
Tahun 2008, Ujang Koswara ( 19 ) di- minta membantu warga kampung di kawasan pegunungan Jawa Barat selatan agar mendapatkan penerangan listrik . Warga kampung di perbukitan Kecamatan Pakenjeng Kabupaten Garut , Jabur , itu masih menggunakan camper , yakni lampu minyak tanah untuk alat penerangan.
” Saat itu , keponakan saya sedang ujian nasional.la la kesulitan menghafal karena lampu teplok itu sinarnya temaram . Padahal , penilaian UN di kota yang listriknya jarang Belum Ingi harga minyak tanah ang arang palapak tanah untuk cempor memberatkan warna.
Ujang lalu mencoba memasang pa nel surya yang dibelinya dari Bandung Rp 10 juta . Namun , nerangan menggunakan energie energi sinar matahari tidak lama Kalau cuaca mendung arusnya tidak mau hidup Alat penerangan itu akhirnya mati sama sekali karena panelnya tertutup debu dan susah dibersihkan.
Ujang lalu memanfaatkan sejum- lah air terjun sebagai penggerak listrik mikrohidra Dari pembangkit mikro- hidro itu ia harus menarik kabel sepanjang 1 kilometer agar arus listrik • bisa sampai kampung Walaupun pembangkit kecil itu bisa meng- hasilkan arus 4000 watt , sesampai di rumah , arusnya menjadi lemah . Nyalasangat ringan . ” Lampu polemit lampu listriknya remang – remang.
Di musim apa pun terjadi masalah . Awal kemarau turbin mati karena kekurangan daya penggerak air . Se baliknya , saat musim hujan , semua bangunan mikrohidro lenyap disapu banjir karena konservasi di hulu su ngai rusak . ” Jang , rakyat mah tidak teknologi canggih , yang penting nyala lampunya bisa awet , ” kata Ujang men menirukan keluhan almarhum ibunya.
Sesampainya di Bandung , sekitar 160 kilometer dari Pakenjeng ia membeli sebuah telepon seluler yang ada lampunya . la mempelajari mengapa lampu ponsel bisa menyala agak lama dengan asupan energi yang menggunakan chip LED ting sehingga penggunaan energinya ginya bisa awet , ” ungkap Ujang.
la berpikir bagaimana jika lampu LED itu diproduksi di Indonesia Bandung ) . Ia kemudian mencari in- forfnasi ke Kementerian Perindustrian untuk mendapatkan industri yang bisa memproduksi lampu LED.
pergi ke AS
Ternyata di dalam negeri belum ada yang bisa membuat chip LED Salah satu pabrik chip LED berada di Amerika Serikat . Didorong semangat yang sangat kuat , ingin membantu ibunda tercinta , Ujang pun berangkat itu menuju pabrik di Philadelphia , AS Namun , setelah jauh – jauh terbangnya melintasi lautan , ternyata ia tidak bisa membeli chip itu .
” Kalau mau membeli dalam jumlah banyak harus melalui agennya di Hongkong , ” ujarnya . Sesampai di Tanah Air . Ujang berkoordinasi dengan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ( Hipmi ) Jabar agar di- fasilitasi berhubungan dengan Hipni China.
Pengusaha di Hipmi China mem- berikan alamat seorang pembuat LED di Shenzhen yang kemudian di temuinya . ” Kalau proses produksinya begini , mah , di Bandung juga bisa , pikir Ujang saat melihat pabrik LED itu yang ternyata industri rumahan . la membawa konsep itu ke kalangan kampus.
” Diskusi tentang LED rumahan menarik , tetapi lampunya tidak ja di – jadi , ” kata Uko , sapaan akrabnya , Akhirnya ia bertemu dengan tulang listrik di pusat peralatan listrik di Jalan Banceuy , Kota Bandung ” Kalau lampu mau nyalanya stabil harus me makai diode , ujar tukang listrik itu menjawab kebutuhan Ujang.
Setelah dilakukan beberapa kali uji coba , ditemukanlah LED yang hanya berkekuatan arus I watt , tetapi nyala terbangnya setara lampu listrik 10 watt de ngan kekuatan 10 tahun . Lampu LED 1 watt itu menggunakan baterai aki yang inspirasinya diperoleh dari sis tem kerja panel surya . Penggunaan lima lampu memakai aki bekas mobil kecil ternyata bisa menyala sebulan lamanya . Setelah baterai habis , aki kembali dicas seperti pengisian daya pada aki basah .
Jadi , kalau mau mengecas , seperti tukar galon air mineral . Kami pakalaki baterai besh karena awet , asal Jangan kekurangan air aki , ” ujar Ujang Aki baterai yang dicas selama tiga jam bisa untuk lampu dalam sebulan .
Setelah lampu LED dan pola peng isian daya ditemukan , Limar dipro duksi secara massal di rumahnya di Cilengkrang , Bandung Timur . Komponen dibeli dari banyak vendor . Misalnya , PCB atau plastik pembung- kus lampu dipesan dari pabrik plastik dengan cetakan sendiri agar tidak dijual kepada orang lain , termasuk kabel – kabelnya . Hanya saja , chip – nya masih dibeli dari China dengan mi- nimal pemesanan puluhan ribu loom- ponen sebab produksi chip LED be- lum ada di Indonesia.
Lebih murah
Setelah dipasang di daerah pegu- nungan , ternyata Limar lebih murah daripada minyak tanah Satu liter mi- nyak tanah seharga Rp 15.000 habis dalam tiga hari . Artinya , dalam sebulan dihabiskan Rp 150000 , ” Pakai Limar mengocus tiga jam untuk satu bulan ongkosnya Rp 2000 ” ujarnya .
Kini ratusan ribu lampu Limar Ujang sudah tersebar di daerah – da- erah terpencil yang belum terjangkau listrik PLN , mulai dari Aceh , Nusa Tenggara Timur , hingga Papua . Pola periyebarannya menggunakan tang- gung jawab sosial perusahaan ( CSR PLN , pemerintah daerah , ataupun perusahaan yang berdekatan dengan daerah – daerah terpencil itu .
Salah satu lokasi yang menikmati penerangan Limar adalah 150 kepala keluarga di Desa Margaluyu , Keca matan Cipeuncleuy , Kabupaten Ban dung Barat , lewat bantuan Peme rintah Provinsi Jabar . Selama ini Margaluyu , yang terletak di tengah Waduk Pusat Listrik Tenaga Air ( PLTA ) Cirata , tidak terjangkau listrik karena PLN kesulitan membangun tiang di tempat tersebut . Padahal PLTA Cirata merupakan pemasok lis trik interkoneksi Jawa – Bali .
Bersamaan dengan itu . Ujang dan timnya juga menyebarkan ilmu mem buat LED ke sekolah – sekolah ataupun pesantren agar menghasilkan ke gotongroyongan . Tujuannya , jika ada masalah dengan alat penerangan itu anak – anak itu bisa membantu ma syarakat sekitarnya .
Dengan cara membuat sendiri Li mar , ada nilai bela negara karena bisa menggantikan alat penerangan yang selama ini diimpor . Lewat pola itu dimungkinkan pula menumbuhkan usaha pedesaan . ” Transfer pengeta huan ini perlu keikhlasan semua pi hak agar memunculkan kegotong royongan , ” ucap Ujang.
Lewat Limar , Ujang berharap pengabdiannya bisa menerangi negeri ini sekaligus membantu warga daerah terpencil
Sumber: Kompas.12 Januari 2018.Hal.16
