Divonis kanker tidak lantas putus asa. Dekan fakultas psikologi sekaligus guru besar Universitas Ciputra Surabaya Prof Dra Jenny Lukito Setiawan MA PhD membuktikan bisa sembuh dari penyakit itu.
SAAT ditemui di kantornya pekan lalu Jenny terlihat fit dan antusias. Juga yang pasti sibuk. Map berisi dokumen dari laptop menemani. Kondisi itu sangat berbeda dengan Jenny enam tahun lalu. “Puji Tuhan diakhir tahun lalu saya sudah bebas control,”ucap perempuan 48 tahun itu. Pada awal 2011 Jenny divonis menderita kanker kelenjar getah bening stadium dua. Istri Jandy Thenarianto Foh itu menjelaskan kecurigaannya hanya kebetulan. Tepatnya pada 26 Desember 2010. “Saya ngak sengaja memperhatikan cermin. Kok bahu kiri dan kanan ngak sama ada bengkaknya,”kenangnya. Menurut dia saat itu tidak ada rasa sakit, gangguan, atau rasa mengganjal. “Waktu itu mikirnya hanya kenapa ya,”tuturnya.
Jenny menceritkan, saat itu dokter mendiagnosis radang tenggorokan. Ibu dua anak tersebut sempat mempertanyakan hasil itu. Sebab, sebagai dosen yang aktif mengajar, keluhan ditenggorokan bukan hal yang asing. “Dokternya bilang, bengkaknya di pundak,”imbuhnya. Setelah mengkonsumsi obat yang diresepkan, Jenny merasa tidak ada perubahan. Bengkak di pundak masih terasa. Namun dia menyatakan bisa segera memeriksakan diri lagi. Sebab, momennya bertepatan dengan pergantian tahun. Banyak tempat praktik dokter spesialis yang tutup. Terlebih, di awal 2011 dia disibukkan dengan rapat kerja di kampus.
Sang suami berinisiatif mencarikan dokter. Selepas raker, Jenny dengan ditemani suami memeriksakan diri ke spesialis THT (Telinga, hidung, dan tenggorokan). Dia menjalani foto rontgen. Hasil yang kurang baik membuat Jenny kembali melakukan berbagai tes, termasuk CT scan. “Setelah dapat hasilnya, saya cob abaca-baca. Hasilnya no no. Cuma, diakhir ada tulisan lymphoma, ucap Jenny. Alumnus program doktor University of Nottingham, Inggris, itu memutuskan untuk googling. Dia terkejut begitu tahu bahwa hasil pencariaannya mengarah ke artikel seputar kanker. Saat kembali ke dokter, Jenny dan suami mendapat penjelasan seputar kanker kelenjar getah bening.
Kepada dokter, perempuan yang mengajar sejak 1993 itu langsung mengajukan pertanyaan yang terbilang shocking. “Saya menanyakan kira-kira saya bisa bertahan berapa bulan. Supaya saya bisa siap-siap,” ucap Jenny. Namun dokter spesialis yang menanganinya tidak memberikan jawaban. “Saya hanya diberi tahu untuk mulai kemoterapi,”imbuhnya. Terhitung sejak Februari 2011, Jenny rutin melakukan kemoterapi tiga minggu sekali. Kemoterapi yang dijalani membuat Jenny frustasi. Badannya yang semula bugar dan tangkas jadi mudah lelah. Sedikit gerakan pun bisa membuat tubuhnya terasa seperti dipukuli. Tapi, yang paling drastis kerontokan rambut tok. Waktu mandi, malah sampai ditampung di bak karena khawatir nyumbat, “paparnya.
Perkembangan Jenny setelah kemoterapi juah lebih baik. Pada Juni 2011 dia melakukan kemoterapi terakhirnya dilanjutkan dnegan control rutin. “Sama atur makan juga, banyak buah dan sayur. Nggak boleh daging merah dan makanan olahan instan,”imbuhnya. Akhir tahun lalu dokter menyatakan dia bersih dari kanker. “Saat dokter bilang you are cured, rasanya mengena sekali. Saya ingat kisah Tuhan yang menyembuhkan penderita kusta.” Tuturnya. Kegembiraan itu melengkapi melengkapi gelar guru besar yang diraihnya pada Agustus 2016. (fam/c11/ayi)
Momen tidak terlupakan
Awal diagnosis
Jenny masih ingat hasil diagnostis pertamanya “Benjolannya berukuran 5x4x6 cm, stadium 2. Nggak terlalu parah, tapi heboh dan kaget waktu itu, tuturnya.
Percaya diri drop
Jenny merasakan kehilangan percaya diri ketika diminta menjadi pembicara dalam acara reuni organisasi yang pernah diikuti. “Meski pekerjaan sehari-hari dosen, saat itu saya merasa gugup. Seperti bukan saya,”kenangnya.
Keinginan kembali berkarya
Status bersih dari dokter membuat Jenny kembali bersemangat kini dia aktif berkarya di bidang konseling pernikahan
Menggundul rambut
Setelah beberapa kali kemoterapi, rambut Jenny rontok parah. Rambutnya tersisa tipis. “Karena malah nggak karuan, akhirnya saya gundul sekalian. Saat ditanya kapsternya saya bilang mau gundul karena patah hati,”kata Jenny.
Bolak-balik Penang-Surabaya
Selama pengobatan, Jenny tidak lantas pindahan. Dia hanya stay setidaknya tiga hari. Tujuannya, keluarga dan pekerjaan tidak ditinggalkan. “Selasa berangkat, Rabu cek kesehatan dank emo di Penang, lalu Kamis pulang ke Surabaya, paparnya.
Sumber: Jawa pos 1 Maret 2017, Halaman 19

