Tampil Etnik di Hari Raya dengan Koleksi Wignyo Rahadi.

Perpaduan Budaya dalam Busana

Jawa Pos. 14 April 2024. Hal.19

BATIK DAN TENUN: Wignyo Rahadi (depan tengah) memberi salam untuk penonton fashion show di Plenary Hall, Jakarta Convention Center. Koleksi kali ini memadukan dua kain tradisional yang berbeda.

JAKARTA – Sentuhan etnik dan busana modest bisa saling melengkapi satu sama lain. Kesan busana modest yang anggun dan membumi akan tampak lebih kuat dengan motif etnik yang melokal. Salah satunya tampak dalam koleksi Wignyo Rahadi yang diperagakan di Indonesia Fashion Week (IFW) 2024 beberapa waktu lalu.

Wignyo sebelumnya dikenal dengan eksplorasidan penggunaan kain tenun di koleksinya. Kali ini, berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DKI Jakarta, Wignyo mencoba mengolah batik khas Betawi. Untuk itu, dia menggandeng Rumah Batik Palbatu, sebuah sentra batik Betawi di Jakarta Selatan.

Kain batik Betawi yang warnanya cenderung cerah diolah Wignyo menjadi busana modest. Agar tidak terlampau mencolok, Wignyo memadukan kain batik cerah dengan kain hitam atau navy blue. Alhasil, tampilan jadi lebih elegan dan adem.

Sementara itu, kain tenun yang menjadi ciri khas Wignyo digunakan sebagai aksen. Ada yang dikenakan di pinggang, menyerupai obi atau ikat pinggang lebar khas Jepang Ada pula yang dikenakan di pinggul hingga menjuntai ke lutut agar tampilan bawahan lebih berwarna.

Wignyo juga memasukkan unsur gaya kontemporer ke dalam koleksi busana modest-etniknya. Koleksi yang terdiri atas busana perempuan dan laki-laki itu memiliki gaya layering atau bertumpukyang trendy. Kontras antara kain polos dan bermotif menciptakan kombinasi yang playful dan menarik.

Tak sekadar modis, Wignyo juga merancang koleksinya agar nyaman dipakai. Katun menjadi bahan yang paling banyak dipakai. Beberapa koleksi memiliki garis desain oriental. Misalnya, garis kimono atau hanfu, busana tradisional Tiongkok di era dinasti. “Dalam budaya Betawi itu ada unsur budaya Tiongkoknya,” ujar Wignyo.

Adaptasi gaya busana Tiongkok, batik Betawi, dan tenun aneka motif menyatu padu. Hal itu menghasilkan perpaduan budaya dalam busana karya Wignyo, sebagaimana Kota Jakarta menjadi tempat berbaurnya aneka budaya dan ragam etnis. Sejalan dengan tema IFW 2024: Langgam Jakarta Teranyam. (c18/len)