Bertambah hoki adalah harapan. hampir setiap orang yang selalu diutarakan saat momentum Imlek Meraih keberuntungan selalu menjadi tema utama dalam setiap perayaan tahun baru tersebut.

Hal itu, sekilas tecermin dari simbol-simbol dan tradisi yang dibudayakan komunitas Tionghoa saat Imlek, di mana hampir semuanya bermuara pada pencapaian keberuntungan dan cuan.

Namun meraih hoki tentunya bukanlah sesuatu yang akan datang ujug-ujug. Semua keberuntungan tidak lepas dari usaha baik, kerja keras dan kerja cerdas sebagaimana yang disimbolisasikan dalam beragam tradisi imlek.

Kalimat Gong Xi Fa Cai yang banyak diucapkan pada saat Imlek, memiliki makna yang kental dengan keberuntungan, yakni “selamat menjadi kaya raya”. Meski begitu, hoki dan kaya raya bukanlah nilai utama dari Imlek

Sejarawan Universitas Indonesia JJ Rizal meluruskan bahwa pada dasarnya Imlek itu sebagai sebuah perayaan ekologis, dimana masyarakat sebelumnya lebih akrab mengucapkan Sin Tjun Kiong Hie yang berarti Selamat Musim Semi yang Baru, atau Selamat Tahun Baru.

Namun demikian, tidak ada salahnya jika momentum tahun baru ini menjadi waktu yang tepat untuk membuat resolusi untuk mencapai hoki.

Pada dasarnya, prinsip keberuntungan selalu diawali dengan upaya menanam kebaikan yang nantinya akan menghasilkan buah yang baik pula. Seseorang pun tidak akan menerima kebaikan, melainkan sebagai hasil dari apa yang diupayakannya. Jika melihat pada tradis Imlek, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik sebagai nilai- nilai luhung yang diajarkan para leluhur.

Tradisi Imlek yang cukup melekat adalah membersihkan rumah sehari menjelang tahun baru agar kotoran yang dianggap sebagai simbol kesialan dapat disingkirkan dan tidak menghalangi datangnya keberuntungan. Dari sini kita bisa menangkap makna bahwa hoki akan menghampiri jika berangkat dari sesuatu yang bersih/suci.

Selanjutnya ada tradisi menghias rumah, pakaian, dan aksesori dengan nuansa merah, Hal itu, dipercaya dapat mengusir nian (makhluk buas), sekaligus menggambarkan kesejahteraan. Usaha menciptakan kenyamanan dan keindahan merupakan bagian dari aspek psikologis yang akan membentuk mood baik dan pikiran positif sehingga menjadi klan produktif.

Tidak berhenti di situ, simbolisasi yang sarat makna juga terlihat dari tradisi menyiapkan aneka hidangan khas Imlek seperti manisan segi delapan, kue keranjang, jeruk, ikan bandeng lengkap, lapis legit, siu mie, dan lain sebagainya. Sebaliknya, pantang makan bubur karena dianggap sebagai salah satu simbol kemiskinan.

Lalu dipersiapkan pula hidangan spesial berupa Yu Sheng dalam satu piring yang berisi irisan ikan salmon, salad, wortel, yang dibubuhi saus wijen, bush plum, dan lainnya.

Untuk mengarungi aktivitas setahun ke depan yang penuh tantangan, terutama di masa transisi menuju babak akhir pandemi Covid-19, tentunya harus dipersiapkan berbagal perbekalan dan energi penuh. Dengan memastikan. asupan yang baik dan perbekalan yang cukup diharapkan perjalanan ke depan mampu meng hasilkan output yang optimal

Kesehatan dan kebugaran pun harus diper siapkan pula dengan memenuhi nutrisi yang baik untuk tubuh, supaya siap bekerja keras dan bekerja cerdas. Baik kesehatan fisik maupun mental harus diperkuat agar setiap rintangan yang mengadang bisa diatasi, dan keberun tungan bisa diraih berkali-kali.

SILATURAHMI & BERBAGI

Tradisi yang juga dilakukan banyak penganut agama adalah mengunjung keluarga besar untuk bersilaturahmi agar tali persaudaraan tidak putus. Dalam bisnis, memperkuat dan memperluas silaturahmi adalah upaya memperluas jaringan sebagai kunci terwujudnya kesuksesan. Prinsipnya, dengan networking yang luas dan kemampuan memelihara relasi bisnis menjadi faktor pendukung bertumbuhnya sebuah perusahaan.

Sebagai bentuk syukur, tradisi berbagi pun sangat kuat menghiasi perayaan Imlek Membagi ongpoo atau amplop yang berisi uang menjadi semacam kewajiban bag mereka yang sudah mapan untuk berbagi hoki dengan mereka yang masih muda atau belum menikah. Memberikan angpaat bagi anak-anak dan mereka yang masih lajang dipercaya dapat memperlancar rezeki.

Sekali lagi, keberuntungan dan kemalangan bukanlah sebuah dikai musiman ketika berbicara – Imlek. Namun di balik semua itu, tertanam kuat nilai-nilai dalam setiap tradisinya bahwa keberuntungan dan cuan adalah sesuatu yang hana dijemput dan diupayakan dengan usaha yang optimal.

Sebaliknya, kemalangan harus dicegah dengan manajemen risiko yang terkendali. Pada akhirnya kesejahteraan bisa dirasakan sebagai buah dari berbagai hoki yang diraih. Dan yang utama, Imlek yang merupakan hari raya keagamaan bagi umat Konghucu ini tentunya selalu di isi dengan ritual sembahyang, beribadah dan memohon kepada Tuhan sebagai sumber pemberi berkah.

 

 

Sumber: Bisnis Indonesia.14 Februari 2021.Hal.2