Sejak muda, Suwanto (61) terbiasa mambantu ayahnya, almarhum Munaji (94). Menempa lempengan besi menjadi perangkat gamelan dan alat pertanian. Bary empat tahun terakhir Suwanto benar – benar fokus menekuni profesi yang diwariskan orangtuanya itu.

 

Suwanto harus menjaga keberlagsungan pandai besi satu – satunya dan tertua di Batu, Jawa Timur, agar tetap bertahan di tengah gempuran produk asing dan surutnya seni tradisional.

Di bengkel kerja semi – terbuka miliknya yang berukuran 8 meter x 12 meter di Dusun Junwatu, Desa dan Kecamatan Junrejo, Batu, Jawa Timur, Senin (19/3), Suwanto menerima sejumlah klien atau konsumennya yang datang silih berganti.

Mereka bukan saja orang desa, melainkan juga pelaku seni. Ada klien yang minta bantuan agar Suwanto memotong drum bekas minyak guna diakai sebagai yangki premium eceran, memperbaiki cangkul dan pisau butut; hingga merehabiltasi beberapa bonang (perangkat gamelan).

Bunyi martil yang diayunkan oleh Suwanto saat menempa pelat besi memecah kesunyian desa. Suaranya menadi seperti harmoni, berpadu dengan desing gerinda yang dioperasikan oleh menantunya, Budi Ismanto (40). Hari itu hanya mereka berdua yang bekerja. Dua orang karyawannya izin libur lantaran keluarganya meninggal.

“Ini pesanan grup jaran kepamg (kuda lumping) asal Nantang, Kabupaten Malang,”ujar Suwanto sambil menunjuk sebuah gong yang hampir selesai dibuat. Gong berdiameter 90 sentimeter yag disandarkan pada dinding itu sudah hampir selesai dan tinggal memerlukan sentuhan akhir (finishing) sebelum diambil oleh pemesannya.

Selain gong di bagian dinding yang lain juga tergantung tiga gong berukuran kecil dan dua kenong. Perangkat gamelan itu milik sebuah sekolah menengah di Kota Malang yang sengaja dibawa ke tempat Suwanto untuk diperbaiki. Meski terbuat dari pelat besi, alat musik pukul itu bisa aus atau penyok akibat pemakaian.

Pria perawakan tegap itu mengaku, sejak fokus di pandai besi, empat tahun lalu, sudah ada 50-an gong yang ia buat dan puluhan lain direparasi. Harga satu gong baru berukuran besar dibanderol Rp 2,5 juta. Adapun harga untuk satu set gamelan lengkap berkisar Rp 90 juta-Rp 100 juta. Selain dari besi, Suwanto juga mampu membuat gamelan dari bahan kuningan dan perunggu.

“Kemarin, satu gong baru saja diambil oleh pemesan dari sekitar Bromo (di Probolinggo) dan satu lagi dari Songgokerto (Batu),” katanya.

Tidak alergi teknologi

Di bawah bendera Aneka Ragam, klien Suwanto tidak hanya beraal dari sekitar Malang dan Jawa Timur. Sejak Munaji masih ada hingga saat ini, produk mereka telah dikirim ke beberapa daerah di luar Jawa, seperti Aceh, Kalimantan Timur, dan Papua. Bahkan, pada 2006-2007, Munaji pernah mendapat pesanan gong berdiameter 2,2 meter dari Jerman sebanyak 12 buah. Konon, di sana, benda tersebut dipakai pemesannya sebagai media pengobatan alternatif.

Meski menggeluti peralatan tradisional. Suwanto tidak alergi terhadap teknologi. Untuk mempermudah kerja, dirinya membuat mesin tempa setinggi sekitar 2 meter yang digerakkan oleh dinamo listrik. Alat itu dibuat sekitar empat bulan lalu. Desainnya atas inisiatif Suwanto setelah melihat di kanal Youtube. Pengerjaannya dilakukan oleh bengkel mesin bubut yang ia kenal.

