Dr. Handrawan Nadesul.

Orang bertanya apa betul sekarang penyakit TBC atau tuberculosis sudah masuk gedongan? Anggapan ini berangkat dari cerita lama bahwa penyakit infeksi yang sering mengenai paru-paru ini gadihnya menyerang orang bawah. Aneh kalau orang yang tinggal di gedongan sampai kena penyakit yang biasanya milik orang susah.

Pada saat yang sama masih tumbuh anggapan bahwa penyakit infeksi oleh hasil ini akibat kutukan, kalau bukan sebab turunan. Kedua anggapan lara itu tentu keliru. Nyaris tidak ada penyakit, apalagi kalau jelas penyebabnya Infeksi, kutukan penyebabnya. Bukan pula sebab turunan, karena terbukti ada basil tuberkulosis biang keladinya. Itu berarti Anda semua berisiko terserang juga. Mengapa?

Droplet infection

Indonesia masih belum tuntas membasmi TBC melihat angka penyakit infeksi ini yang masih belum kunjung menyusut. Pertama, lantaran masih banyak pengidap TBC yang tidak tuntas menjalani pengobatan, atau masih banyak kasus TBC terluput dari sentuhan atau kemudahan berobat. Pengobatan TBC memerlukan waklu sekurangnya enam bulan minum obat tanpa satu hari pun boleh terhenti. Tidak semua pasien bisa bertekun berobat sekian lama, kendati obat diberikan secara cuma-cuma. Pasien putus berobat Ini yang kemudian menjadi sumber penular potensial dalam masyarakat.

Pemerintah punya program menyisir kasus TBC yang ada di masyarakat, namun belum seluruhnya terliput, sehingga masih saja ada yang lolos tak tersentuh pengobatan. Selain angka kejadian penyakit tetap bertambah, angka total penyakit dengan sendirinya masih bercokol di peringkat atas.

Itu sebabnya lingkungan di sekitar kita, di tempat pengidap TBC banyak berada, berpotensi untuk menjadi ajang penularan. Tempat-tempat umum seperti pasar, gedung bikskop, terminal, stasiun, termasuk ketika berada di kendaraan umum, kereta api, bus, dan angkot, tidak menutup kemungkinan sebagai penumpang pesawat terbang.

Bagaimana basil TBC ditularkan? Lewat percikan ludah pengidap TBC. Percikan ludah beterbangan di udara sekitar pengidap TBC sewaktu bercakap-cakap, atau sewaktu pengidap TBC terbatuk, atau bersin. Satu yang paling sering sebab ludah pengidap TBC dibuang sembarangan, ludah dan biasanya sudah bercampur dahak yang bersama dengan basil TBC di permukaan tanah lalu akan mengering.

Setelah ludah kering, basil TBC akan terbang bersama debu ke udara, lalu dihirup masuk bersama udara pernapasan. Ini yang disebut cara penataran droplet infection.

Makin banyak kasus TBC di tengah masyarakat, makin penuh udara sekitarnya dicemari oleh basil TBC. Makin kita dekat dengan lingkungan yang berbasil TBC, makin besar risiko kita tertular basil TBC. Itu berarti semua orang yang berada di sekitar pengidap TBC berisiko tinggi untuk tertular, tanpa kita tahu dan sadari, karena pengidap TBC belum tentu terlihat sedang sakit.

Batuk, kurus, pucat

Basil TBC manyerang segala umur, sejak masih balita sampai usia lanjut. Tidak semua yang tubuhnya dimasuki basil TBC pasti jatuh sakit TBC selama daya tahan tubuhnya memadai. Mereka yang sudah diimunisasi BCG mestinya Iebih kebal terhadap TBC, maka keberhasilan vaksinasi awal, ketika usia bayi, menentukan keberhasilan menekan angka kejadian TBC suatu negara. Cakupan imunisasi BCG kita masih memprihatinkan.

Peliknya, di awal-awal penyakitnya, TBC nyaris tanpa gejala. Namun seiring waktu, ada tanda-tanda yang muncul. Pada bayi, mungkin berat badan tidak bertambah, dan tidak mau menyusu. Pada arang dewasa, badan bertambah kurus, belum tentu selalu ada batuk, dan umumnya pucat. Jika gejala berlanjut dan kecurigaan bertambah, dokter kemungkinan akan mendengar bunyi abnormal pada paru-paru.

Untuk memastikan positif TBC, dilakukan pemeriksaan tes Mantoux, yakni menyuntik lengan bawah dengan bahan protein basil TBC, lalu dibaca 24 jam kemudian.

Pada bayi dan anak apabila bekas suntiknya membengkak lebih dari 10 milimeter, dinyatakan positif TBC. Untuk memastikan ini betul kasus TBC, dilakukan foto rontgen paru. Kalau betul kasus TBC, dokter melihat ada gambaran corakan khas pada paru, bisa sesisi paru, bisa pada kedua sisi.

Segera setelah didiagnosis TBC, dokter langsung memberikan paket obat anti-TBC sekurangnya 3 macam yang wajib diminum setiap bari, tanpa boleh satu hari pun terputus. Mengapa minum obat tidak boleh terputus? Agar basil TBC tidak kebal obat nantinya. Jika basil kebal obat, maka dokter perlu mengganti obat dengan anti-TBC generasi lebih mutakhir, dengan harga yang lebih tinggi.

Pengobatan TBC biasanya memerlukan waktu 6 bulan nonstop, sambl memerhatikan menu harian yang perlu memadai asupan protein, kalsium, dan cukup cahaya matahari. Basil TBC subur di ruangan tanpa cahaya matahari, dan kurang bervenitilasi. Berjemur dan bergiat fisik diperlukan semua pasien TBC.

