Oleh I Gde Satrya (Dosen International & Hospitality Business Universitas Ciputra)
Liburan panajang akhir tahun yang serangkaian dengan liburan Natal menjadi momen yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga memberi kesegaran pada jiwa. Tekanan hidup sepanjang tahun seakan terobati dengan liburan akhir tahun. Ada dalil yang umum berlaku dan diyakini kalangan traveler dan pelaku wisata, yakni “Ada keterkaitan antara liburan (akhir tahun) dengan ketahanan jiwa.”
Dalam onteks itulah insiden AirAsia QZ8501 dengan rute Surabaya-Singapura kita maknai sebagai tregedi kemanusiaan. Motif wisata akhir tahun bagi sebagian besar penumpang pesawat itu tak lain untuk mengejar kebahagiaan, mensyukuri masa yang telah lalu, dan menatap dengan bersemangat kehidupan yang baru.
Konteks perjalanan wisata dengan kebutuhan umat manusia modern untuk pemenuhan kesegaran jiwa atau keseimbangan hidup ini juga terrefleksi pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, 10 Oktober 2012 lalu, yang mengangkat tema/isu Depression A Global Crisis. Menurut WHO, gangguan depresi menjangkit lebih dari 350 juta orang setiap layanan primer kepada setiap pasien yang datang mencari pertolongan medis. Thaun 2014, Federasi Dunia untuk Kesehatan Jiwa (World Federation of Mental Health) menetapkan tema Mental Health in Older Adults.
Turisme, sebagai bagian penting dari kehidupan seharusnya difungsikan sebagai salah satu alat untuk mengobati jiwa umat manusia. Potensi munculnya stres yang kian sporadis mulai dari ruma, di jalan, komunitas tempat kerja atau sekolah, hingga lingkungan sekitar berpotensi merapuhkan ketahanan jiwa.
Dugaan munculnya, masyarakat tertimpa untuk leisure dan berwisata. Oleh karena pemicu stres, khusunya tekanan hidupp yang kian berat tak dapat dielakan lagi, fenomena empiris relasi dua aspek tersebut seharusnya semakin menumbuhkan ruang dan keburuhan untuk berwisata.
Dalam hal ini hirekaki kebutuhan manusia yang menurut teori klasik Maslow digambarkan paling tinggi kebutuhan aktualisasi diri, tampaknya semakin tidak relevan diperadaban masa kini. Khususnya ketika fakta menunjukan stres dan depresi itu juga menyerang siapa saja, termasuk golongan sosial ekonomi menengah ke atas.
Abraham Maslow (1908-1970) telah mengamati perilaku manusia modern. Menurutnya, perilaku manusia dimotivasi oleh sesuatu yang mendasar. Secara berurutan, dari bawah hingga ke level yanglebih tinggi, yaitu motivasi tersebut adalah kebutuhan fisiologi (makan, minuum, seks), rasa aman, kasih sayang, harga diri, dan puncak tertingginya adalah aktualisasi diri. Seorang manusia sudah tidak berpikir tentang harga diri jika dirinya bisa menuangkan idealisme, berkosentrasi penuh dalam aktivitas yang dicintainya sebagaimana ilustrasi seorang profesor filsafat yang mengajar dengan baju sederhana dan hanya menaiki sepeda.
Tampaknya kebenaran teori tersebut implisit, kurang mengaitkan kebutuhan manusia modern dengan aneka dan kompleksitas kepentingan serta kebutuhan. Dala kondisi semua kebutuhan terpenuhi yang menurut Maslow paling tinggi, masih ada yang kurang. Buktinya, orang kaya dan public figure pun berpotensi stres.
Keseimbangan Hidup
Kepariwisataan semakin menjadi salah satu kebutuhan esensial manusia di samping kebutuhan pokok lainnya. Kebutuhan berwisata menjadi sangat dibutuhan dalam rangka live balancing dari rutinitas keseharian manusia, dan tentu saja untuk meningkatkan antibodi berupa ketahanan jiwa dari pemicu stres dan depresi. Oleh karena itu, timbullah usaha – usahan dalan nenebuhi kebutuhan berwisata dan leisure, seperti shopping, sport tourism, dan tour package.
Artinya, di level kebutuhan mendasar pun masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah tidak cukup hanya mengejar kebutuhan fisik manakala aktivitas berwisata tidak terpenuhi. Apalagi masyarakat yang menurut hirekaki kebutuhan Maslow telah terpenuhi seleuruhnya, tentunya akan semakin berkesempatan untuk mengakses sebesar – besarnya untuk berwisata. Ini justru memperlihatkan betapa ladang kepariwisataan Tanah Air terbuka luas bagi penggalian pundi – pundi negara, dan di kalangan masyarakat luas memberikan peluang untuk mengkreasikan semakin banyak bentuk kewirausahaan guna memenuhi kebutuhan berwisata manusia modern yang semakin sulit terbendung.
Sedikit bukti bahwa turisme, dan bahkan destinasi wisata, menjadi obat alami bagi jiwa – jiwa manusia modern dapat ditemui di Ubud. Salah satu kawasan di Kabupaten Gianyar itu memiliki sejarah penamanam hingga sekarang dikenal dengan nama Ubud.
Rsi Markandya, seorang suci yang hidup pada masa Majapahit, menemukan obat alami yang menyembuhkan berbagi penyakit di sebuah sungai di desa yang kini bernama Ubud. Di Ubud, sikap tuan rumah yang baik (be s good host) terasa kuat bagi setiap pendatang memperlakukan tamu secara baik (treat your guest properly) dan membangun sebuah “rumah” yang nyaman bagi turis (building a home sweet home). Seperti asal kata ubud yaitu obat, Ubud seperti obat kehidupan bagi siapa pun yang berada dan tinggal di dalamnya.
Demikian pula aktivitas turisme, merupakan obat alami bagi jiwa – jiwa umat manusia modern. Termasuk, jiwa- jiwa yang menjadi penumpang AirAsia QZ8501.
Sumber: Majalah-Venue.-No.92.-Februari-2015.Hal_.54-55

