Klik:

UBUD kembali menorehkan prestas yang membanggakan pariwisata Indonesia. Destinasi berbasis pedesaan yang terletak di Kabupaten Gianyar, Bali ini berhasil masuk sebagai kota terbaik ketiga di Asia oleh majalah asing Travel + Leisure. Di peringkat pertama Hon An (Vietnam), dan di peringkat kedua Chiang Mai (Thailand). Sedangkan di peringkat dunia, Ubud berada di urutan 15 teratas. Model destinasi berkualitas seperti Ubud layak direplikasi di daerah lain di Tanah Air untuk merebut masa depan pasar wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.
Akar dari kualitas destinasi Ubud terletak pada kemampuan destinasi tersebut memberikan pengalaman yang menyenangkan dan mendalam bagi siapa saja yang berkunjung ke sana. Dalam konsep turisme, Ubud menawarkan total experience, yang mampu memenuhi kes butuhan jiwa yang mendalam bagi setiap wisatawan, yakni kesegaran jiwa, kebahagiaan. Relevansi eksistensi Ubud dengan kebutuhan umat manusia modern ada pada tantangan peradaban global yang terangkum dalam kekhawatiran akan terjadinya depresi global. Hal itu pernah menjadi concern WHO (World Health Organization). Pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, 10 Oktober 2012, tema/isu yang diangkat adalah “Depression: A Global Crisis”. Menurut WHO, gangguan depresi mengenai lebih dari 350 juta orang setiap tahunnya. Di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, deteksi dini depresi dilakukan pada setiap layanan primer kepada setiap pasien yang datang mencari pertolongan medis. Tahun ini) Federasi Dunia untuk Kesehatan ,Jiwa (World Federation of Mental Health) menetapkan tema “Mental Health in Older Adults”.
Turisme sebagai bagian penting dari kehidupan seharusnya, difungsikan sebagai salah satu tools untuk mengobati jiwa masyarakat Indonesia. Potensi munculnya stres yang kian sporadis, mulai dari rumah, di jalan, tempat kerja/sekolah, hingga lingkungan sekitar, berpotensi merapuhkan ketahanan jiwa. Dugaan mudahnya masyarakat stres dan menderita depresi terkait rendahnya waktu luang untuk leisure dan berwisata. Oleh karena problem/pemicu stres, khususnya tekanari. hidup yang kian berat tak dapat dielakkan lagi, maka fenomena empiris relasi dua aspek tersebut seharusnya semakin menumbuhkan ruang dan kebutuhan untuk berwisata.
Kepariwisataan semakin menjadi salah satu kebutuhan esensial manusia di samping kebutuhan pokok yang lainnya, kebutuhan berwisata menjadi sangat dibutuhkan dalam rangka live balancing dari rutinitas keseharian manusia din tentu saja untuk meningkatkan “antibodi”, berupa ketahanan jiwa dari pemicu stres dan depresi. Maka timbullah usaha-usaha dalam memenuhi kebutuhan berwisata dan leisure seperti shopping, sport tourism, tour package.
Artinya, di level kebutuhan mendasar pun, masyarakat menengah ke bawah tidak cukup hanya mengejar kebutuhan fisik manakala aktivitas berwisata tidak terpenuhi. Apalagi masyarakat yang menurut teori hirarki kebutuhan Maslow telah terpenuhi seluruhnya, bahkan semakin berkesempatan untuk mengakses sebesarnya-besarnya untuk berwisata. Ini justru memperlihatkan betapa ladang kepariwisataan di Tanah Air terbuka luas bagi penggalian pundi-pundi negara, dan di kalangan masyarakat luas memberikan peluang untuk mengkreasikan semakin banyak bentuk kewirausahaan guna memenuhi kebutuhan berwisata manusia modern yang semakin sulit terbendung.
Ubud Obat
Bukti bahwa turisme, dan bahkan destinasi wisata, menjadi ‘obat alami bagi jiwa-jiwa manusia inodern dapat ditemui di Ubud. Salah satu kawasan di Kabupaten Gianyar itu memiliki sejarah penamaan hingga sekarang dikenal dengan nama Ubud, Rsi Markandya, seeorang yang suci yang hidup pada zaman Majapahit, menemukan obat alami yang menyembuhkan berbagai penyakit di sebuah sungai di desa yang kini bernama Ubud. Di Ubud, terasa kuat sikap tuan rumah yang baik (be a good host) bagi setiap pendatang, memperlakukan tamu secara baik (treat yqur guest-properly) dan membangun sebuah “rumah” yang nyaman bagi turis (building a home sweet home). Hermawan Kartajaya.(2009) menyatakan karakteristik manajemen dan keseluruhan Ubud merupakan kisah sukses penerapan prinsip marketing 3.0 yang dewasa ini menjadi metode yang pas di era human-centric ini. Era customer-centric dengan pendekatan marketing 1.0 dan era customer-centric dengan pola marketing 2.0 telah berlalu. Dalam konsep marketing 3.0, sinergi antara profit oriented dengan tanggung jawab sosial penciptaan nilai-nilai positif untuk umat manusia (komunitas lokal khususnya), alam dan lingkungan hidup, kebudayaan dan kearifan lokal, merupakan suatu keniscayaan. Seperti asal kata Ubud yaitu obat, Ubud seperti obat kehidupan bagi siapa pun yang berada dan tinggal di dalamnya. Demikian pula aktivitas turisme,merupakan obat alami bagi jiwa-jiwa manusia Indonesia modern. Bagi stakeholder pariwisata di Tanah Air,, mari kita belajar dari Ubud untuk menciptakan destinasi yang berkualitas.
