Biasanya kedai makanan selalu ingin terlihat menonjol di tengah keramaian jalan demi menjaring pelanggan datang. Namun tidak semua seperti itu. Seperti hal nya Kedai Soto Cawang yang berlokasi di pojokan parkiran bus Cawang sebelah Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia.

Letaknya yang terpencil dan mojok di antara parkiran bus dan motor seolah membuatnya tersembunyi dari hiruk pikuk Jalan Cawang, Jakarta Timur. Eksis sejak tahun 1991, kedai ini tetap mempertahankan ciri khasnya  dengan tidak melakukan perombakan terhadap ornamen kedai yang dijaga keasliannya.

Ciri khas interiornya masih serba tahun 1990-an dengan pajangan kalender, kotak tempat kerupuk serta bangku plastik. Mulai buka pukul 8 pagi, waktu tutup kedai soto ini juga tidak menentu. Biasanya tengah hari. sudah tutup, tapi terkadang sampai jam 3 sore baru ludes.

Mengantisipasi pengunjung yang membludak, KONTAN menyambangi kedai tersebut saat jam masih menunjukkan pukul 10 pagi. Pasalnya, kedai ini kerap ramai saat jam makan siang. Kendati baru buka, Nampak sudah ada beberapa pelanggan tengah asyik menyantap soto khas Betawi yang dijajakan kedai ini.

Selain dari Jakarta, pelanggannya juga banyak dari Tangerang, Bandung, hingga Surabaya yang sengaja datang untuk menyantap Soto Cawang.

Modifikasi menu

Soto Cawang memiliki ciri khas, baik dari segi cita rasa maupun bahan-bahan yang digunakan. Beda dengan soto Betawi umumnya, Soto Cawang juga memiliki cita rasa khas soto Bogor dengan tambahan perkedel dalam setiap porsinya. Ini beda dengan soto Betawi lainnya yang mengguna kan kentang rebus.

Cara penyajiannya juga berbeda, tidak menggunakan mangkok seperti kebanyakan soto lainnya, melainkan memakai piring. Dengan ciri khasnya tersebut, Soto Cawang meno lak disebut menjajakan soto Betawi. “Banyak modifikasi yang kami lakukan, sehingga tidak ada yang menyamai,” ujar Cepi Sutisna, Pemilik Soto Ca wang.

Resep yang digunakan merupakan resep turun temurun dari kakeknya, sehingga cita rasanya masih sangat otentik. Cikal bakal kedai ini memang sudah dirintis kakeknya yang mulai berjualan pikulan sejak tahun 1952. Kemudian di tahun 1968 membuka kedai pertamanya di Cawang Bawah samping Kantor Badan Narkotika Nasional (BNN). Dari situ, terus pindah ke lokasi sekarang sejak tahun 1991.

Penasaran dengan rasanya, kami pun memesan soto campur dan soto daging paru yang memang paling direkomendasikan. Ketika pesanan soto paru datang, cicipan pertama sudah membuat kami terkesan. Pasalnya, kuah sotonya terasa sangat segar dan khas. Isian parunya juga gurih dan renyah ditambah tomat segar, sehingga menambah lezat saat menyantapnya.

“Kami memasaknya masih pakai bahan alami tanpa penyedap dengan proses yang alami, masih pakai kayu dan kompor minyak,” ujar Cepi.

Memang suapan pertama seperti membawa kita bernostalgia ke cita rasa soto asli tanpa pengawet. Dengan kuah kental serta emping melinjo membuat cita rasa soto lebih nikmat, dengan sensasi krenyes di mulut. Berbeda dengan soto lainnya, soto parunya terasa kenyal, gurih dan juicy di mulut. Belum lagi kuah segar membuatku nyahan demi kunyahan semakin nikmat.

Porsinya yang terdiri dari tiga potongan besar daging tebal juga cukup membuat kenyang perut. Bahkan, satu piring soto bisa disantap berdua karena berlimpahnya daging dan isian di dalamnya. Selain soto paru, kami juga mencoba soto campur yang terdiri dari daging, kikil dan paru. Menu ini menjadi salah satu andalan yang banyak dipesan pelanggan.

Sensasi gurih, lembut dan kenyal yang berasal dari tekstur daging, paru dan kikil sangat maknyus di mulut, bikin ketagihan. Diguyur dengan kuah kental serta tambahkan sedikit sambal bakal membuat makan siangmu puas.

Cukup dengan membayar Rp 55.000, pelanggan sudah mendapatkan paket soto komplit yang terdiri dari sepiring soto dan nasi plus segelas teh manis. Sementara jika masih menginginkan tambahan daging cukup membayar seharga Rp 15.000.

Dalam sehari, kedai ini mampu berukuran lebih dari 50 kilogram (kg) daging.

Resep Warisan Turun Temurun

Haji Suhana merintis usaha Soto Cawang sejak 1968 dan mewariskan usahanya ke anak dan cucu dengan resep yang tidak pernah berubah sedikit pun. Selain tidak menggunakan bumbu penyedap, Soto Cawang juga dimasak dengan menggunakan bakar dan kompor minyak agar tidak merusak cita rasa.

Ditambah turun resep temurun dan tanpa bahan penyedap, membuat cita rasa Soto Cawang sulit ditiru karena rasanya yang sangat khas. Apalagi saat ini Soto Cawang hanya ada satu, tidak ada di tempat lain sehingga pelanggan akan tahu mana yang asli dan mana yang tiruan.

“Dari tahun 1968 pelanggan kami ya bukan cuma ribuan, bisa jutaan malah. Saya ini generasi ketiga, masih ada lo pelanggan kakek saya yang datang kesini, bahkan ada yang 20 tahun baru ke sini lagi karena kangen rasa sotonya,” ujar Cepi Sutisna, Pe milik Soto Cawang.

la mengaku, selalu menjaga resep maupun bahan makanan dan diolah sesuai dengan yang diajarkan kakeknya agar pelanggan tidak lari karena rasa yang berubah. Mulai Mulai dari penggunaan perkedel,cara pe nyajian hingga olahan daging dan bumbu semuanya masih otentik seperti tahun 1968.

Cepi bilang, ia akan terus mempertahankan ra cikan resep yang diajarkan oleh kakeknya secara turun temurun. Kini, ia pun tengah mengaj salah satu putrinya yang masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk melestarikan cita rasa soto warisan buyutnya.

 

Sumber: Tabloid Kontan.22-28 Maret 2021.Hal.24