Perbaiki Pola Hidup, Batasi Konsumsi Gula-Garam

11 Agustus 2024. Hal. 18

Makin banyak dijumpai di Indonesia pasien cuci darah berusia muda akibat gagal ginjal. Gaya hidup yang buruk biang keroknya. Kurangi konsumsi gula dan garam, jangan malas bergerak.

PADA awal Agustus, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta menyampaikan data bahwa ada 60 anak yang menjalani terapi penyakit gagal ginjal di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSCM). Penyebabnya beragam.

“Pada anak-anak, biasanya penyebabnya glomerulonefritis. Bisa karena bawaan genetik atau autoimun. Penyebab kedua terbanyak karena gaya hidup yang kurang baik,” ujar dr Nuly Juariah Mahnulia SpPD KGH FINASIM.

Seseorang yang gemar mengonsumsi makanan-minuman manis serta tinggi kalori dan garam tanpa dibarengi olahraga berisiko mengidap diabeter dan hipertensi. Dua penyakit tersebut menduduki peringkat tertinggi sebagai penyebab ginjal tahap akhir yang nanti membutuhkan cuci darah.

“Kalau sudah cuci darah, itu terus seumur hidup. Tidak boleh bolos. Kondisi ginjalnya sudah tidak bisa balik seperti awal,” tutur dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi di RS Mitra Keluarga Gading Serpong itu.

Pada penyakit ginjal kronis yang disebabkan diabetes, biasanya ditemukan adanya kebocoran protein dalam urine. Disebut kronis apabila terjadi penurunan fungsi atau terdapat kerusakan struktur ginjal selama lebih dari tiga bulan.

“Gula darah yang tinggi dalam kurun waktu lama akan menimbulkan stres oksidatif. Oksigen ke sel-sel ginjal pun akan berkurang. Pada stadium 1 dan 2 belum muncul gejala, masih terasa normal,” beber dokter yang juga berpraktik di RSUD dr Adjidarmo Rangkasbitung, Lebak, Banten itu.

Segera cek urine lengkap apabila muncul bengkak pada wajah, kelopak mata, perut, atau kaki. Waspada jika urine berubah kemerahan atau berbusa. “Mual muntah, sesak napas juga apabila sudah terlalu tinggi racunnya,” lanjutnya. Periksakan ke dokter untuk memastikan diagnosis penyakit ginjal kronis.

Dokter Nuly berpesan untuk beralih ke gaya hidup sehat. Batasi konsumsi gula tambahan pada anak tidak lebih dari 25 gram per hari dan pada dewasa 50 gram per hari. Makanan tinggi garam juga harus dikurangi. Hanya boleh 5-6 gram per hari. Sebaiknya menghitung jumlah kalori serta garam dan gula dalam makanan yang dikonsumsi.

“Kenyataannya, sehari-hari kita makan fast food seperti pizza, burger, donat, dan makanan-makanan olahan yang tinggi kalori dan garam. Bisa 50 gram tanpa kita sadari itu. Bayangkan kalau tiap hari menumpuk garam, hipertensi, lama-lama gagal ginjal kronis,” kata dia.

Sebagai gantinya, konsumsi makanan gizi seimbang. Barengi dengan olahraga teratur tiga kali sepekan untuk membakar lemak. Semua itu penting dibiasakan sejak dini.

Sebab, prevalensi penyakit ginjal kronis terus meningkat. “Pada 2019, penyakit ginjal peringkat ketujuh penyebab kematian global. Diperkirakan, 2040 menduduki peringkat kelima. Di tempat saya, dewasa paling banyak, tapi usia muda memang ada peningkatan. Ada tiga pasien saya yang cuci darah itu masih SMP, SMA, dan kuliah,” ungkap dr Nuly.

Lakukan pemeriksaan fungsi ginjal sederhana. Di antaranya, rutin cek tekanan darah dan urine. Adanya protein dalam urine merupakan tanda awal penyakit ginjal. (lai/c12/nor)