Ketika kecil, ia tinggal tidak jauh dari pantai. Namun, karena orangtuanya petani cengkeh dan peterna sapi yang cukup besar, Syafi’I Latuconsina (51) akhirnya jatuh cinta pada pertanian. Kecintaannya ini pula yang membangkitkan semangatnya untuk melakukan pemberdayaan petani, yang nasibnya sebagian besar masih belum menggembirakan.
Kehidupan petani, menurut Syafi’i, seolah-olah tidak pernah bergeser menjadi lebih baik. Ketika musim tanam tiba, mereka membeli bibit dengan mahal. Ketika mereka butuh pupuk untuk menyuburkan tanamannya, harga pupuk pun mahal. Namun, ketika panen tiba, harga gabah sering terlalu rendah sehingga mereka tidak bisa menikmati hasil bertaninya dengan bahagia.
Petani yang mempunyai tanah tidak bisa hidup dengan hasil bercocok tanam. Hasil bertani yang sering merugi ini membuat banyak petani yang terpaksa menjual sebagian sawah yang dimilikinya untuk membiayai kebutuhan hidup dan modal untuk bercocok tanam lagi. Sampai suatu saat, mereka hanya mempunyai tenaga untuk dijual jasanya. Namun, penghasilan mereka sebagai buruh tani npun makin rendah.
“Inilah yang menggelisahkan saya,” ujar Syafi’i ketika ditemui di Jakarta pada Sabtu (18/4) malam.
Kegelisahan itulah yang mendorong Syafi’i terjun langsung menjadi petani tahun 1995. Ia meninggalkan pekerjaan sebagai konsultan di sebuah perusahaan kimia di Jakarta. Ia berpikir, cara mengajak petani bertani agar mau bertani dengan baik dengan system organic yang diyakininya akan memberikan hasil yang lebih baik harus dengan contoh langsung.
Syafi’i pun tak ragu untuk menjadi petani organik meski ketika itu belum mempunyai sawah. Karena tidak mempunyai lahan sendiri, ia menghubungi sejumlah kenalan yang mempunyai sawah. Akhirnya, ia mendapatkan lahan pertanian seluas 2 hektar di Demak dan Kudus, Jawa Tengah. Sawah itu langsung dikelola dengan sistem pertanian organik. Selain membajak sawah dengan traktor tangan sewaan, ia pun menyiapkan ternak sapi.
“Untuk 1 hektar, sebetulnya cukup dua ekor sapi yang dibutuhkan. Kotoran yang dihasilkan sudah cukup digunakan untuk pembuatan pupuk kocor yang akan dipergunakan untuk memupuk padi,” ujarnya.
Ketika itu, ia pun mulai memperkenalkan cara bertani organik kepada petani sekitar sawahnya. Namun, hal itu memang belum langsung mendapatkan sambutan baik. Baru setelah mereka melihat proses pertumbuhan padi yang sehat dan lebih cepat, serta hasil yang memuaskan, petani setempat ada yang mulai tertarik memproduksi padi organik.
Dengan cara bertani organik ini, menurut Syafi’i, biaya produksi bisa ditekan. Pasalnya, tidak dibutuhkan pupuk pabrikan.
“Memang, kalau sistem pertanian yang saya perkenalkan ini makin meluas, pabrikan pupuk dan pestisida bisa meradang,” ujarnya sambil meyakinkan bahwa beras yang dihasilkan akan lebih baik secara kualitas dan kuantitas.
Meski demikian, Syafi’i mengakui, tidak mudah mengajak petani lain yang sudah punya cara bertani yang diterapkan secara turun-temurun untuk berubah menjadi petani organik. Petani menganggap, cara mereka merupakan jalan yang paling benar. Nah, inilah tantangan pertama yang saya hadapi ketika memperkenalkan cara bertani yang lebih baik,” ujar Syafi’i.
Upaya memperkenalkan sistem bertani organik ini semula berjalan lambat. Baru pada tahun 2005, ketika Muhammadiyah mempunyai lembaga Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), keahliannya mendapatkan tempat.
