Tiga Mahasiswa UC Ciptakan Imoveon, Tong Sampah untuk Menampung Keluhan Mantan_Siap Layani Curhat hingga Bantu Jual Hadiah Mantan. Jawa Pos. 29 Januari 2016.Hal.25,39

Berdasar hasil riset, mayoritas kasus bunuh diri remaja disebabkan patah hati. Tidak ingin kasus itu terus terulang, tiga mahaiswa Universitas Ciputra (UC) menciptakan “tong sampah” untuk menampung keluh resah tentang mantan.

 

Saking seringnya menerima curhat tentang asmara, Abraham Rehoel Kosasih, Felicia Musidora Khorlina, dan Florencia Riswanto sampai hafal kelakuan orang yang sedang patah hati. “Yang paling banyak ya nggak mau makan selama beberapa hari. Atau, sering murung dan menangis sendiri,” ujar Felicia. Jika orang patah hati dibiarkan begitu saja, mereka bisa berbuat yang “tidak-tidak”. “jangan sampai mereka melukai diri sendiri,” ujarnya. Berlatar belakang kondisi itu, tiga mahasiswa Universitas Ciputra tersebut menciptakan Imoveon. Itu adalah gerakan melalui social media agar orang bisa move on dari sang mantan. “Imoveon itu plesetan yang berarti saya move on,” sahut abraham.

 

Melalui akun di media sosial, mereka memosisikan diri sebagai psikolog handal. Ada beberapa tahap sesi yang mereka berikan saat menerima pasien curhat. Pertama, jelas Abraham, sesi mendengarkan. Saat itu pasien bisa berkeluh kesah hal apapun tentang mantan. “mereka boleh bercerita apa saja yang membuat putus dan patah hati,” ungkap mahasiswa jurusan psikologi tersebut.

 

Setelah sesi pertama dilalui, tahap kedua adalah menggali informasi. “Kami menjawab keluhan mereka dengan tanya-tanya informasi,” ungkap Florencia. Tahap kedua itu bertujuan membuat emosi pasien kembali tenang.

 

ADAKAH EVENT KHUSUS PARA MANTAN

“Supaya mereka feel better dulu,” katanya. Kalau sudah berhasil melewati tahap kedua, pasien masuk ke sesi curhat terakhir. Florencia dkk mengajak ngobrol santai pasien. Obrolan itu diarahkan agar pasien yang sedang patah hati menemukan penyelesaian. “Bukan solusi sembarangan. Sebenarnya solusi yang terbaik itu ya muncul dari mereka sendiri,” ungkapnya.

Sambil mengarahkan, mereka juga menyelipkan kalimat-kalimat motivasi kepada pasien agar semangat lagi. “ misalnya, kami yakinkan, apa dengan nggak mau makan, pacar kalian bisa kembali atau peduli,” tambah Felicia.

 

Saat berkonsultasi, ada pasien yang minta bertatap muka langsung dengan mereka. Ada pula yang curhat melalui media sosial. “Kalau saat ini paling banyak memang masih dari teman-teman yang kami kenal sebelumnya,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta, 12 Maret 1995, itu.

 

Sampai saat ini, lanjut dia, belum ada kasus yang mereka tangani mengalami kegagalan. “Akhirnya mereka bisa balik lagi dengan aktivitas seperti sedia kala,” kata perempuan 20 tahun itu. Kalaupun ada kasus yang berat, mereka tidak segan meminta bantuan kepada psikolog yang lebih andal.

 

Felicia menjelaskan, mayoritas pasien adalah perempuan. Menurut mereka, perempuan memiliki tingkat sensitivitas lebih tinggi daripada laki-laki. “Kalau cewek ya seringnya dibawa pikiran, kalau cowok biasanya cenderung cuek, malah tidak peduli,” ujarnya. “itu juga berdasar sumber riset yang kami baca,” tambah Felicia.

 

Selain menjadi “tong sampah” keluh kesah soal mantan, Imoveon kerap memotivasi lewat akun media sosial. “kami share kalimat-kalimat motivasi lewat akun Imoveon,” ungkapnya. Hal tersebut rutin mereka lakukan setiap hari.

