Penulis : KHAERUL ANWAR

Sepi membalut suasana Desert Point Tanjung Kablet, Dusun Bangko-Bangko, Desa Batu Putih, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Minggu (14/1). Sebagian besar penginapan tutup. Selain itu, jalan, pesisir, ataupun menara tempat fotografer dan peselancar memantau serta mengabadikan ombak jadi tempak lengang. Ini karena dari Januari hingga Mei merupakan masa sepi wisatawan.

Sayup-sayup terdengar suara ombak di antara deru mesin mobil Nissan Navara double cabin yang merembat mendaki jurang bebatuan menuju dessert point-obyek wisata berselancar yang oleh masyarakat disebut Tanjung Kablet, Minggu (14/1). Lokasi itu berada di wilayah Dusun Bangko-Bangko, Desa Batu Putih, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, atau sekitar 75 kilometer arah tenggara Mataram.

Sang pengemudi, Ivan Juhandra, dari bagian Humas Balau Konservasi Sumber Daya Alam NTB, tampak tenang memilih jalan berbatu naik-turun sejauh dua kilometer yang masuk kawasan Taman Wisata Alam Bangko-Bangko, apalagi di beberapa titik jalan ini relatif sempit: cukup untuk satu mobil roda empat.

Suara “galuh” ombak semakin keras ketika tiba di pantai berpasir putih itu. Gulungan ombak beriringan dengan gelombang dari tengah laut mengempas buih ke pantai yang seaakan menghadirkan “musih alam”. “Ini (ombak) kecil Pak. Kalau bulan Juni, Juli, Agustus, dan September, ombak di sini setinggi rumah,” ujar Basri (25), pemandu wisata, warga Dusun Bangko-Bangko.

Hari itu ombak di semenanjung yang berhadapan dengan Samudra Indonesia itu tidak terlalu besar. Bagi yang awam mungkin sudah ciut nyalinya meski sekadar mandi atau berenang. Satu-dua warga lokal terlihat mencari kerang di pantau itu.

Puluhan penginapan sederhana berdinding gedek juga tertutup. Kondisi ini agak berbeda dari Juni hingga September ketika ombak semakin ganas yang memang dicari para peselancar untuk adu nyali.

Saat ramai kunjungan, Tanjung ini bagai “kampung turis” ramau oleh hilir mudik para bule. Mereka datang menumpang perahu motor dari Pantai Kute, Bali ataupun dari Mataram, ibu kota NTB, yang berjarak 75 kilometer ke pantai itu. Mereka menginap di penginapan sedergana milik warga bertarif Rp 150.000-Rp 300.000 per malam dengan pelayanan terbatar, kata Bahri, petugas TWA Bangko-Bangko.

Nama Tanjung Kablet yang melekat pada pantai itu, menurut Ahmad JD, pemerhati budaya Sasak, Lombok, berasal dari kata kablet yang berarti terpaksa atau tidak ada pilihan. Penamaan itu mengingat ratusan tahun silam lokasinya tersembunyi di balik kawasan hutan lebat dan sulit dijangkau.

Pada zaman dulu, untuk mencari air tawar, warga harus menempuh jalan pintas menyusur semenanjung Pantai Bangko-Bangko selagi air surut. Karena tempo air surut relatif singkat, warga harus memperhitungkan perjalanan pergi-pulang. Jika perhitungan perjalanan pulang meleset, warga dipaksa menginap semalam menunggu air laut surut.

Pantai ini berada tak jauh dari TWA Bangko-Bangko seluas 2.169 hektar yang menawarkan flora dan fauna, seperti ayam hutan, burung koakiu, raja udang, pohon biduri, dan pandan laut, sekaligus panorama Gunung Agung di Pulau Balu dari kejauhan. Masuk sekitar 1 km ke TWA akan di jumpai reruntuhan benteng dan meriam peninggalan penjajahan Jepang, atau bisa juga berjemur di Pantai Bangko-Bangko yang berair jernih dan berpasir putih.

Namun, bagi peselancar, bolehlah menikmati sensasi ketegangan dengan ombak pantai Tanjung Kablet alias Desert Point. Terlebih lagi International Surfing Association menempatkan desert Point di urutan ke-6 dari 10 pantai tujuan selancar dengan ombak terganas setelah Pantai Cycplos (Australia Barat), Teahupo O (Tahiti), Shipsterns (Tasmania), Dungeons (Cape Town, Afrika Selatan), Pipeline (Oahu, Hawaii). Kemudian ada The Cave (Eceira, Portugal), Lunada Bay (Califormia, AS), Gringos (Arica, Chile) dan Pantai Tarqua (Lagos, Nigeria).

Desert Point Tanjung Kablet dinilai mempunyai kekhasan : ombak kiri (left hand). Maksudnya, ketika berselancar, peselancar dan papannya hanya bisa meluncur ke sisi kiri. Ombaknya membentuk dinding cekung selama lebih 10 detik dan membentang sepanjang 300 meter. Tipe ombaknya yang berketinggian 3 meter tidak mudah pecah hingga ke tepian pesisir. Itulah momen yang sangat disukai para peselancar kaliber dunia.

Sumber : Kompas 5 Febuari 2018 Hal 23