Tersenyum-Bersama-Jamu.-Kompas.13-Juli-2015.Hal.16

Jamu adalah salah satu warisan nenek moyang yang sangat populer karena diturunkan dari generasi kegenerasi dan terus dihidupi masyarakat. Tetapi, ke kaliurang yang letaknya lebih dari 20 kilometer ke luar Yogyakarta hanya untuk minum jamu?

OLEH NINUK MARDIANA PAMBUDY

Nyatanya itu yang kami lakukan. Menembut lalulintas cukup padat dari arah kampus Universitas Gadja Mada (UGM), Yogyakarta, membutuhkan kesabaran.  Dalam perjalanan lebih dari 30 menit it uterus muncul pertanyaan di kepala, jamu  macam apa yang disajikan sehingga orang mau bersusah  paya meminum segelas atau dua gelas jamu di sana. Prof Dr Warsito, ahli flu burung dari UGM, jamu disana berbedah dari tempat lain.

Rasa penasaran terjawab saat tiba di Merapi Farma Herbal. Dari jalan kaliuarang  kilometer 21.5, Hargobinangun, pekem, sleman tempat itu seperti rumah makan biasa. Ada bangunan tembok apik dengan ruang terbuka berisi kursi dan meja bambu. Yang membedakan adalah deretan kuali yang mengeluarkan uap. Aroma jamu langsung terhirup hidung.

Di dinding terlihat rak-rak berisi bungkusan dedaunan herba. Diteras sebelah kiri ada deretan pot berisi aneka tanaman obat. Pengunjung diberi daftar menu jamu siap saji, ada menu jagasrat untuk darah tinggi, jagasrat untuk gatal-gatal, dan masih ada 10 menu lain. Termasuk jamu untuk sehat pria dan wanita. Semua dihargai sama Rp 5.000 per gelas, kecuali jika memesan jamu spesial dengan tambahan madu,telur ayam  atau telur bebek. Pramuniaga dengan cetakan meramu jamu dari rebusan herba di kuali-kuali yang terus mengumpulkan uap.

Tempat tersebut menjadi berbedah karena jamu digodok langsung di depan pengunjung dari herba segar yang dikeringkan. Berjenis tanaman obat yang menjadi bahan baku jamu godok.

Belajar dengan senang

Suasana asri diperkuat kebun jamu seluas 3,5 hektar dibelakang rumah. Saat itu ada rombongan siswa SMA sedang berkunjung. Ada juga karyawan bank rakyat Indonesia berkegiatan di luar ruangan  disana.

“Saya selalu bercita-cita mengajarkan tanaman obat dengan  bersenang-senang, tidak membosankan,” ujar Sidiq Raharjo(40).

Dialah pendiri dan pemilik Merapi Farma herbal. Dia juga mendirikan kafe jamu di Yogyakarta. Harapannya jamu menjadi gaya hidup, sebagai minuman kesehatan, bukan hanya untuk menyembuhkan penyakit, slogannya “smiling with jamu”, tersenyum bersama jamu.

Pendidikan formal Sidiq adalah Fakultas teknik Universitas lampung. Pendidikan itu tidak diselesaikan karena hatinya tidak di situ, tetapi untuk memenuhi keinginan ayahnya.

Minat Sidiq pada tanaman obat terpicu ketika diminta membantu ekspedisi oleh peneliti dibalai penelitian tanaman obat ditawangmangu, Jawa Tengah, milik kementerian kesehatan. Dia ikut membantu pencarian berjenis tanaman obat hingga ke merauke, Papua, pada 1994-2002.

Dia lalu lebih mengenal jamu dari dau orang yang masing-masing memberi sidiq pengetahuan dan akhirnya saling melengkapi.

Dari R Broto Sudibyo, pahar herbal yang belajar di universitas Leiden, Belanda, SIdiq belajar resep jamu menurut filosofi jawa. Ada tida dasar jamu dia pelajarai : Pngguno(berguna) yang mensyaratkan dosis harus capai: pangroso(rasa), bahan yang dipakai harus bersesuaian:dan pangseliro yang mensyaratkan bahan jamu harus berkualitas, tidak boleh berjamur.

Guru lain adalah ahli jamu alah tiongkok yang tidak ingin namanya disebut karena filosofi ini sebetulnya dirahasiakan dari orang luar. Sidiq belajar tanaman jamu dikategorikan didalam tanaman raja, jenderal, asisten, ajudan, hingga pesuruh yang manfaatnya tergantung dari peran tanaman tersebut pada penyakit tertentu.

“Dari kedua ajaran itu saya menemukan resep sendiri,” jelas Sidiq diruangan khusus meramu jamu yang dia sebut ruang sacral”. Keempat tinding ruangan itu dipenuhi lemari berlaci  berisi aneka tanaman obat.

Sidiq meramu kedua ajaran tersebut . hasilnya, dia membagi bahan jamu menjadi tiga jenis: bahan utama untuk mengatasi sebab utama penyakit, bahan pembantu untuk mengatasi gejala dan membantu bahan utama, serta bahan pelengkap untuk menyingkronkan bahan dan pembantu.

Reformasi Produksi

Sidiq belajar membudidayakan sendiri tanaman obat pada tahun 1997, bermulah dari jenis-jenis yang sedang dicari pasar. Dia juga mulai menjual bahan tanaman obat kepabrik jamu.

Pada tahun 1996, dia melakukan reformasi produksi” jamu dengan mulai membuka “ warung jamu” di Hargobinangun dan mendirikan CV Merapi Farma Herbal.

Ketekunan Sidiq perlahan-lahan berbuah, Dari menyediakan bibit tanaman oba, kini Merapi Farma Herbal menyediakan jamu instan, jamu godok, dan racikan khusus. Gerai dan kafe jamu satu per satu dibuka dan Sidiq menawarkan  sistem waralaba. Alhasil, sat ini Merapi Farma Herbal ada di 300 gerai, toko, dan kafe di 22 provinsi. Dia bekerja sama dengan kaum ibu di sekitar kebun tanaman obanya untuk menambah pasokan bahan jamu.

Pelatihan pembuatan jamu dibuka Sudiq untuk sejumlah kalangan, termasuk dokter. Dia tak takut peserta pelatihan akan menjadi pesaing.

“sekarang era tidak ada lagi resep rahasia. Google memberi jawab terhadap banyak hal. Tetapi jamu ternyata berkaitan dengan siap yang membuat. Ada ketertariakan emosional dari konsumen,” papar sidiq, penerima penghargaan dari Presiden RI pada 2013 sebagai pusat pelatihan pertanian swadaya komoditas tanaman herbal.

Sudah 500 racikan jamu lahir dari tangannya dan sudah di uji coba. Lima buku resep jamu sudah terbit dan, menurut Sidiq, bukunya digunakan sebagai salah satu acuan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan. Cita-cita sidiq perlahan-lahan mulai terwujud, mengajarkan jamu dengan berbagai senang-senang, menjadi gaya hidup.

SIDIQ RAHARJO

  • Lahir: Tanjung karang,lampung,9 agustus 1975
  • Keluarga: Dian Brilika (anak)
  • Ahmad Ghofur Kalpataru (10)
  • Atika Nursiwi Lestarie (8,5)
  • Pendidikan: Fakultas Teknik Unversitas Lamping
  • Pekerjaan: Wirausaha jamu, pemilik CV Merapi Farma Herbal yang bergerak dalam budidaya, pembuatan, pelatihan, serta penjualan jamu instan dan jamu godok

Sumber: Kompas.13-Juli-2015.Hal_.16