Setelah selesai minum obat 6 bulan, dilakukan foto rontgen paru ulang. Kalau hasilnya masih belum menunjukkan paru-paru sudah bersih dari TBC, obat perlu dilanjutkan 3 bulan lagi. Pasien baru dinyatakan sembuh kalau foto rontgen sudah bersih. Biasanya pasien akan tampak lebih gemuk, tidak pucat lagi, dan nafsu makannya membaik.

Penularan hanya oleh TBC terbuka

Penyakit TBC paru ada dua jenis, TBC terbuka apabila dahaknya positif berbasil TBC. Sebaliknya apabila dahaknya negatif basil TBC, berarti tergolong jenis TBC tertutup. Untuk itu dilakukan pemerkisaan mikroblologis, apakah akan kedapatan basilnya di dalam dahak yang diperiksa.

Hanya TBC jenis terbuka yang berpotensi menularkan, dan kelompok ini yang membahayakan orang di sekitarnya. Paling berisiko kalau pengidap TBC terbuka berprofesi guru. Percikan ludahnya menyebar ke seluruh ruangan kelas setiap hari.

Perhatian juga perlu diberikan apabila ada anggota keluarga yang positif TBC terbuka. Pastikan semua anggota keluarga belum ada yang tertular. Setelah itu setiap anggota keluarga diberikan perlindungan anti-TBC, berupa minum tablet untuk sekian bulan, atau memberikan vaksin anti-TBC bila kedapatan ada anggota keluarga yang test Mantoux positif. Khususnya bila dalam keluarga ada balita. Kelompok balita dan kelompok usia lanjut tergolong lebih rentan tertular TBC.

Perbaiki sistem ventilasi ruangan rumah, dan menambah cahaya matahari memasuki setiap ruangan. Itu sebabnya mengapa penyebaran TBC lebih gencar berlangsung di pemukiman kumuh, dan padat penduduk. Pada kelompok kurang gizi, pemukiman udara kurang segar, dan kekurangan cahaya matahari ke dalam ruangan rumah, merupakan faktor pendukung mengapa TBC di lingkungan seperti itu mudah sekali menyebar luas.

Kebanyakan, kasus TBC yang tidak diobati akan berkembang komplikasi mengenai otak, tulang, usus, atau ginjal. Komplikasi ke otak pada balita berujung kematian, atau kalaupun bertolong akan menyisakan kecacatan sepanjang hayat. Pada orang dewasa, komplikasi ke selaput paru menimbulkan paru-paru terendam cairan (pleural effusion) , dengan gejala sesak napas, bukan jarang berujung kematian juga. Komplikasi juga bisa ke usus.

Kini kasus TBC mendampingi HIV

TBC orang godongan memiliki risiko tertular dari lingkungan tempat mereka beraktivitas. Mungkin di kantor, di tempat kerja, atau bisa jadi di tempat umum juga. Walaupun di tengah-tengah kerumunan orang kecukupan, bukan tidak mungkin mereka juga mengidap TBC. Mungkin dari supir kalau bukan asisten rumah tangga, atau baby sitter.

Penting untuk memastikan sopir, asisten rumah tangga, maupun baby sitter sudah bebas TBC terlebih dahulu sebelum menerimanya bekerja. Jika bayi dan anak yang masih kecil sudah terinfeksi TBC tentu terganggu tumbuh-kembangnya, selain ada bahaya komplikasi ke otak, tulang, usus, atau ginjalnya.

Zaman sekarang ketika wabah HIV sudah terbendung, mengancam semua strata masyarakat, setiap ada menemukan kasus positif TBC, bahkan dengan orang yang tidak diduga-duga sekaliapun, harus dipikirkan kalau itu tersangka kasus HIV.

Kita tahu akibat HIV, sistem kekebalan tubuhnya sangat menurun dan lemah, sehingga basil TBC yang pada tubuh normal akan mudah dienyahkan. Tubuh seIemah pengidap HIV, tak mampu menumpas basil TBC yang memasuki tubuhnya, bahkan infeksi yang paling enteng pun tak mampu dilawannya.

Sekarang ini, bila dokter menemukan kasus TBC, segera langsung memikirkan kalau ini juga kasus HIV, dan umumnya betul begitu. Menemukan kasus TBC sekarang bisa berarti sebagai pintu masuk untuk menemukan kasus HIV.

Kita tahu HIV tidak selalu harus ditularkan lewat hubungan seksual. Itu maka sejumlah kasus HIV tidak pernah menyangka kalau dirinya positif HIV karena yakin tidak pernah melakukan hubungan seksual berpotensi tertutar HIV.

Kalau ternyata betul positif HIV, sumbernya kemungkinan dari dokter gigi. Peralatan dokter gigi yang tidak disterilisasi secara besar, yang mestinya wajib disterilasi dengan panas bertekanan tinggi, agar virus HIV termasuk virus hepatitis bisa musnah. Konyol pasien gigi yang dirawat setelah dokter gigi merawat pasien positif HIV, risiko tertutar lewat peratatan gigi yang kurang steril itu berpotensi terbuka lebar.

Kasus “HIV honoris causa” seperti diatas yakni kena HIV bukan lewat hubungan intim, sama bisa dialami siapa saja lewat peralatan bedah, selain peralatan dokter gigi yang tanpa melakukan hubungan seksual berpotensi tertular namun tetap tertular HIV juga.

Dimana-mana negara maju ada regulasi, semua kamus HIV dan tentu hepatitis B dan hepatitis C, diatur mendapat giliran terakhir pada hari tindakan bedah, dan akan perawatan gigi, supaya tidak sampai menularkan pasien yang mendapat giliran sesudahnya. HIV dengan TBC barang tentu juta lebih memberatkan.

 

Sumber: Intisari, Januari 2019