
Bagi surasa ripto pramono, menjadi pelaku usaha tidak hanya untuk mengejar kesejahteraan dan kebahagiaan diri sendiri. Perajin batik asal desa ngentakrejo, kecamatan lendah, kabupaten kulon progo, DI Yogyakarta itu ingin semua pekerja yang terlibat dalam usahanya mencicipi kebahagiaan dan kesejahteraan serupa.
Surasa mewujudkan visinya itu denngan memberi ruang seluas luasnya bagi setiap pekerja untuk menentukan besaran upahnya sendiri. Dengan cara itulah, dia meyakini semua pekerja bisa bekerja dengan tenang dan gembira.
“kegembiraan, kebahagiaan mereka adalah bagian dari modal abadi saya untuk terus menjalankan usaha,” ujarnya akhir juni lalu.
Masalah upah disadarinya menjadi hal yang sangat sensitive dan memengaruhi kenyamanan bekerja. Jika memaksakan nilai upah sesuai keinginannya, surasa khawatir pada akhirnya dia hanya akan mendengar bisik bisik ketidakpuasan pekerja.
“ketidakpuasan karyawan akan sangat mengganggu dan membuat saya menjadi merasa bersenang senang diatas penderitaan orang lain,” katanya.
Surasa mempekerjakan 12-14 pekerja. Untuk pekerja harian yang bertugas melakukan pewarnaan, dia memberikan upah Rp 75000 perhari, sedangkan mereka yang terlihat membatik dengan canting diberi upah Rp 8000-Rp 50000 per potong, bergantung pada tingkat kerumitan. Namun, nominal upah itu masih bisa berubah,bergantung pada tingkat kesukaran dan banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan.
Surasa mengatakan, dirinya berpatokan pada nilai upah minimum kabupaten (UMK). Ketika dihitung hitung besaran upah yang di minta pekerja melebihi nilai UMK, dia dan pekerja bernegosiasi lagi. Dengan sikap dan keterbukaan surasa, pekerja biasanya tidak terlalu ngotot mengejar upah yang diminta. Negosiasi seperti itu, kata surasa, hanya terjadi sesekali selama tiga tahun ia menjalankan usaha. Kebebasan pekerja menegosiasikan upah sengaja diberikan karena surasa sendiri berprinsip dalam bekerja setiap orang berhak merasa merdeka. “ketika orang sudah merdeka mencurahkan segenap kemampuannya dalam bekerja, dia berhak bebas merdeka menentukan upahnya,” ujarnya.
Dengan membahagiakan para pekerja, kebahagiaan sebagai majikan bisa lebih mudah diraih. Surasa mengatakan telah mengalaminya sendiri sehingga dia merasa tenang menjalankan usahanya. Semua pekerja yang ia rekrut sejak merintis usaha sampai sekarang betah bekerja bersamanya.
Memulai usaha
Surasa tak memiliki pengalaman menjadi pekerja, buruh penerima upah. Selama puluhan tahun, dia terbiasa mencari nafkah dengan berwiraswasta, memanfaatkan potensi diri dan yang ada di sekelilingnya.
Awal tahun 1980-an, dia membangun usaha sendiri dengan menjadi penjahit baju. Sembari menjalankan aktivitas tersebut, dia juga menjalankan usaha mengelola lahan parker serta menjadi makelar sepeda motor dan mobil. Namun, semua berantakan ketika gempa mengguncang wilayah DIY pada 2006, termasuk desa tempat tinggalnya. Aktivitas perekonomian di desa mati karena banyak rumah warga roboh. Tidak ada satupun warga yang mampu langsung bangkit bekerja atau menjalankan usaha, dan mayoritas dari mereka akhirnya hanya hidup dengan mengandalkan bantuan dari donatur. Ketika itulah, surasa berinisiatif membuat posko bantuan dan sibuk menjalani aktifitas membantu warga dan tetangga yang menjadi sesame korban gempa. Tahun 2007-2010, selain disibukkan dengan aktivitas pemulihan pascagempa, ia juga sibuk membangun kembali usaha milik keluarga di kecamatan imogiri, kabupaten bantul yang juga kolaps oleh gempa.
Setelah situasi mulai membaik, dia berpikir untuk kembali membangun usahanya sendiri. Ia melirik usaha batik yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. Ia berharap kain batik yang dihasilkan bisa menghidupkan usaha jahitnya kembali. Hanya berbekal keinginan kuat, ia memberanikan diri mulai usaha kerajinan batik. “waktu itu, bisa dibilang modal saya Cuma nekat,” ujarnya sembari terkekeh.
Ia pun menjual sepede motornya seharga Rp 8,8 juta. Uang itu dipakai sebagai modal awal, membeli dan membiayai segala hal yang diperkirakan akan dibutuhkannya saat belajar dan memulai usaha membatik. Menerjuni dunia yang sama sekali baru, surasa mempelajari semuanya secara otodidak. Untuk memudahkan usahanya, ia menyusun daftar semua detail penting menyangkut batik, mulai dari belajar desain, menggunakan canting, mewarnai hingga teknik finishing. Dia lantas mencari cari orang yang ahli dibidang kerajinan batik untuk belajar segala hal tersebut dari mereka. Untuk membuat batik cap,misalnya dia menyempatkan diri belajar dari perajin batik asal kabupaten bantul selama 3-4 minggu.
Selama proses belajar tersebut, dia mengembangkan relasi, memperkaya relasi dengan melakukan survey, serta mencari took took kain mori dan lilin yang menjual produk berkualitas untuk bahan baku di Yogyakarta, solo dan pekalongan. Tahun 2011, setalah merasa pengetahuan dan keterampilannya cukup, surasa mulai serius menjalani usaha batik. Ketika itulah dia memulai dengan tiga pekerja dan tiga orang lagi khusus sebagai tenaga yang bekerja membatik menggunakan canting. Sambil menjalankan usaha, dia terus belajar dan memperdalam ilmunya. Bermula dengan membuat motif batik gebleg renteng, motif khas kulon progo, dia kini berhasil mengembangkannya menjadi 50 motif batik
Berkah
Setelah tiga tahun menjalani usaha, surasa berkeinginan menyebarkan mina dan keahlian membatik kepada orang lain. Tahun ini, dia menawarkan program belajar membatik kepada pemerintah desa kalangan masjid, ibu ibu PKK dan aktivis gereja di desanya secara gratis. Surasa juga tidak menarik biaya dari siswa siswa SMK yang kebetulan menjalankan praktik kerja lapangan (PKL) di rumahnya. Padahal dalam satu tahun, dia biasa menerima dua hingga tiga kelompok beranggotakan tiga hingga lima orang.
Sama seperti yang dilakukan untuk pekerjanya. Ia membatik secata gratis demi berbagi kebahagiaan dan berkah kepada lingkungan disekitarnya. “tidak perlu khawatir akan disaingi karena rezeki tiap orang, baik saya,para pekerja , siswi PKI, maupun warga lainnya sudah diatur porsinya masing masing oleh Tuhan,” ujarnta sembari tersenyum.
Sumber: Kompas, Sabtu 1 Juli 2017
