Tangan Dingin Peracik Kopi. Kompas. 14 Februari 2015.Hal.16

Waktu yang hilang tanpa memberikan banyak manfaat mengusik Franky Angkawijaya (36). Begitu juga dengan ilmu meracik kopi yang ditularkannya secara gratis rupanya tidak membentuk keseriusan pesertanya. Berangkat dari pengalamannya, Franky memilih memasarkan ilmu “barista” lewat Esperto Barista Course.

Oleh Agnes RitaSulisyawaty

Mengawali karier sebagai penjual biji kopi dan distributor mesin peracik kopi di Indonesia 10 tahun silam. Tidak hanya menjual alat dan  kopi, Franky juga membekali ilmu menjadi barista  cuma-cuma bagi kliennya.

Niat baik tidak selalu diterima dengan baik pula. Banyak peserta yang tidak terlalu peduli dengan ilmu Franky yang dibagikan gratis ini. “Waktu saya enggak dihargai. Ini yang paling penting. Selain waktu, ilmu juga saya kasih. Ini juga enggak dihargai,” kata Franky.

Franky lantas memilih membuka Esperto sejak 18 Agustus 2009. Modal awalnya, tiga mesin pembuat kopi. Waktu kursus selama tiga hari. Dalam satu kelas, hanya tida peserta yang bisa ditampung, sesuai dengan jumlah mesin.

Ternyata, dengan membayar, peserta lebih serius dan lebih antusias meresapkan ilmu peracikan kopi. Franky lebih yakin memberikan garansi bahwa peserta yang lulus bisa menjadi barista dengan keterampilan memadai.

“Kalau disuruh bayar, orang biasanya serius mempelajari sesuatu. Selain itu, ada sekolah pariwisata dari Korea Selatan yang mengirim murid ke tempat  kami setahun sekali. banyak juga ekspatriat yang belajar di sini. Ini yang bikin orang lebih yakin untuk ikut sekolah ini,” ujar Franky yang kini menerapkan biaya Rp 6 juta per orang untuk kursus barista.

Franky mengatakan, kelas-kelas barista tidak pernah sepi peminat. Apalagi, tiga tahun terakhir, kedai kopi yang menyajikan espresso, cappuccino, latte, dan aneka variannya semakin populer di beberapa kota di Indonesia. Tidak heran, peserta kursus kopi di Esperto berasal dari Aceh hingga Papua, serta dari berbagai kalangan.

Dua tahun terakhir, Esperto pindah dari Senayan Trade Center ke Jalan Timor Nomor 25. Tentu saja, ruangan yang lebih lapang. Kelas Esperto bisa menampung 24 orang.

Walaupun bisa memanfaatkan popularitas kedai kopi untuk menambah jumlah peserta kursus. Dia menyadari keterbatasan tenaga pelatih. Sementara Franky ingin memastikan setiap peserta benar-benar memahami keterampilan yang diajarkan.

Meskipun kini masih berbisnis mesin kopi, Franky tegas melarang penjualan mesin di ruang kursus. “Kalau mereka kembali dan berbelanja di kami, silakan. Tetapi, di dalam kelas, tidak ada jualan mesin. Enggak ada pesan sponsor, ” kata pria yang beberapa kali menjadi juri kompetisi barista itu.

Dalam waktu dekat, Esperto akan memiliki 2 cabang waralaba, yakni di Medan dan Surabaya. Pertner di kedua kota itu merupakan alumni Esperto. Keberadaan cabang ini diharapkan bisa mengakomodasi peminat kursus barista di sekitar kota ini.

Franky mengakui, dirinya masih menyimpan mimpi agar Esperto kian luas untuk memperbesar ilmu meracik kopi. Sayangnya, dia tidak mudah mendapatkan partnet yang sejalan untuk membuka cabang Esperto di kota besar di Indonesia.

Terus menyelami
           
Minum kopi sudah menkadi kebiasaan Franky sejak kecil. Saat ayahnya meminum kopi dan krimmer, Franky memilih kopi hitam. Dari gelas, kopi panas dituang sedikit demi sedikit di piring kecil, lalu diseruput.

