Titi rihana (59) hanyalah ibu rumah tangga biasa yang tinggal di megabrata, sebuah kompleks permukiman berisikan 200-an rumah diselatan kota bandung. Namun, bu titi –sapaan akrabnya- memiliki talenta khusus, yakni membuat aneka kerajinan dari plastik bekas. Ia menyebut dirinya “pengacara” alias pengangguran banyak acara.

Suatu hari, seorang ibu rumah tangga rihana tertarik terhadap tas anyaman plastic yang di pajang di tengah rumahnya. Ibu itu mau membelinya seharga Rp 300.000, tetapi rihana tidak memberikannya. “saya lebih senang apabila saya bisa mengajari ibu untuk membuat ts=as plastic seperti itu. Singkat kata belajarlah ibu itu bersama 10 ibu ibu lainnya membuat aneka kerajinan berbahan plastic bekas, setiap kamis sore di rumah rihana. Selama ini hasil karya rihana diberikan secara Cuma Cuma kepada para kerabatnya.

Rihana belum mau menjual hasil karyanya, tetapi lebih ingin menyebarkan ilmunya itu, terutama pada ibu ibu PKK (pembinaan kesejahteraan keluarga) dilingkungannya. Dia berharap ibu ibu bisa mengisi waktu mereka agar lebih produktif, disamping mengurangi pembuangan sampah dari rumah. Pikirannya sederhana saja. Baik ilmu keterampilan maupun bahan plastic bekas selama ini diperolehnya secara gratos. Untuk itu, ia ingin menyebarkan ketrampilannya itu secara Cuma Cuma pula. Diharapkan mereka menyebarkan lagi keterampilan yang diperolehnya kepada lebih banyak orang sehingga pemanfaatan barang barang bekas, terutama plastic akan meluas. Pikiran mulia itu muncul 10 tahun lalu saat ia pindah mengikuti mutasi kerja suaminya dari Bengkulu kebandung, karena lahan di cekungan bandung dalam kawasan daerah aliran sungai citarum ini bekas sawah rawa, keluarga rihana harus menguruknya agar tidak banjir. Sebagian lahan yang dibelinya di kompleks megabrata, kelurahan margasari, kecamatan buahbatu, kota bandung itu bekas lahan kosong dan sering menjadi tempat pembuangan sampah warga. “saat itu tanah yang harus gali dalamnya 1,5 meter dan tanah yang diperlukan untuk urukannya banyak sekali plastic bekas,” kenangnya.

Otodidak

Melihat kondisi itu, ia merasa sedih. Plastic itu, walaupun sudah tertanam selama puluhan tahun tidak hancur atau terurai dalam tanah. Sejak itulah ibu beranak dua ini berniat tidak akan membuang plastic plastic sembarangan, tetapi memanfaatkannya menjadi barang yang berguna. “Pemerintah kan memiliki program mendaur ulang sampah plastic. Lagipula sudah banyak orang yang memanfaatkan sampah plastic, jadi saya tinggal mengikutinya,” ujarnya, pertengahan juni lalu.

Ia pun kerap melihat pameran pengelolaan sampah, ditelevisi, baca buku, majalah atau Koran. Dia pun berlatih sendiri memanfaatkan sampah plastic mulai dari menggunting plastic, membersihkan, menganyam hingga merajut. Aneka produknya berupa bunga, tas atau boneka berdasarkan desainnya sendiri setara secara otodidak pula. Sejak itu selain tidak membuang plastic bekas dirumahnya, rihana juga mencari beratus ratus lembar plastic bekas pembungkus itu ke mal mal yang ada di kota bandung. Berdasarkan pengalamannya memilih jenis jenis plastic, berbeda beda ada yang lentur, lembut dan keras seperti plastic bekas sedotan yang dikumpulkan dari hajatan hajatan keluarga atau tetangga.