Sayangnya, hasil kerja alat tersebut masih belum sempurna. Suwanto harus menyelesaikan dengan tangan. “Ada rasa berbeda saat membuat produk dengan tangan yang tidak dimiliki mesin. Khususnya tentang penentuan nada gong yang menapai laras pelog 5 untuk ukuran diameter 90 dan pelog 5 untuk ukuran diameter yang lebih besar, itu hanya bisa dilakukan dengan perasaan,” katanya.

Untuk alat lain, seperti blower (mesin peniup), sudah ada sejak lama. Sejak listrik pertama masuk tahun 1979, pada tahun 1981-1982 Suwanto menggunakan blower untuk menggantikan alat tiup tradisonal. Begitu pula gerinda untuk memotong dan menghaluskan produk sudah ada lebih dulu ketimbang mesin tempa.

Teknologi juga membantunya dalam pemasaran. Tahun 2000, misalnya, ayahnya pernah menerima pesanan pembuatan suvenir berupa gng keil dari Belanda dan Australia. Pesanan itu datang melalui internet. “Konsumen saa yang baru umumnya tahu keberadaan kami juga dari internet,” kata ayah tiga anak ini.

Meski pesanan alat musim tradisoonal tidak sebanya dua-tiga dasawarsa lalu, Suwanto mengaku bersyukur masih sering menerima pesanan. Pesanan paling banyak terjadi pada masa Orde Baru saat itu pemerintah kerap memesan perangkat gamelan guna dibawa ke daerah tujuan transmigrasi. Sementara saat ini pihaknya lebih banyak melayani perseorangan dan kelompok kesenian tradisional yang masih bertahan.

“Hanya pemerintah daerah sini yang tidak pernah memesan gamelan ke saya. Mereka pesannya keluar daerah. Entah apa alasannya,” ucap lelaki yang pernah menjabat sebagai perangat desa selama 18 tahun itu.

Usaha pandai besi Aneka Ragam didirikan oleh Munaji pada 1945. Nama Aneka Ragam disematkan pada tahun 1980-an saat munul kabar akan ada bantuan modal dan peralatan oleh pemerintah kabupaten. Namun, hingga empunya meninggal, bantuan yang dinantikan tidak kunjung tiba.

Awalnya, bukan Suwanto yang menjadi penerus orangtuanya, melainkan sang kakak, Suwanto (60). Namun, sang kakak meninggal mendadak akibat gagal jantung pada 2015. Melihat usaha yang sudah ada sejak lama tak ada yang mengendalikan. Suwanto, yang menjalani purnatugas seusaii bekerja di Sekretariat DPRD Kota Batu, turun tangan untuk menjadi tulang punggung.

Di tangan Suwanto inilah keberlanjutan usaha yang telah berlangsung 70 tahun ini dipertaruhkan. Dari tiga anaknya, dua perempuan dan satu lelaki, sepertinya belum ada yang berminat menggeluti usaha tersebut. Hanya adik dan menantunya yang terkadang membantu. “Kemungkinan nanti menantu saya yang meneruskan. Anak saya yang laki – laki sebentar lagi wisuda. Sepertinya memilih proesi lain,” katanya.

Selain regenerasi, Suwanto juga menghadapi masalah lain berupa persaingan dengan produsen lain. Apalagi, sejak beberapa tahun terakhir, marak alat pertanian produksi China beredar di Indonesia seperti cangkul. Sedkit banyak barang impor ini akan berpengaruh meski jika dicermati produk buatan China kurang enak jika dipakai untuk bercocok tanam. Bentuk fisiknya kurang cocok dengan postur petani Indonesia.

Suwanto

Lahir : Malang 21 November 1956

Istri : Masamah (59, almarhum)

Anak :

  • Eva Widianti
  • Dwi Nastiti Lestari
  • Mahardika Adi Triputra

Sumber: Kompas.24 Maret 2018. Hal. 16