Menggerakkan Ekonomi Lewat UMKM. Nama Tom Liwafa tiba-tiba mencuat di tengah pemberitaan tentang kecelakaan tragis artis Vanessa Angel pada November 2021. la banyak membantu keluarga memulangkan Gala Sky Andriyansyah, putra semata wayang Vanessa. Apa saja aktivitas pria yang disebut-sebut sebagai crazy rich Surabayan tersebut?
TOM LIWAFA merupakan seorang pengusaha dari Surabaya. Wafa, sapaan akrabnya, memiliki sejumlah bisnis yang telah tersebar di beberapa kota di Indonesia. Paling baru, bersama sang istri Delta Hest Chandra Pratiwi, ia membuka usaha tas perempuan di Sidoarjo. Pada sebuah kesempatan, toko itu memberikan 150 tas ke pengunjung yang menyertakan sertifikat vaksin.
Aksi tersebut diunggah ke Instagram dan meraih banyak tanggapan positif. Terlebih lagi, saat itu masih banyak masyarakat yang kurang percaya dengan vaksin. “Ini bentuk support kami ke pemerintah. Bahwa vaksinasi itu penting untuk dapat membentuk herd immunity. Lebih cepat lebih baik, guna menangkal virus Covid 19,” tutur Wafa.
Pria 29 tahun itu menamai bisnis barunya dengan Deliwafa. Produknya tidak hanya tas perempuan. Tapi tersedia pula bermacam produk berbahan kulit. Termasuk sepatu, dompet, dan sebagainya. Semua dikulak dari perajin lokal Sidoarjo.
Pandemi memang membuat jumlah kunjungan ke toko menurun drastis. Namun, Wafa dan sang istri justru sepakat membuka dua gerai lagi di Sidoarjo dan Mojokerto. Tujuannya agar tetap bisa menyerap tenaga kerja dan memfasilitas ratusan UMKM di Surabaya, Greaik dan Sidoarjo, la mengaku meski pengunjung ke toko tak banyak, penjualan online naik signifikan.
“Pengusaha harus bisa beradaptasi dengan segala kondisi. Termasuk memanfaatkan dunia digital untuk memasarkan produknya. Kami bekerjasama dengan sekitar 500 UMKM untuk menyuplai stok,” jelasnya.
Begitulah Wafa. la berbisnis tidak melulu memikirkan cuan. Namun, bagaimana usahanya bisa menggerakkan masyarakat sekitar. la percaya pada prinsip tumbuh bersama. komunitas. Segalanya dirancang untuk membantu berbagai kalangan untuk bangkit bareng-bareng. Terutama di masa pandemi yang menghajar berbagai sektor. Terutama pengusaha kecil dan menengah.
Berawal dari Stiker Distro
Seperti cerita-cerita pengusaha sukoos lain, Wafa memulai segalanya dari nol. Menurutnya, titik tolak in mencoba berbisnis adalah pada 2008. Ketika masih SMA, Dimulai dengan berjualan stiker distro dan baju second. Untungnya tidak seberapa. Karena ia belum menemukan jalur yang tepat. Bahkan setelah kuliah pun, Wafa masih bingung mau berbisnis seperti apa.
la mengaku bahwa industri fashion memang menjadi salah satu passion dalam hidup. Maka, ia berusaha memantapkan hati untuk menekuni bidang tersebut. Alhasil, hanya dalam dua tahun setelah berjualan stiker, ia mulai menemukan jalan.
Tepatnya, setelah berkuliah di jurusan Desain Produk di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS). Relasi bisnis, mentor, bahkan channel. produksi dan distribusi ia temukan selama kuliah. Karena itulah, Wafa selalu menganggap masa kuliah sebagai titik balik peruntungannya sebagai pengusaha.
Wafa selalu membanggakan semangatnya dalam mengenyam pendidikan, la tidak setuju dengan anggapan bahwa gelar dan kuliah tidak bisa menjamin kesuksesan kehidupan seseorang, utamanya para entrepreneur. Wafa mengkritik keras mereka yang mencoba membangun asumsi bahwa pendidikan tidak penting.
“Ada banyak hal yang bisa didapatkan selama kuliah dan jadi modal berharga dalam menjalankan bisnis. Networking, toleransi, kedisiplinan, kemampuan multitasking, sampai keahlian khusus atau kompetensi,” papar Wafa. “Sebetulnya ini tidak cuma baik buat pengusaha. Tapi dalam kehidupan secara umum,” lanjutnya.
Pandangan tersebut dijadikan sebagai dasar dalam menekuni bisnis di berbagai bidang. Tom tercatat menjalankan usaha makanan, minuman, sepatu lokal, perabotan, pakaian, serta persewaan LED. Bisnis tersebut memungkinkannya mempekerjakan ratusan orang. Termasuk membuka peluang usaha bagi UMKM di Sidoarjo dan kota kelahirannya, Mojokerto.
Dalam kesempatan lain, ia juga aktif sebagai pembicara dalam seminar dan lokakarya. Pria dengan dua buah hati itu kerap memberi motivasi dan tips menjadi pengusaha dengan memaksimalkan penggunaan media sosial. Karena intensitasnya tinggi, akhirnya ia mendirikan Delva Digital, Kanal informasi seputar pengembangan bisnis di era digital.
Delva Digital pernah mendapat perhatian karena membuka kelas gratis untuk para santri dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mereka dan menjadi seorang wirausaha yang jago digital marketing. Acara itu dilakukan saat Hari Santri nasional. “Acara ini gratis. Saya jadikan sebagai sedekah ilmu dari saya dan Delva Digital,” ceritanya.
Termasuk ketika ia memberikan pelatihan secara cuma-cuma kepada para pengemudi ojek online atau ojol. Dalam acara itu, Wafa mengajak para pengemudi ojol agar melek marketing di ranah digital. Harapannya, mereka jadi bisa punya usaha sampingan untuk tambahan pendapatan selain dari ngojek.
“Ada tiga hal yang harus diperhatikan saat promosi di media sosial. Yaitu menampilkan foto produk yang menarik, copywriting, dan menonjolkan keunggulan brand. Strategi pemasaran semacam ini rencananya akan terus digalakkan harapannya agar masyarakat makin melek teknologi,” jelasnya.
“Dengan begitu, akan makin banyak muncul pelaku UMKM sehingga perekonomian di Indonesia bisa meningkat,” harap Wafa. (Retna Christa-Ajib Syahrian)
Sumber: Harian Disway. 3 Januari 2022. Hal. 36-37

