Surabaya Jadi Pusat Percepatan Pendidikan Dokter Spesialis, 9 Program Baru Diluncurkan
22 Februari 2026
SURYA.CO.ID, Surabaya — Kemdiktisaintek RI meluncurkan sembilan program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di tiga perguruan tinggi swasta Surabaya. Langkah ini mempercepat pemenuhan tenaga medis sekaligus memperkuat distribusi dokter spesialis di berbagai wilayah Indonesia.
Secara keseluruhan, terdapat sembilan program PPDS baru yang mencakup berbagai bidang strategis yang diluncurkan di Kampus B Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Sabtu (20/2/2026).
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Prof. Dr. Khairul Munadi menegaskan bahwa pemerintah melalui arahan Menteri telah membentuk tim percepatan untuk pemenuhan program PPDS baru di berbagai wilayah Indonesia.
Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini pemerintah telah menghasilkan sekitar 160 program PPDS baru yang tersebar di berbagai daerah, termasuk wilayah yang sebelumnya belum pernah memiliki PPDS.
“Melalui arahan Menteri, kami membentuk tim percepatan untuk pemenuhan program PPDS baru ini. Alhamdulillah sampai hari ini kita sudah menghasilkan sekitar 160 program PPDS baru yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk beberapa daerah yang baru pertama kali membuka program spesialis,” ujarnya.
Menurut Khairul, pengembangan program PPDS dilakukan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan serta memperkuat kemitraan antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sektor kesehatan.
“Penguatan kemitraan terus dilakukan dengan melibatkan berbagai stakeholder, sehingga banyak program PPDS kini dibuka di perguruan tinggi swasta,” katanya.
Ia menjelaskan, pemerintah juga berkoordinasi dengan sektor kesehatan untuk memastikan penyelenggaraan pendidikan berjalan selaras dengan kebutuhan layanan medis di lapangan.
“Sejak awal peserta didik sudah ditargetkan untuk memenuhi kebutuhan yang ada di daerah atau rumah sakit, sehingga ketika menyelesaikan pendidikan sudah jelas peruntukannya,” jelasnya.
Selain itu, program percepatan PPDS diharapkan memperkuat interaksi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam memetakan kebutuhan tenaga medis, sehingga kekosongan layanan kesehatan di berbagai wilayah dapat segera terisi.
“Walaupun akselerasi, mutu dan kualitas harus dikedepankan karena menyangkut keselamatan pasien dan nyawa manusia. Karena itu akan ada monitoring dan evaluasi serta penguatan berkelanjutan,” tegasnya.
Ia menambahkan, program PPDS baru juga mendapat pembinaan dari universitas mitra yang telah lebih dulu memiliki pengalaman dalam pendidikan spesialis.
“Kami berharap program studi baru ini mendapatkan pembinaan langsung dari universitas yang sudah mapan sebagai bagian dari tanggung jawab universitas mitra,” katanya.
Strategi Pemerataan dan Kolaborasi
Ketua Tim Kajian Kebijakan Pendidikan Tinggi Tenaga Medis, Tri Hanggono Achmad, menjelaskan bahwa pembukaan PPDS baru menjadi strategi pemerintah untuk mengatasi ketimpangan distribusi dokter spesialis.
Menurutnya, saat ini pembukaan program spesialis tidak lagi terpusat di Pulau Jawa. Sebanyak 11 provinsi baru, mayoritas di luar Jawa, untuk pertama kalinya membuka pendidikan dokter spesialis.
“Ini salah satu strategi untuk mengatasi distribusi tenaga medis, karena pendidikan spesialis kini tidak lagi terkonsentrasi di Pulau Jawa,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan semakin banyak rumah sakit dan perguruan tinggi yang dilibatkan dalam penyelenggaraan PPDS, tidak hanya perguruan tinggi negeri seperti sebelumnya.
Pemerintah juga membuka peluang bagi peserta dari berbagai daerah, dengan afirmasi bagi tenaga medis yang telah mengabdi di wilayah tertentu.
“Formasi tersedia bagi siapa saja melalui seleksi, namun ada afirmasi bagi mereka yang telah terbiasa mengabdi di daerah karena biasanya retensinya lebih baik,” jelasnya.
Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh menilai peluncuran bersama PPDS menjadi langkah strategis dalam memperkuat kapasitas layanan kesehatan nasional.
Ia menegaskan kolaborasi antarperguruan tinggi menunjukkan peran sentral institusi pendidikan dalam menjawab kebutuhan strategis bangsa.
“Kita menyadari Indonesia masih kekurangan dokter spesialis di berbagai bidang penting. Melalui pembukaan sembilan program PPDS ini, kami berkomitmen mempercepat pemenuhan tenaga dokter spesialis yang kompeten, beretika, dan siap mengabdi di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.
Menurut Nuh, kolaborasi tersebut tidak sekadar menambah program pendidikan, tetapi juga merupakan gerakan bersama untuk memperkuat sistem kesehatan nasional, menghasilkan dokter spesialis yang unggul secara klinis, adaptif terhadap perkembangan teknologi medis, serta memiliki kepedulian sosial terhadap kebutuhan masyarakat.