 

Dalam sehari, mereka mengunggah kalimat motivasi sebanyak tiga kali. Mereka berbagi  tugas dengan menciptakan tiga karakter berbeda. Abraham menjadi karakter happy (bahagia). Dengan begitu, Abraham bertugas mengunggah kalimat-kalimat bahagia. “Waktunya pagi karena pagi memang saatnya harus berbahagia,” ujar Abraham

 

Lalu, Florencia menjadi karakter wise (bijaksana). “itu kalimat-kalimat bijak buat penyemangat,” ujar Florencia. “Kalimat itu kami share saat siang,” tambahnya. Sementara itu, Felicia bertugas menjadikan karakter sad (sedih). “ nah, kalimat-kalimat galau ini yang kami unggah saat malam. Soalnya paling banyak orang galau itu ya saat malam sebelum tidur,” ucap Felicia, lantas tertawa.

 

Tiga karakter tersebut disesuaikan dengan karakter pribadi masing-masing. “ini ceritanya Florencia itu orang paling bijak diantara kami bertiga. Kalau Abraham ini, orangnya mesti buat sekeliling bisa terus tertawa,” jelas Felicia. “Nah kalau Felicia sendiri, orang paling sering galau,” sahut Abraham dan Florencia, hampir bersamaan.

 

Kalimat-kalimat serta gambar yang mereka unggah diciptakan sesuai dengan karakter masing-masing. Namun, mereka juga sering mengadopsi dari sumber lain. “kalau mengambil literasi lain, buku atau media sosial lain, kami pasti mencantumkan sumbernya,” ujar Felicia

 

Berdasar posting yang diunggah, mereka menyimpulkan bahwa waktu galau meningkat tajam. “biasanya saat sabtu-minggu, pas malam,” kata Abraham. Mereka mengamati hal tersebut berdasar komentar follower (pengikut di akun media sosial). “banyak banget yang kasih komentar di posting-an kami saat akhir pekan. Isinya ya beragam,” ujarnya.

 

Felicia melanjutkan, kadar patah hati dalam diri seseorang terkait erat dengan memori yang dimiliki. Nah, memori itu paling banyak tersimpan dalam barang-barang yang diberikan sang mantan. “kalau lihat barang mantan, pasti langsung galau lagi, ingat mantan lagi,” ungkapnya.

 

Karena itu, barang pemberian mantan harus disingkirkan. “saat kami solusi itu, banyak teman yang berhasil move on lebih cepat,” terangnya. Karena itu, Imoveon juga mewadahi mereka yang mau menjual maupun menyumbangkan barang pemberian mantan.

 

Caranya, mereka membantu menjual barang tersebut melalui media sosial. Meski begitu, mereka tidak sembarangan menerima barang. Ada standar yang mereka tentukan. “yang pasti barang yang layak dijual lagi. Kalau sudah kotor atau jelek banget, ya tidak kami terima,” ujarnya.

 

Ada beberapa jenis barang pemberian mantan. Antara lain elektronik, aksesori, tas, dan boneka. Dari jenis barang itu, mereka juga membedakan berdasar harga barang. “ada tingkat dasar harga Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribu,” tuturnya. “yang harganya diatas Rp 1 juta itu termasuk barang mewah,” ungkapnya.

 

Hasil penjualan dibagi berdasar proporsi yang sudah disepakati. “kami 25 persen, 75 persen balik ke mereka (penjual, Red),” ungkap Abraham.

 

Namun, ada pula pasien yang memberikan barang mantan secara cuma-cuma. “itu berarti mereka sumbangkan. Nanti kami lelang kalau memang ada yang berminat,” ujar laki-laki kelahiran Bali, 26 Juni 1995, tersebut.

 

Kini, mereka berencana tidak sekadar bermain di media sosial. Mereka akan mengimplementasikan konsep Imoveon dalam sebuah event. “Nanti ada acara yang bisa dikunjungi secara langsung,” ungkapnya. “Kami sedang menggodok program acaranya nanti seperti apa,” lanjutnya. Dalam event tersebut, rencananya setiap pengunjung bisa lebih bebas membawa barang pemberian mantan untuk dilelang.

 

Mereka berharap Imoveon menjadi komunitas lebih besar dan memiliki anggota lebih banyak. “kami bersyukur pengikut akun media sosial kami terus bertambah dan semakin aktif,” kata Abraham. “ada juga tawaran kerja sama yang kami terima dalam penyelenggaraan event ini,” tambahnya.

 

Konsep Imoveon telah mendapat apresiasi dari banyak pihak. Pada November lalu, misalnya, Imoveon berhasil menjadi juara pertama di ajang yang diselenggarakan Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi).

 

Sumber : Jawa Pos. 29 Januari 2016.