Tak Sepelekan Benda Asing. Jawa Pos.28 Oktober 2015. Hal.60

Hentikan Kebiasaan Gigit Jarum  Pentul

Surabaya – Benda asing yang nyelonong masuk sering berujung ke instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Soetomo. Benda-benda yang rata-rata sepele itu masuk melalui lubang di bagian hidung, telinga maupun tertelan. Bahkan, mengganggu saluran napas atau makanan. Hal tersebut mengundang keprihatinan ketua divisi THT komunitas RSUD dr Soetomo dr Nyilo Purnami SpTHT-KL (K).

“ Belum lama ini waktu saya sedang jaga, dalam sehari ada empat kasus  benda asing yang masuk ke dalam tubuh,” kata Nyilo. Diawalai kejadian masuknya karet penghapus ke telinga anak laki-laki berusia lima tahun. Ceritanya, telinga si pasien kemasukan karet penghapus ketika sedang belajar.

Kejadian kedua, seorang penderita datang dengan rasa nyeri  di tenggorokan setelah makan ikan bandeng. Setelah diperiksa, diketahui terdapat duri yang tertancap di bagian tenggorokan.

Tidak lama, datang anak laki-laki usia tiga tahun yang hidungnya kemasukan manik-manik. Kondisi itu terjadi akibat minimnya pengawasan orang tua. Sebab, orang tua bocah tersebut pembuat kerajinan dari benda mungil itu.

“Yang paling mengkhawatirkan mungkin kejadian keempat. Perempuan tersedak jarum pentul,” lanjutnya. Jarum itu mencapai saluran napas. Perempuan tersebut datang ke RSUD dr Soetomo dengan batuk terus menerus dan suaranya parau.

“ Ada juga anak-anak yang di dalam telinganya ada empat kapas cotton bud. Anak tersebut belajar menggunakan cottob bud dari lingkungannya. Nah, ketika mendaptkan alat tersebut, dia mencoba,” ujarnya.

Spesialis telinga, hidung, tenggorok-kepala leher itu menyoroti kebiasaan masyarakat yang acap kali membahayakan. Misalnya, perempuan menggigit jarum pentul ketika akan mengenakkan jilbab. Kebiasaan tersebut memperbesar resiko jarum tertelan. “ Kalau pas diajak ngobrol atau kaget, kan bisa tertelan,” jelasnya.

Menurut alumnus FK Unair itu, ada risiko komplikasi jika benda asing yang masuk ke dalam tubuh tidak segera diambil. Yakni, kerusakan area rongga hidung dan mimisan. “ Jika benda asing masuk ditelinga, akan timbul infeksi dan gangguan pendengaran,” paparnya.

Kondisi semakin parah jika benda asing tersebut masuk kedalam rongga napas. Pertolongan kondisi tersebut harus dilaksanakan secepatnya. “ Khawatirnya bisa menutup jalan naps, kan bisa mengakibatkan kematian,” kata Nyilo. Bahkan, duri ikan dianggap biasa dapat memicu infeksi di area dada. Kalaupun terlanjur infeksi, penanganannnya tidak mudah.

Dia menjelaskan , ada berbagai keluhan atas masuknya benda asing. Di jalan napas, misalnya, pasien akan batuk mendadak dan bertubu-tubi. Kemudian, pasien merasa sesak napas dan suara parau. Jika sudah demikian, Nyilo menyarankan segera dibawa ke rumah sakit.

Meski demikian , ada yang tanpa gejala apa pun. “ Waktu itu pemeriksaan siswa SD. Kebetulan saja pada saat itu, ditemukan kerikil dihindungnya. Tapi, sianak tidak meraskan sakit,” bebernya.

Orang awam bisa memberikan pertolongan pertama. Pertama, pasien ditahan agar tetap berdiri atau condong kedepan dengan merangkul dari belakang. Setelah itu, diberikan penekanan mendadak ke ulu hati dengan menggunkan dua kepalan tangan . Nyilo tidak menyarankan menjungkirkan badan atau mencoba merogoh benda asing yang masuk ke tubuh korban. Hal tersebut, menurut dia, justru dapat memperburuk keadaan. (Iyn/c6/nda)

Sumber : Jawa pos, 28 Oktober 2015. Hal 60