
Kata konspirasi rasanya sudah sangat akrab kita tidak dengar, mungkin juga konspirasi sudah menjadi sebagian dari beberapa hal yang orang lain sukai. Teori-teori yang adapun juga banyak memberikan pro dan kontranya terhadap masyarakat luas. Ada yang percaya, ada juga yang menolak keras adanya teori konspirasi tersebut. Di zaman yang sudah berkembang dan kaya akan teknologinya ini, ternyata masih banyak loh orang yang percaya dan mengikuti teori konspirasi yang ada. Adanya teknologi yang terus berkembang sepertinya tidak membuat pemahaman atau rasa keingin-tahuan untuk mencari tahu mengenai teori yang ada berkurang. Ada beberapa alasan yang membuat teori konspirasi masih tetap hidup di era digital ini.
Pertama, kebutuhan seseorang untuk memiliki kerangka pikir atau informasi dasar untuk dapat menjelaskan suatu fenomena. Ini hal yang biasa sebenarnya, manusia memang punya rasa ingin tahu yang tinggi, tidak suka pada ketidakpastian, dan ingin mendalami suatu kejadian yang ganjil. Tapi bagi penganut teori konspirasi, penjelasan umum tidaklah cukup. Maka dari itu, biasanya dalam penjelasan konspiratif ada tambahan lain seperti spekulasi (ada agenda tertentu yang tidak diketahui publik), kompleks (biasanya melibatkan beberapa aktor atau peranan), dan tidak dapat dibuktikan ketidakbenarannya. Contohnya nih, salah satu konspirasi yang paling besar seperti bumi datar. Orang-orang yang percaya mengenai konspirasi tersebut memberikan alasan yang kuat untuk memutuskan segala teori bumi bulat. Mereka percaya bahwa NASA yang selama ini memberi gambar atau foto bumi melalui satelit itu telah di edit, sehingga semua yang ditunjukan oleh NASA itu adalah kebohongan. Ini akan menjadi hal yang sangat menarik teruntuk kalian yang sedang mencari kebenarannya. Sebagai manusia, yang tidak bisa mengetahui mana yang benar dan salah, maka kita hanya bisa menerka-nerka dan memilih mana sih kira-kira yang paling masuk akal? Dan itu sebenarnya adalah hal yang bebas dilakukan dan juga menjadi salah satu alasan yang kuat mengapa konspirasi masih hidup sampai sekarang.
Motivasi kedua didorong oleh kebutuhan manusia akan rasa aman dan kontrol atas lingkungannya. Seperti penjelasan sebelumnya, para penganut teori konspirasi tidak puas hanya mengacu pada penjelasan umum (dalam menjelaskan fenomena atau kejadian tidak terduga). Mereka lalu beralih ke teori-teori konspirasi karena narasinya mengidentifikasi sederet aktor dan ancaman yang berbahaya. Komponen inilah yang membuat para penganut teori konspirasi merasa lebih aman karena sudah tahu ‘kambing hitamnya’. Mereka juga merasa lebih punya kuasa atas kejadian tidak terduga karena merasa lebih tahu daripada masyarakat awam.
Ketiga adalah motivasi sosial, yaitu kebutuhan seseorang untuk menjaga pandangan positif dirinya dan kelompok sosialnya. Di sini, narasi konspiratif dijadikan alat pelindung seseorang dan kelompoknya untuk menyudutkan dan menyalahkan kelompok lain atas peristiwa negatif.
Nah dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa teori ini masih sangat diminati di seluruh dunia. Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu masih percaya teori konspirasi?
Daftar Pustaka
Leonard, Carolina (2020, Juni 2). Kenapa di Era Internet Masih Ada yang Percaya Teori Konspirasi?. Remotivi.or.id. diakses pada https://www.remotivi.or.id/mediapedia/597/kenapa-di-era-internet-masih-ada-yang-percaya-teori-konspirasi. 14 April 2021.
Nurdian, Graha (2020, Mei 16). Teori Konspirasi, Kenapa Orang Mudah Percaya dan 3 Alasannya. Grahanurdian.com. Diakses pada https://grahanurdian.com/kenapa-orang-mudah-percaya-teori-konspirasi/. 14 April 2021.
