Tergoda Laksa yang Kuahnya Juara. Tabloid Kontan. 14-20 Desember 2015.Hal.40

Icip – icip ketupat laksa di Warung Laksa Betawi Asirot.

Fransiska Firiana

Pengaruh budaya China terhadap kebudayaan masyarakat Betawi tidak hanya kesenian panggung seperti lenong dan tari topeng, tetapi juga sampai ke kulinernya. Salah satu kuliner khas masyarakat Ibukota yang mendapat pengaruh etnis Tionghoa adalah laksa.

Laksa merupakan makanan  yang identic dengan mi yang disiram kuah aneka bumbu makanan yang kaya rempah ini hasil kebudayaan Peranakan melayu dan china.

Namun dalam laksa Betawi, Anda tidak akan menemukan mi, melainkan ketupat yang diguyur dengan kuah yang kaya rempah dan aneka sayuran segar. Bila penasaran dengan laksa gaya Betawi, Anda bertandang ke Warung Laksa Betawi Asirot.

Warung ini berada  di daerah perbatasan Jakarta Barat dan Selatan, tepatnya di Jalan Asirot Nomor 2 Kampung Baru. Bila Anda datang dari arah Permata Hijaum saat tiba di lampu merah Rumah Sakit Medika Permata Hijau, belok kiri ke arah pasar Kebayoran Lama. Sekitar 1 kilometer (km), di sisi kanan ada Jalan Asirot. Susuri jalan itu sekitar 1 km, tepat sebelum tanjakan, sesudah jembatan, Anda akan menemukan warung laksa di sisi kiri jalan.

Penampakan dari luar, warung ini tak berbeda dengan rumah tinggal. Hanya ada papan pengenal berukuran kecil minus menu makanan yang dijual.

Tapi masuk saja, dan segeralah pesan laksa Betawi. Tak butuh waktu lama, Anda akan dihadapkan pada piring yang berisi potongan ketupat diguyur kuah kari berwarna kuning. Paduan ketupat dan kuat lengkap dengan taburan daun kucai, taoge, dan daun kemangi sangat menggugah selera.

Semur jengkol

Itulah berbedaan antara laksa Betawi dengan laksa bogor. Isian laksa Betawi tak sebanyak laksa bogor. Laksa bogor ada mi, potongan telur rebus, toge, kemangi, dan oncom.

Kunci kelezatan laksa terletak pada kuahnya. Dan, kuah kari di warung Laksa Betawi Asirot rasanya juara. Paduan rempah jahe, kunyit, kencur, lengkuas, daun jeruk, dan bawang merah dan putih, pas sekali. Rasanya tidak cemplang karena racikan bumbu yang pas dan tingkat kekentalan kuah karinya pas. Segarnya kuah yang terasa gurih dan sedikit pedas makin mantap dengan aroma daun kemangi.

Tak heran bila masakan ini dinamakan laksa. Sebab laksa ini sendiri diambil dari Bahasa Sansekerta yang memilik arti banyak. “Masakan ini memang banyak bumbu kunci. Ciri dari laksa Betawi adalah adanya tambahan ebi pada bumbunya,” ujar Ahmad Fidli yang kerap disapa Epit, sang empunya warung laksa ini.

Sekalipun tidak terhidang panas-panas, semua sudah siap saji, laksa ini tetap menggoda. Ketupatnya terasa padat dan gurih. Epit membuat sendiri ketupatnya. “Kalau beli di pasar, khawatir diberi pengawet. Kami melakukan sendiri mulai melipat janur sampai ketupat jadi,” ujar Epit yang melanjutkan usaha warung laksa dari sang nenek sejak tahuun 2205.

Dalam sehari warung Epit menghabiskan 28 liter beras untuk membuat ketupat. Untuk mendapatkan ketupat yang padat dan benar benar matang, perebusannya memakan waktu sampai 12 jam.

Sebagai lauk, Anda bisa memilih semur jengkol yang super empuk dengan citarasa manis dan pedas lada.kuah semurnya berwarna coklat pekat dan kental. Sungguh memikat. Aroma jengkolnya pun tak tercium.

Bisa juga Anda pesan tambahan lak seperti empal, semur daging, semur kentang, atau balado telor sebagai teman laksa. “Banyak yang suka semur  tahu juga, sehari bisa menghabiskan 100 tahu,” kata lelaki bertumbuh kekar ini.

Biar makin nikmat tambahkan sambal terasi. Jangan lupa biar makin komplit, tambahnya kerupuk udang yang gurih manis atau tambahkan taburan emping. Klop rasanya. Sealin laksa, ada menu ketupat sayur. Sayur yang warna kuahnya kuning kemerahan ini tidak menggunaka labu, tetapi menggunakan kacang panjang.

Harga di Warung Laksa Betawi Asirot cukup terjangkau. Seporsi laksa bisa ditebus seharga Rp 19.000. sedang banderol harga berbagai lauk berkisar Rp 2.000 – Rp 15.000 per potong. “Sehari bisa laku sekitar 100 porsi laksa,” ujar Epit. Tergoda menjajal laksa Asirot?

Tutup Selama Bulan Puasa

Penggemar laksa mungkin sudah taka sing dengan Warung Laksa Betawi Asirot. Gerai ini didirikan Hajah Muroni pada tahun 1970-an. Sekarang, warung laksa Asirot tak punya cabang lain. Lokasi warung ini juga tak berubah sejak  berdiri, masih menyatu dengan rumah tinggal mereka. Tak heran bila tatanan warung layaknya ruang makan di rumah sendiri.

Kapasitas tempat makan ini juga tak begitu banyak. Hanya sekitar 15 orang. Namun sang empunya warung memiliki kursi cadangan yang bisa digunakan untuk makan di teras warung. Tapi tanpa meja.

Fidli yang punya nama panggila Epit bercerita, sejak warung ini berdiri ada satu tradisi yang masih berlangsung hingga saat ini. “Setiap kali masuk ke bulan puasa, warung tutup secara penuh sampai usai lebaran,” kata lelaki berumur 29 tahun ini. Tradisi itu dilakukan untuk menghormati Ramadhan.

Namun demikian, bila ada pesanan dalam jumlah banyak, mereka siap melayani. Diluar bulan puasa, warung ini buka setiap hari pukul 10.00 sampai pukul 22.00. tak ada hari libur. Warung ini ramai saat jam makan siang dan makan malam. “Banyak yang beli untuk dibawa pulang,” ujar Epit.

Cuma kalau mau bawa kendaraan, sebaiknya amankan dulu tempat parkir. Warung ini tidak memiliki area parkir yang luas karena lokasinya yang tepat di pinggir jalan.

Sumber : Tabloid Kontan , 14 – 20 Desember 2015