Terpuruk Akibat Inflasi
Asia hampir porak-poranda saat dihantam krisis moneter,di pengujung 1990. Rupiah juga terjerat dalam pusaran krisis tersebut. Pada 14 Agustus 1997, usai mata uang baht Thailand remuk, nilai tukar rupiah terjun bebas hingga menyentuh angka Rp 16 ribu per dollar AS. Dalam sejarah keuangan dunia, selain rupiah, ada beberapa mata uang yang juga melemah tatkala diterjang. Berikut ini negara-negara itu.
Suriah
Dengan dukungan Iran, Rusia, dan China, Presiden Suriah Bashar al-Assad mencoba bertarung dengan sanksi-sanksi ekonomi Barat. Assad mulai menjalankan seluruh bisnisnya dengan menggunakan rial Iran, rubel Rusia, dan renminbi (yuan) China. la juga berharap langkah ini dapat menyelamatkan mata uang Suriah, lira. Usaha ini ternyata gagal melindungi lira yang kadung terimbas inflasi tinggi.
Mesir
Sejumlah kebijakan yang diam¬il Presiden Muhammad Mursi saat memerintah Mesir dinilai menyebabkan perekonomian Negeri Piramida itu memburuk. Pengendalian modal dan harga menyebabkan kelangkaan dan penurunan nilai mata uang Mesir, pound. Selain itu, membuat mata uang asing menjadi langka seiring dengan melonjaknya harga bahan bakar. Pada 1 Juli 2013, sebelum Mursi digulingkan, tingkat inflasi tahunan di Mesir mencapai 27,1 persen atau tiga kali lebih besar dibanding laporan pemerintahan sebelumnya.
Iran
Rial Iran melemah akibat deraan sanksi ekonomi yang dijatuhkan negara-negara Barat terhadap Iran pada 2010. Sanksi tersebut merujuk pada ketidakpercayaan Barat atas program nuklir Iran. Saat itu, sebe¬narnya, nilai tukar resmi rial terhadap dollar AS di pasar gelap berbeda tipis. Namun, semenjak sanksi ekonomi diketok palu, perbedaan nilai tukar rial menguat. Pada 2012, Iran mengalami dua kali penurunan permintaan mata uang terparah, yakni pada awal September dan pertengahan Oktober. Saat itu, tingkat inflasi Iran masuk dalam kategori hiperinflasi atau lebih dari 50 persen per bulan.
Venezuela
Meski menjadi negara kaya minyak, Venezuela mengalami nasib yang tragis. Program belanja sosial besar¬besaran pada masa pemerintahan Presiden Hugo Chavez, cukup membebani keseimbangan ekonomi negara. Sejumlah kebijakan mendiang Chavez juga membuat perusahaan minyak negara, PDVSA, mengalami penurunan pendapatan dalam bentuk dollar AS. Untuk menambal defisit dollar AS ini, Bank Sentral Venezuela menjalankan kebijakan pengurangan nominal mata uang bolivar. Langkah ini justru menyebabkan lonjakan inflasi tahunan sebesar 249,3 persen.
Argentina
Negeri Tango ini beberapa kali menghadapi inflasi. Pengendalian modal dan neraca transaksi yang labil, ditambah sejumlah kebijakan antibisnis, mengundang tekanan pada mata uang Argentina, peso. Pada suatu masa, di pasar gelap gelap, nilai tukar peso terhadap dollar AS 34 persen lebih rendah dibanding nilai tukar resmi. Angka tersebut memicu inflasi tahunan sebesar 24,8 persen.
Korea Utara
Negara yang menutup diri dari pergaulan internasional ini, mata uangnya—won—melemah akibat sanksi-sanksi ekonomi yang dijatuhkan Bal-at. Korea Utara (Korut) dihukum karena diduga secara diam-diam mengembangkan persenjataan nuklir. Kondisi keuangan Korut yang limbung diperparah inflasi. Pada 2009, Pemerintah Korut mencoba meredam gejolak moneter dengan mereformasi mata uang, mirip program rede¬nominasi dengan menghapus dua digit pada nominal won. Program ini malah memicu kepanikan di katangan konservatif Korut dan menimbulkan lonjakan inflasi yang kian parah. [*]
Sumber : Kompas 11 Agustus 2017 | Hal 55

