Tunnel of lights merupakan konsep penggabungan antara perasaan manusia, nuansa ruang, kenyamanan dan kesehatan dari pengguna ruang itu sendiri. Pada design ini diupayakan agar lingkungan luar memberi pengaruh kepada interior sendiri, tidak hanya cahaya, warna dan pantulan difus yang didapatkan, namun juga dari segi penghawaan yang mengalir diakibatkan adanya cross ventilation system.

Pengaturan zoning pada denah juga menunjukkan pengaturan sirkulasi pengguna dimana, sinar matahari akan menjadi sumber cahaya secara potensial. Disaat pagi hari pada kamar utama telah terancang, pantulan sinar matahari pagi dapat mengenai area tidur. Saat malam hari bukaan yang diletakkan pada tinggi posisi mata saat berbaring ditempat tidur, memungkinkan mengekspose view ke arah langit. Pada lantai 3, perletakan bukaan bellow eye level pada ruangan yang sempit dapat dengan sendirinya membuat ruangan menjadi tampak luas dan tidak menyempit pada ujungnya, dikarenakan cahaya yang masuk mampu secara tidak sadar menuntun pengguna agar melewati lorong tersebut.

Tunnels of light merupakan landed apartment yang berbeda dikarenakan pada umumnya perancang yang sudah ada; selalu memberikan akses langsung antara lantai satu, dimana merupakan area bisnis, dengan lantai 2 dan 3 yang merupakan area tempat tinggal. Pada Tunnels of light, disadari bahwa untuk mengakses living space perlu memiliki akses yang tidak melewati area public, sehingga tangga yang menggabungkan lantai satu dan dua diposisikan pada bagian muka bangunan. Sesuai dengan namanya, konstruksi ini sangat memperhatikan pemasukan cahaya serta penyebarannya dalam ruang,melalui penggunaan light shelf, window wall serta horizontal louvre. Dengan banyaknya bukaan untuk memas ukkan cahaya pada ruang, maka sirkulasi udara juga dimaksimalkan untuk mengurangi penggunaan AC. Pada konsep konstruksi bebas dari bentukan kurva ini, tersirat sebuah design yang sustainable.

Sumber: Rumahku.129.2017.hal.42-43
Teks: Astrid Kusumowidagdo, Pengajar Interior Architecture Universitas Ciputra