan kursus identifikasi luka ledakan di Perth, Australia (2011). Untuk memperdalam ilmu DVI dan berbagai pengalaman dengan komunitas DVI internasional, Hastry juga telah mengikut sejumlah pertemuan ahli forensik dunia, misalnya di New Delhi, India (2010), Chicago AS (2011), Den Haag, Belanda (2012), dan Lyon, Perancis (2014).

Sabar dan tekun

Tugas sebagai pengidentfikasi jenazah, menurut Hastry, meemrlukan kesabaran dan ketekunan. Pasalnya, kesalahan identifikasi dapat berakibat fata; bagi rang lain yang ternyata divonis sebagai korban sebuah kecelakaan.

“Saya lebih memilih tidak mengidentifikasi jenazah dibandingka melakukan identifikasi yang salah,” katannya.

Ketelitian, kehati-hatian, dan penggunanaan cara ilmiah yang tepat akan menentukan akurasi identifikasi, ia memastikan tidak terlalu sulit untuk mengetahui penyebab kecelakaan dan korban.

Soal fasilitas dan kualitas sumber daya manusia, Hastry mengatakan, tim DVI Indonesia mampu bersaing dengan tim internasional yang telah lebih dulu mengenal teknik DVI. Hanya saja, tim Indonesia terkendala dengan keinginan keluarga dan merintah yang selalu ingin mengeathui hasil dentifikasi itu secepat-cepatnya.

“Ada dugaan, kami mempersulitlah. Padahal, semua membutuhkan proses agar hasil idntifikasi kami dpat dipertanggungjawabakan. Di luar negeri, pemerintah dan pihak keluarga tidak pernah mendesak untuk dipercepat, mereka telah memahami cara kerja lami,” tutur ibu dua anak itu.

Pada pengidentifikasi korban MH17 di Belanda, ia relah meninggalkan keluarga selama tiga minggu serta meninggalkan masa-maa Ramadhan bersama untuk fokus bertugas.

Bahkan, ketika terlibat identifikasi korban pesawat Airasia QZ 8501, ia bekerja selama dua bulan penuh. Dalam tugas itu, Hastry menghabiskan waktu di tiga kota, yakni Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah), Semarang (Jawa Tengah), dan Surabaya (Jawa Timur).

Hastry juga selalu berkontribusi dalam setiap kasus di Tanah Air, di antaraya bencana gempa bumi Yogyakarta (2006), bom Hotel JW Marriott, Jakrta (2009). Identifikasi jenazah teroris Noordin M Top (2009), gempa bumi Padang, Sumatera Barat (2009), kecelaaan pesawat Sukhoi SSJ0100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat (2012), dan kecelakaan pesawat Hercules TNI AU di Medan, Sumatera Utara (2005).

Atas sejumlah keberhasilannya dalam pengungkapan identitas korban berbagai kasus kecelakaan dan bencana alam di Indonesia, ia dipercaya bergabung dengan tim DVI international dalam identifikasi orban pesawat Malaysia Airlines MH17. Ia menjadi polwan DVI pertama yan bertugas di level international.

Selain itu, ia pun telah menerima sejumlah enghargaan atas dedikasinya itu, seperti penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2010, serta penghargaan dari Kepala Polri Jenderal (Pol) Badrolin Haiti pada 2015.

Sekitar 13 tahun berkiprah di dunia forensik, tak sehari pun ia melepaskan diri dari keahliannya itu. Kalau tidak sedang sibuk bergelut dengan kasus, ia menyempatkan berbagi ilmu sebagai pengajar di Universitas Islam Sultang Agung Semarang, dan Perguruan Tinggi Ilmu Kerpolisian.

Di keluarga, Hastry merupakan anggota keluarga pertama yang jadi polisis. Keputusan menjadi polisis karena ia ingin memiliki ikatan dinas yang pasti sebagai dokter. Keputusan itu juga didukung sebagai pegawai swasta.

Hastry masih menyimpan hasrat untuk kembali menjalani penugasan international. Selain itu, kini ia juga tengah menyelesaikan buku ketiganya yang akan mengisahkan pentingnya otopsi dalam upaya penyidikan kasus. Sebelumnya, ia telah berbagi penglaman dan ilmunya dalam dua buku tentang forensik dan kisahnya dlam penanganan sejumlah kasus.

Sumber: Kompas.26-Agustus-2015.Hal_.16