Sumber:https://surabaya.pikiran-rakyat.com/metrolife/pr-39210188265/uc-surabaya-bangun-kampus-inklusif-berbasis-data-dosen-lebih-siap-mahasiswa-disabilitas-terfasilitasi?page=all

UC Surabaya Bangun Kampus Inklusif Berbasis Data, Dosen Lebih Siap, Mahasiswa Disabilitas Terfasilitasi

5 Mei 2026

PR SURABAYA – Saat banyak perguruan tinggi di Indonesia masih berhenti pada penyediaan fasilitas bagi mahasiswa disabilitas, Universitas Ciputra Surabaya justru melangkah lebih jauh.

Kampus ini mulai menggeser paradigma inklusivitas dari sekadar layanan menuju pendekatan berbasis sistem dan data yang terintegrasi.

Langkah progresif ini diperkenalkan melalui Workshop Disability Awareness bertajuk Membangun Kesadaran, Menciptakan Lingkungan Inklusif yang digelar di Integrity Hall UC, Senin 4 Mei 2025.

Dalam forum tersebut, kampus sekaligus meluncurkan buku saku panduan dosen hasil kolaborasi dengan Kementerian Sosial RI serta memperkuat platform digital internal mereka, CEDX (Ciputra Education Digital Experience).

Pendekatan ini menandai perubahan penting: inklusivitas tak lagi hanya soal empati, tetapi juga kesiapan sistem.

Tantangan bukan fasilitas tapi keberanian memulai

Penyuluh Sosial Ahli Muda Kemensos RI, Santi Utami Dewi, menyoroti bahwa hambatan terbesar dalam membangun kampus inklusif bukan terletak pada sumber daya, melainkan keberanian untuk memulai.

Ia menilai banyak institusi masih terjebak pada keraguan untuk melangkah, sementara Universitas Ciputra justru menunjukkan aksi konkret yang patut diapresiasi.

Dari buku saku ke sistem digital terintegrasi

Sebagai langkah awal, buku saku yang diluncurkan menjadi panduan praktis bagi dosen untuk memahami karakteristik dan kebutuhan mahasiswa disabilitas di ruang kelas. Namun, inovasi UC tidak berhenti pada pendekatan manual.

Ketua Satgas Disabilitas UC, Yehuda Abiel, menegaskan bahwa inklusivitas harus masuk ke dalam sistem pembelajaran.

Melalui platform CEDX, dosen kini dapat mengakses informasi terkait mahasiswa disabilitas di kelasnya lengkap dengan panduan pembelajaran yang relevan.

Fitur ini memungkinkan dosen menyesuaikan metode mengajar secara lebih tepat sejak awal, bukan lagi berbasis asumsi.

Fitur baru bikin pendampingan lebih terarah

Sejak diluncurkan pada 4 Mei, sistem ini menghadirkan tampilan khusus bagi dosen untuk mengidentifikasi mahasiswa disabilitas di kelasnya.

Tak hanya itu, ke depan UC juga menyiapkan dashboard khusus bagi dosen Pembimbing Akademik (PA) yang ditargetkan aktif mulai September 2026 setelah masa O-Week.

Melalui dashboard tersebut, dosen PA dapat melakukan pendampingan lebih dini dan terarah, sekaligus berkoordinasi dengan tim pendukung untuk memastikan kebutuhan mahasiswa terpenuhi secara optimal.

Privasi tetap jadi prioritas utama

Di balik integrasi data ini, UC tetap menempatkan perlindungan privasi mahasiswa sebagai hal krusial.

Untuk tahap awal, akses data belum dibuka secara luas kepada seluruh dosen pengampu, karena masih membutuhkan persetujuan tertulis dari mahasiswa.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa transformasi digital inklusif tetap harus berjalan seiring dengan etika dan perlindungan data.

Inklusivitas bukan slogan tapi ekosistem

Langkah Universitas Ciputra ini menegaskan bahwa membangun kampus inklusif tidak cukup hanya dengan fasilitas atau kebijakan semata. Dibutuhkan integrasi antara edukasi, sistem, dan budaya kampus yang saling mendukung.

Dengan strategi ini, UC mencoba menghadirkan ekosistem pendidikan yang tidak hanya ramah, tetapi juga benar-benar siap menghadapi keberagaman kebutuhan mahasiswa.***