Surabaya – limbah kulit ikan pari yang sulit diurai membuat Yolinda Amelia, mahasiswi jurusan Fashion Design and Business Universitas Ciputra, mengolahnya untuk menjadi tas cantic. Hal itu bisa menjadi alternative untuk tampil Chic dan Edgy.

“anak-anak zaman sekarang focus ke tas-tas yang branded. Atau, kalau mau cari yang homemade, kebanyakan masih mengolah dari bahan plastic, karet, atau kaca,” terangnya saat ditemui kemarin (2/5).

Bahan tas yang digunakan adalah limbah kulit ikan pari jenis cingir. Sebab, jenis tersebut memiliki ciri khas. Yakni, ada nya motif yang menyerupai mata dibagian punggung.

Dalam pembuatannya, yang paling susah adalah penjahitan. “ngak bisa sembarang orang. Soalnya, kulitnya kan tebal dank eras banget. Jadi, ada kayak proses dilindas, lalu digergaji pakai gergaji kecil. Kemudian, baru bisa dijahit,” kata perempuan 21 tahun itu.

Sebelum dijahit, kulit ikan pari melewati penyamakan untuk menghilangkan kotoran-kotoran pada kulit tersebut. “prosesnya biasanya butuh empat hari untuk direndam, terus dijemur, kemudian diwarnai,” sambungnya.

Deia memilih gelap untuk produknya. Diantaranya, hitam, biru navy, dan marun. “soalnya, terang itu, hasilnya kurang bagus dan kurang elegan,” ujarnya. Keunggulan bahan tas tersebut adalah anti air dan api.

 

Sumber: Jawa Pos. 3 Mei 2019.Hal.32