https://www.harianbhirawa.co.id/tanam-penguatan-pembentukan-karakter-positif-sejak-dini/

Surabaya, Bhirawa
Kelompok yang menamai diri sebagai gangster cukup meresahkan masyarakat di Surabaya beberapa pekan terakhir. Apalagi, mayoritas anggotanya masih remaja. Tindakan ini tentu menjadi sorotan banyak pihak. Ada yang menyebut tindakan gangster di Surabaya bentuk eksistensi diri. Lalu, bagaimanakan pandangan Psikologi dalam hal ini?

Menurut pakar Psikologi Klinis Pernikahan dan Keluarga Universitas Ciputra (UC), Stefani Virlia S.Psi., M.Psi., Psikolog menyebut, fenomena gangster digambarkan seperti gunung es. Di mana jika dilihat dari atas sedikit, namun mengakar atau sudah banyak kelompok-kelompok serupa. Untuk mengantisipasi keterlibatan anak dalam kenakalan remaja ini, orang tua harus mengantisipasi dengan penguatan pembentukan karakter positif.

Wanita lulusan S2 Magister Profesi Psikologi Klinis Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya Jakarta menjabarkan jika dilihat dari perkembangan sudut pandang psikologi, remaja memiliki tugas perkembangan mencari jati diri. Dalam hal ini, selalu identik dengan galau, bingung dan siapa dirinya.

“Ini sesuatu yang harus dipenuhi di tahap ini. Remaja mulai berjarak dengan orangtua. Mereka merasa bahwa hubungan teman sebaya lebih penting dibanding keluarga. Sehingga berdampak terhadap mereka harus diterima dalam pertemanan, dan biasanya mereka memilih menjadi anggota gangster karena dianggap keren, dan geng motor sesuatu yang gaul dan merujuk pada eksistensi diri,” terang wanita yang akrab disapa Fani ini.

Menurut wanita berkacamata ini, pengaruh sosial (konformitas) pada remaja sangat kuat karena tujuannya mendapat penerimaan pada lingkungan. Dijelaskan Fani, proses perkembangan remaja tidak hanya secara fisik saja. Perkembangan prefontal cortex juga berkaitan pada perilaku.

“Pada remaja hal ini belum berfungsi atau berkembang dengan optimal. Fungsinya (prefontal cortex) mengambil keputusan dengan cepat, logical thingking main. Sehingga remaja cenderung impulsif. Makanya kenapa mayoritas remaja karena gangster ini yang penting eksistensi dulu,” jelasnya.

Karenanya, lanjut wanita kelahiran Jakarta, 15 September 1988, orang tua perlu menanamkan value sejak kecil kepada anak. Jangan menunggu remaja atau dewasa, sebab kelekatan pada anak harus dibangun sejak dini. Dari situ bisa ditanamkan nilai baik dan buruk.
“Sehingga bisa paham, ini sesuatu yang benar dan buruk. Ketika value semakin kuat dan kenal teman sebaya mereka akan bisa memilih lingkungannya untuk bertumbuh dan berkembang,” terang dia.

Ia menilai orangtua harus peka karena anak semakin tumbuh dewasa. orangtua harus menempatkan diri sebagai mentor.
Karena remaja tidak menyukai melakukan sesuatu melalui instruksi. Dengan kata lain, orangtua harus menjadi pendengar yang baik bagi anak.
“Menjalin kedekatan pada anak ini perlu. Jangan di judge tapi juga didengar. Remaja suka mengintervensi dan bebas. Orangtua bisa memberikan kebebesan tapi juga menyepakati batasan-batasan pada anak. Seperti pergi dengan teman tapi tidak boleh lebih dari jam 10 malam. Anak paham akan hal ini,” katanya.

Namun, jika kenakalan remaja dalam hal ini sekelompok gangster yang mayoritas remaja sudah terjadi, Fani meminta agar orangtua tetap harus merangkul anaknya dan memberikan kesempatan.
“Mereka memang sudah dihukum, tapi juga harus dibina. Peran orangtua tetap harus memberi kesempatan pada anak untuk memperbaiki perilaku dan karakter. Jangan hanya menyerahkan ke pemerintah atau sekolah. Orangtua dan remaja harus mengevalusi diri,” tuturnya.

Evaluasi tersebut, kata dia, meliputi evaluasi pola asuh atau parenting. Menurut Wanita asli Jakarta ini, orangtua harus merefleksikan diri dan jangan menyalahkan kesalahan sepenuhnya pada anak.
Fani juga tak menampik, jika mayoritas anggota gangster berasal dari status sosial ekonomi rendah kurang mendapat perhatian dari orangtua. Karena orangtua sibuk bekerja dan kurang ada waktu dalam mengontrol pendidikan dan perilaku anak dilingkungan atau teman sebayanya. [ina]