Keranjang Kompos untuk Rumah Tangga. Kompas.22 Oktober 2015.Hal.16

Sampah adalah momok untuk setiap kota jika tak dikelola. Sampah yang tidak ditangani dengan baik sering menjadi bagian dari narasi kesemrawutan, bahkan tragedi bagi sebuah kota. Padahal, sampah, terutama yang berjenis organic, snagat berpotensi untuk dijadikan berbagai produk, termasuk pupuk kompos, seperti yang ditawarkan Syamsuri (45).

Ia menawarkan perspektif bernilai untuk pengolaan sampah. Ia mendorong penggunaan keranjang sederhana bagi rumah tangga untuk mengelola sampah organic yang dihasilkan. Apa yang dilakukan setiap keluarga ini memang sederhana, tetapi jika dilakukan oleh semua warga kota, hasilnya bisa luar biasa. Dosen Institut Agama Islam Negeri Palu, Sulawesi Tengah, itu merujuk pada kalkulasi sederhana. Untuk merangkut sampah, pemerintah Kota Palu harus menyediakan 40 truk. Setiap truk menghabiskan 25 liter solar per hari. Dengan harga solar Rp 6.900 per liter, dalam sebulan pemerintah menggelontorkan Rp 207 juta hanya untuk bahan bakar truk pengangkut sampah.

Itu baru biaya yang tampak dan dikalkulasi. Kita belum menghitung biaya yang tidak kelihatan, antara lain soal kebersihan kota, kerusakan lingkungan, dan hancurnya estetika kota karena sampah yang tak terurus, tutur Syamsuri, Selasa (13/10), di Palu. Di Kota Palu, volume sampah mencapai 1.100 meter kubik per hari atau 33.000 meter kubik per bulan. Sayangnya, daya angkut truk sampah membanjiri kota saban hari. Dari total sampah tersebut, sekitar 70 persen sampah berkategori organik.

Angka tersebut tak cuma hitungan di atas kertas. Di berbagai titik, sampah berserakan di pinggir jalan, terutama di kawasan yang belum terdapat bangunan. Kelurahan tak punya banyak tempat pembuangan sementara (TPS). Akibatnya, masyarakat membuang sampah di TPS liar. Saat kota di guyur hujan, sampah dari got menyerbu jalanan, termasuk jalan protokol.

Dari rumah

            Bertolak dari kalkulasi dan keprihatinan, Syamsuri mengembangkan aplikasi sederhana bagi rumah tangga untuk mulai mengenolkan sampah organik. Sampah organic yang selama ini dibuang diusahakan untuk dimanfaatkan. Ia mengembangkan keranjang starter kompas takakura. Bentuknya seperti keranjang sampah biasa, tetapi pada bagian dalam keranjang ditempeli karpet. Untuk mempercepat penguraian sampah organic menjadi kompas, di dasar keranjang disediakan sekam bercampur tanah. Sampah organic rumah tangga (nasi, sayur sisa, dan kulit buah) diaduk dengan bahan dasar tersebut.

Keranjang yang dipakai tidak memiliki spesifikasi khusus. Semua keranjang plastik yang dijual di pasar dan toko bisa dirancang menjadi aplikasi. Syamsuri memakai keranjang berukuran panjang 40 sentimeter serta lebar dan tinggi masing-masing 20 sentimer. Selama ini rumah tangga jarang memanfaatkan sampah organic menjadi berbagai jenis produk, termasuk kompos. Aplikasi tersebut bertujuan untuk membendung sampah yang dihasilkan rumah tangga agar bisa meringankan beban kota dari persoalan sampah secara keseluruhan ataupun untuk mengubah sampah bernilai ekonomis (pupuk kompos). Teknologi ini semacam pertolongan pertema pada sampah, ujar bapak tiga anak itu. Syamsuri pun tak ragu menyosialisasikan aplikasi sederhana itu ketingkat kelururahan di Kota Palu sejak 2013. Sambil membina kelompok pengelolaan sampah di sekitar tempat tinggalnya di Desa Kalkubula, Kecamatan Biromaru, Sigi, dalam kurun waktu dua tahun, ia terlebih dahulu menyebarkan perspektif baru dalam memperlakukan sampah organic kepada masyarakat. Pemahaman tentang sampah ini penting agar mempermudah masyarakat menerima aplikasi.

Tahun ini, 16 rumah tangga mulai menggunakan teknologi tersebut. Angka itu memang kecil, tetapi rumah tangga tersebut diharapkan menjadi contoh nyata bagi rumah tangga lain di sekitarnya. Syamsuri mempelajari keranjang starter kompas takakura di Bandung, Jawa Barat, pada 2012 saat mengambil program doctoral Ilmu Komunikasi di Universitas Pandjadjaran. Ia mempelajarinya dari pakar lingkungan Universitas Kyoto, Jepang, Ken Ji Maida, yang diperbantukan di Kementeriaan Lingkungan Hidup (sekarang menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutuanan).

Teknologi itu diciptakan oleh Koji Takakura dari Lembaga Penelitian Kimia di Jepang. Teknologi serupa mulai dipakai di level rumah tangga di Surabaya, Jawa Timur, pada 1986. Ia sedikit memodifikasi aplikasi yang dijual Rp 100.000 itu dengan menambahkan campuran sekam dan tanah. Kedua anasir ini untuk mempercepat peguraian sampah menjadi kompos, sekaligus memudahkan sampah organic melepaskan gas. Dalam tiga hari, sampah organic sudah berubah senyawa menjadi pupuk. Pengguna aplikasi tidak harus memasukkan sekam tanah baru ke dalam keranjang saat kompas yang terbentuk bisa berfungsi sebagai starter untuk mengurai sampah organic yang baru.

Syamsuri optimistis rumah tanga melirik teknologi sederhana itu. Sosialisasi terus dilakukan, terutama kepada kelompok yang berpotensi menjadi penyebar informasi, antara lain lingkungan rumah sakit, puskesmas, dan sekolah. Dengan wilayag operasi di sector hulu dalam menangani dan memanfaatkan sampah, suami dari Mina Nur (37) ini berencana memproduksi teknologi tersebut dalam skala besar. “Ada peluang ini berkembang menjadi indusrti kreatif, “ujarnya. Namun, melampaui pertimbangan bisnis, Syamsuri punya satu ikhtiar, yaitu mengarahkan masyarakat untuk memperlakukan sampah dalam perspektif baru. Teknologi itu salah satu jalan menjadikan sampah bukan bencana, melainkan berkah.

Sumber: Kompas, Kamis, 22 OKtober 2015