Menjadi peneliti kanker, yang justru didiagnosis kanker usus, mengubah renjana Susanti (39) sebagai ilmuwan. Susanti sebagai penyintas kanker usus stadium 3 di usia muda membulatkan tekad untuk menjawab pertanyaan mengapa penderita kanker jenis ini semakin banyak dari usia muda.
Tak berhenti sebagai ilmuwan, Susanti juga mendirikan startup atau usaha rintisan di bidang diagnostik molekuler, yaitu PathGen Diagnostik Teknologi untuk menguatkan deteksi dini dan pencegahan kanker usus di Indonesia.
Keahlian Susanti bersama tim peneliti Nottingham-Indonesia Collaboration for Clinical Research and Training (NICCRAT), yang dibentuk tahun 2019 yang terbiasa memanfaatkan diagnostik molekuler, juga berperan besar pada masa pandemi Covid-19. Dia bersama tim NICCRAT, termasuk di dalamnya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), membantu pelatihan untuk tenaga laboran dan peneliti menjalankan tes PCR dan tes sequencing.
Sejak 2005, Susanti menjadi dosen di Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jawa Tengah. Ketika melanjutkan S-2 ke Australian National University, Canberra, dia mendalami program biomedik dan melakukan riset angiogenesis tentang pembentukan pembuluh darah baru yang dibutuhkan untuk sel kanker berpindah tempat. Dia masih ingin mendalami risetnya dan berhasil mendapat beasiswa doktor di universitas yang sama. Dia terpilih dalam top 20 kandidat yang mendapat beasiswa The Australian Prime Minister Endeavour Postgraduate Award.
Jatuh sakit
Susanti memutuskan pulang ke Indonesia dulu sebelum menetap kembali di Australia. Saat itulah dia sakit dan tahun 2014 dinyatakan menderita kanker usus stadium 3.
“Sebagai ilmuwan yang meneliti kanker, lalu menderita kanker, pertanyaan pertama saya, juga umumnya penderita kanker, mengapa saya? Apalagi, dari jurnal ilmiah, penyakit itu umumnya muncul di usia 60-70 tahun,” kata Susanti, yang saat dihubungi ada di Nottingham, Inggris, Minggu (6/6/2021).
Susanti pun memutuskan berobat di Yogyakarta. Ia tak menjalani uji genetik, padahal dari riset global sekitar 20 persen penderita kanker di usia muda akibat kelainan genetik. Layanan kesehatan di Indonesia yang diterimanya belum sampai ke sana.
Saat itu, Susanti sempat bimbang hendak melanjutkan studinya atau tidak. Berkat dukungan suami, Ciptoaji, dia memilih untuk riset tentang kanker usus guna menjawab pertanyaan dan rasa penasarannya sebagai penyintas.
Akan tetapi, ia batal ke Australia setelah mendapat beasiswa dari Islamic Development Bank untuk kuliah di Nottingham University. Secara global, pasien kanker usus di usia muda berkisar 8 persen, tetapi trennya makin meningkat. Di Indonesia, kasusnya lebih tinggi, berkisar 35-40 persen.
Dalam kasus kanker usus, sekitar 20 persen pasien muda diketahui akibat kelainan genetik. Namun, sekitar 80 persen karena faktor lain yang belum jelas membuat Susanti ingin menyingkap misteri ini.
Apalagi, di Inggris, Susanti menjalani pemeriksaan dengan diagnostik molekuler. Hasilnya, kasus Susanti bukan karena keturunan atau kelainan genetik.
Susanti lalu melakukan riset. Sejauh ini riset yang dilakukan masih melihat genetik. Jika ada kelainan genetik tertentu, peluang menderita kanker usus di usia muda lebih tinggi. Dari riset bisa jadi ada kelainan genetik lain yang belum diketahui. Bisa juga mengarah mekanisme imun dari seseorang sehingga sel kanker lebih cepat berkembang.
“Kalau nanti dari pertanyaan ini tidak ada kelainan genetik lain, sel imun tidak ada perbedaan, baru melihat ke faktor risiko lain, seperti makanan, rokok, ataupun paparan radiasi,” ujar Susanti.
Jembatan bagi dunia riset
Bagi Susanti, meriset kanker usus memberikan pelajaran banyak hal. Deteksi dini menjadi hal penting. Dengan diagnostik molekuler, pasien kanker usus bisa terbantu mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kondisinya. Jika karena keturunan, anggota keluarga lain juga bisa segera mendapatkan deteksi dini untuk pencegahan.
Susanti bersama tim NICCRAT menghasilkan kit tes diagnostik molekuler untuk mendeteksi kondisi pasien kanker usus dengan biaya lebih murah. Dia membayangkan kit tes itu bisa didapat di rumah sakit umum daerah dengan memanfaatkan mesin PCR untuk tes Covid-19. Pemeriksaan butuh jaringan tumor pasien.
Maka, Susanti mendirikan startup PathGen Diagnostik Teknologi. “Saya mau meluruskan niat, memanfaatkan sisa umur. Saya bekerja dengan talenta muda di Indonesia, dan ada sukarelawan,” tuturnya.
Tanpa diduga, PathGen yang masuk startup inkubasi LIPI ter pilih menjadi tiga startup mewakili Indonesia di ajang inovasi sosial startup dari Extreme Tech Challenge pada 22 Juli di California, Amerika Serikat.
Sumber: Kompas. 12 Juni 2021. Hal.16

