Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ekonomi bangkit dari gejala perlambatan, sektor konsumsi sudah lari duluan.
POPULASI 250 juta penduduk dan kelas menengah yang terus tumbuh menjadi dua kaki kukuh yang menopang tubuh perekonomian Indonesia. Dua penyangga yang membuat kita masih bisa tetap tegak berdiri pada saat negara lain terhuyung kena empasan badai krisis ekonomi global.
“Saat ini kita dalam situasi yang tidak ada alasan untuk tidak optimistis,” ujar Sudhamek Agoeng Waspodo Soenjoto (A.W.S.) saat ditanya Jawa Pos tentang prospek ekonomi Indonesia 2016 dan beberapa tahun ke depan.
Sebuah pernyataan penuh semangat dari seorang yang puluhan tahun berkecimpung di sektor konsumsi, sektor yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi Indonesia. Sebagai gambaran, dari pencapaian 4,79 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015, 2,69 persen atau separo lebih disumbang dari konsumsi rumah tangga.
Menurut pebisnis kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 20 Maret 1956, yang sukses melambungkan GarudaFood sebagai pemain besar di sektor consumer goods itu, rebound atau mulai naiknya pertumbuhan ekonomi sejak triwulan III 2015 memang melegakan. Sebab, rebound tersebut memutuskan rantai perlambatan yang terjadi sejak sempat tahun terakhir. “Rebound akhir tahun lalu melegakan. Tapi, kinerja awal tahun ini lebih menggembirakan,” katanya.
Sosok yang masuk jajaran 40 orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2015 dengan pundi USD 665 juta (sekitar Rp 890 miliar) itu menyebutkan, sepanjang Januari 2016, sektor konsumsi nasional tumbuh 21 persen dibandingkan Januari 2015 (year-on-year). “Kami di GarudaFood tumbuh 20 perse, not bad at all (sangat lumayan, Red),” ucapnya.
Angka-angka dua digit tersebut, kata Sudhamek, memang menggembirakan. Sebab, pada 2015 sektor konsumsi mengalami kontraksi atau menyusut 4 persen. Sedangkan penjualan produk-produk GarudaFood tetap mampu tumbuh 5 persen. “Artinya, 2016 ini jauh lebih menjanjikan dibanding 2015,” ujarnya.
Dengan Kacang Garuda sebagai jangkar, GarudaFoods memang terus berinovasi mengembangkan beragam produk hingga ke biskuit dan minuman. Karena itu, selain inovasi daya beli menjadi faktor penting bagi kinerja perusahaan yang juga sukses mengekspor produk-produknya ke seantero Asia, Australia, Amerika Serikat, hingga Eropa tersebut.
Selain kuat dari sisi analisis bisnis Sudhamek mumpuni di bidang makroekonomi. Karena itu sosok yang dipercaya Presiden Joko Widodo masuk jajaran anggota Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) tersebut pun fasih bicara tentang peta ekonomi nasional, regional, maupun global.
Menurut Sudhamek, dengan kondisi perekonomian regional dan global yang masih dibayangi kelesuan, saat ini Indonesia masih harus mengoptimalkan potensi pasar domestik,” Mengoptimalkan pasar ekspor jadi visi jangka panjang. Tapi, saat ini pasar dalam negeri harus diamankan.” Tutur pebisnis yang 23 Januari lalu mendapat gelar dokter honoris causa dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga tersebut.
Selain GarudaFood, Sudhamek memiliki bisnis produksi stainless steel atau baja melalui PT Bina Niaga Multiusaha (BNM) di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat. Hingga April 2016, kata dia, order in hand atau pesanan untuk ekspor yang masuk sudah 20 persen di atas target. “Ini menarik. Artinya, ada momentum penguatan di pasar ekspor yang bisa dimanfaatkan,” katanya. (owl/c9/sof)
Jawa Pos Senin 15 Februari 2016
UC Lib-Collect