Saat pertama kali memperkenalkan sistem pertanian organik di MPM di jaringan pengurus Muhammadiyah pun, semula ia tidak mendapatkan dukungan yang memadai. Apalagi, selama ini memang Muhammadiyah belum banyak terjun ke dalam pembinaan petani.
Meski demikian, secara perlahan, Syafi’i yang ketika itu sering datang ke Pemalang, Jawa tengah, untuk melakukan pembinaan petani, mulai mendapatkan tanggapan baik. Bahkan, ketika sering mampir di pengurus Muhammadiyah di Banjarnegara, Jawa tengah, ia mendapatkan dukungan penuh. Kedekatannya inilah yang membuatnya makin bisa diterima dan akhirnya mendapatkan dukungan dari sejumlah pengurus Muhammadiyah setempat.
Pengurus Muhammadiyah Banjarnegara memperkenalkan dirinya dengan warga desa Blambangan, yang sebagian besar juga warga Muhammadiyah. Akhirnya, mereka bersedia menerapkan sistem pertanian organik yang diperkenalkan melalui MPM.
“Ketika itu, mereka merespons dengan modal lahan pertanian yang luasnya mencapai 30 hektar. Dan, pada saat panen raya pertama, ternyata mampu meningkatkan produksi petani dari rata-rata 5 ton per hektar menjadi rata-rata 7,6 ton per hektar. Saat itu, ada petani yang menghasilkan 12 ton per hektar,” ujar Syafi’i dengan bangga.
Kini, setelah tantangan demi tantangan bisa dilewati, lebih dari 5.000 hektar sawah yang tersebar di banyak wilayah di Indonesia, dengan panen padi 7-8 ton per hektar, berhasil di upayakan dalam sistem pertanian yang dikelola Syaf’i melalui jaringan MPM Muhammadiyah.
“Kamis, 23 April mendatang, ada panen raya lagi di Sidoarjo,” ujar Syafi’i, yang menjelaskan bahwa sekarang ia sudah memproduksi 10 jenis beras organik.
Bukan hal baru
Menurut Syafi’i, cara bertani organik yang diperkenalkannya sebetulnya bukan hal baru. Namun, memang belum banyak memercayai cara bertani organik dan menghasilkan beras berkualitas dalam jumlah banyak.
Apalagi, dalam sistem pertanian yang dilakukan petani saat ini, menurut Syafi’i, banyak yang salah kaprah. Akibatnya, pertumbuhan padi tidak maksimal, dan terjadi pemborosan dalm produksi.
Salah kaprah itu, antara lain, padi sesungguhnya bukanlah tanaman air. Itu sebabnya padi tidak perlu terlalu banyak direndam meskipun padi memang membutuhkan air dalam jumlah yang banyak. Selain itu, dalam pemberian puuk, petani beranggapan bahwa semakin banyak pupuk diberikan, padi akan semakin subur.
“Kenyataannya, padi membutuhkan pupuk, tetapi jumlahnya harus sesuai takarannya. Nah, kesalahan dalam pemahaman cara bertani inilah yang saya perkenalkan kepada petani,” ujar Syafi’i.
Menurut Syafi’i, cara bertani yang betul adalah desain sistem pertanian yang ramah lingkungan. Nah, dengan sistem pertanian organik, denga memanfaatkan limbah ternak sapi dijadikan pupuk, selain hasil pertaniannya sendiri, ternak sapi pun bisa menambah penghasilan.
Masa kecil Syafi’i dihabiskan di Desa Ori, Kabupaten Maluk tengah, Pulau Haruku, Maluku. Ayahnya seorang petani cengkeh dan peternak sapi yang cukup sukses.
Semasa kecil, Syafi’i sering memperhatikan “limbah” kotoran sapi yang kurang dimanfaatkan denga baik. Baru belakangan, setelah ia belajar pertanian di STIPER Yogyakarta, ia tahu bahwa kotoran sapi itu bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.
“Hanya saja, tidak bisa langsung dipergunakan, tetapi harus melalui fermentasi lebih dahulu. Penduduk kemudian mengenalnya sebagai pupuk kocor,” ujarnya.
Sumber: KOMPAS, SABTU, 20 APRIL 2015