“Dulu, bikin kopi sebagai rutinitas. Kadang, urusan temperature air enggak diperhatikan. Sebab, kita tidak tahu. Karena sudah kebiasaan, mengubah cara bikin kopi ini juga susah,” ujar Franky yang tiap hari minum maksimal tiga cangkir kopi.

Saat studi di Sydney, Franky muali mengenal campuran kopi dan susu. Bahkan, dia jatuh hati pada produk di salah satu  kedai kopi. “Semua merek mesin saya bongkar sampai bautnya, lalu saya pasang lagi. Saya enggak percaya begitu saja dengan buku manualnya. Jadi, saya tahu persis kelebihan dan kelemahan masing-masing merek mesin” ucapnya.

Sejak 3 tahun lalu, Franky tidak mengimpor mesin utuh, tetapi suku cadang mesin pembuat kopi dari Monako. Bersama tim, dia merakit di Jakarta dan  memasarkannya.

Belum cukup, Franky membuat mesin kopi sendiri. Mesin yang akan diluncurkan Februari ini disebut Franky sebagai perpaduan antara mesin berbasis tuas dan otomatis.

“Ini pertama ada mesin yang menggabungkan kedua jenis pembuatan kopi” ujarnya

Keinginannya menciptakan mesin pembuat kopi dalam negeri ini tidak lepas dari “penghinaan” yang pernah diterimanya dari partner bisnis di luar negri. 5 tahun lalu,Franky dan rekannya dianggap tidak bisa memproduksi sendiri mesin pembuat kopi. “sejak itu, saya bertekad memproduksi mesin kopi sendiri,”ujarnya.

Franky cukup yakin, orang Indonesia bisa setara dengan bangsa lain yang bisa memproduksi aneka barang, termasuk mesin kopi. Keuletan mempelajri seluk beluk mesin kopi akhrinya membuahkan sesuatu.

Uang Sekolah

Satu hal yang tida bisa diubah Franky adalah memperbaiki nasib petani kopi di Sumbawa, NTB. Dengan potensi biji kopi yang nikmat, petani di Sumbawa seharusnya bisa ikut mengecap kenikmatan bisnis kopi. Apa daya, jalan menuju ke kebun kopi masih buruk. Dia kesulitan menjangkau lokasi itu.

“Harga biji kopi disana sudah tinggi, sampai Rp 50.000 per kilogram. Padahal, teknik tanam, panen, dan penyimpananya belum tepat. Untuk mendampingi mereka juga tidak mudah karena untuk sampai kesana harus dengan sepeda motor selama 1,5 jam dan menembus jalan bergelombang. Kalau hujan, jalan hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki atau dengan kuda,” ucapnya.

Sejauh ini, Franky baru bisa mendampingi sejumlah petani di kaki Gunung Rinjani, Lombok.

Beberapa kali Franky juga mendapatkan tawaran pasokan biji kopi dari sejumlah daerah. Tidak semua pemasok jujur. Beberapa kali dia mendapato kiriman biji kopi yang dicampur dengan beling atau batu. Di samping kepercayaannya yang hilang, Franky juga harus merelakan uang yang sudah disetorkan hilang.

“Ini adalah uang sekolah saya,”katanya.

Franky angkawijaya

  • Lahir : Surabaya, 6 Oktober 1978
  • Pendidikan :
    • Curtin University of Technology, Perth, Western Autralia (2001)
    • Maquire University, Sydney (1999-1998)
    • Hotel Management-Cesar Ritz, Sydney (1997-1998)
    • Aquinas College-Perth, Estern Australia (1994-1996)
    • St Mark International College Perth,Western Australia (1993-1994)
  • Kontribusi di Komunitas :
    • Juri Indonesia Bariska Competitions (2011)
    • Ketua Dewan Juri Jakarta Barista Competitions (2013)
    • Juri Indonesia Barista

Sumber: Kompas, Sabtu, 14 Februari 2015