“ada teman yang ikut kursus membuat barang barang kerajinan dari plastic bekas, tetapi pola yang saya kembangkan katanya lebih praktis dibandingkan dengan kursus,” ujarnya. Metode pengajaran yang dilakukannya memang alami karena tanpa buku. Idenya lebih banyak jadi dating dari ibu ibu PKK yang ditanya saat mau mulai belajar membuat kerajinan. “terserah ibu ibu mau bikin kerajinan apa,” ujar rihana. Setelah mereka menunjuk tas atau bunga, misalnya, lalu mereeka mempraktikkannya. Rihana juga menampung sampah plastic dari tetangga. Malah ada seorang temannya yang pergi ke mekah, lalu membawa plastic plastic bekas pembungkus karena jenis plastiknya disana lebih halus. “Bu titi tihana lebih senang dibawakan oleh oleh plastic bekas yang masih bagus bagus,” ujarnya menirukan seorang temannya yang pulang dari ibadah umrah itu. Rihana juga terampil menata rumah dan taman dengan berbagai tanaman obat dan pohon pelindung. Rumah asri seluas 200 meter persegi dengan halaman penuh obat  menjadi salah satu contoh rumah sehat di kota bandung. Secara sukarela ia menata taman didepan rumahnya untuk menambah kesejukan kompleks. Ia juga dipercaya mengelola usaha kecil mikro (UKM), terutama berbahan limbah di lingkungannya.

Sulit terurai

Dari berbagai buku yang dibacanya, rihana paham bahwa sampah plastic sangat sulit diurai alam. Menurut greeneration Indonesia,lembaga swadaya masyarakat tentang lingkungan sampah kantong plastic yang dihasilkan per orang dalam setahun mencapai 700 lembar. Jika dibuang sembarangan, akan sangat mencemari lingkungan karena sampah plastic tidak mudah terurai tanah dan air. Bayangkan, dibutuhkan berapa ratus tahun untuk menguraikan tumpukan sampah (plastic) yang semakin menggunung dari kota bandung. Pasalnya, 2,5 juta warga kota ini menghasilkan 1500-1600 ton sampah per hari. Namun, hanya 1100-1200 ton yang terangkat ke tempat pembuangan akhir sarimukti di kabupaten bandung barat,45 kilometer dari kota bandung.

Sekitar 250 ton sampah diduga menumpuk di tempat pembuangan sampah liar atau di bantaran sungai. Sampah sampah itu jika dikumpulkan di satu tempat akan menumpuk seluas lapangan sepak bola dengan ketinggian 75-100 sentimeter. Untuk mengolah 1 meter kubik sampah di perlukan biaya cukup mahal.

Merujuk hasil penelitian universitas pendidikan Indonesia bandung,paling tidak dibutuhkan Rp 164000 untuk mengangkut dan mengelola 1 meter kubik sampah dari kota bandung menuju tempat pembuangan akhir. Apabila 1 meter kubik sama dengan 1 ton, dengan jumlah 1200 ton yang terangkut di kota bandung, dubutuhkan sekitar Rp 70 miliar!

Meski menjadi tanggung jawab pemerintah, warga sebenarnya bisa ikut berperan mengurangi tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk menangani sampah. Salah satunya dengan mengurangi volume sampah sejak dari rumah lewat proses pemilahan sampah organic dan anorganik. Dengan begitu, biaya yang harus dikeluarkan untuk mengelola sampah tentu bisa lebih rendah.

Penghematan itu bisa dimanfaatkan untuk membiayai sector pembangunan masyarakat lainya. “karena itu, harus ada pengurangan sampah dari warga yang dilakukan dengan pemilihan sampah” ujar direktur umum perusahaan daerah kebersihan kota bandung gun gun saptari hidayat tempo hari. Seandainya sebagian besar ibu ibu bisa melakukannya seperti tihana, ibu kota provinsi jawa barat ini tak akan lagi dijuluki “bandung lautan sampah”.

 

Sumber: Kompas, Kamis  6 Juli 2017