Sekolah ratis sang Juru Parkir. Kompas.2016.Hal.16

Undang Suryaman bukan orang berada. Pekerjaanya sehari-hari pun “hanya” juru parkir. Tetapi, jiwa sosialnya amat tinggi. Ia rela menyisihkan penghasilannya yang pas-pasan untuk mendanai sekolah gratis bagi anak-anak dari keluarga tak mampu.

OLEH DWI BAYU RADIUS

Undang tinggal di sebuah rumah sederhana di permukiman padat di Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Untuk mencapai rumah itu, kita mesti berjalan kaki 100 meter melewati gang-gang sempit yang becek akibat sisa air hujan.

Rumah tersebut sekaligus berfungsi sebagai Taman Kanak-Kanak (TK) Nafilatul Husna Ataullah dan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Raudlotul Jannah yang diperuntukkan terutama bagi anak-anak dari keluarga tak mampu. Undang menyulap ruang tamu rumahnya yang hanya sekitar 16 meter persegi menjadi kelas sekaligus perpustakaan. Ruang yang diberi alas karpet plastic itu terasa sesak dengan jejeran rak, tumpukan meja lipat, dan mainan.

“Kalau malam, (kelas ini) jadi kamar tidur keluarga. Saya, istri, empat anak, dan nenek tidur disini,” kata Undang yang mendirikan TK dan TPA itu pada 2012.

Undang juga memanfaatkan rumah mertuanya untuk dijadikan kelas. “Saya sampai ngacak-ngacak rumah mertua. Ada dua ruang tidur di rumah itu, masing-masing berukuran 10 meter persegi, juga dipakai untuk belajar,” ujarnya sambil tertawa, awal Oktober lalu.

Pria berusia 40 tahun itu terobsesi menyediakan pendidikan bagi anak-anak tak mampu karena ia sendiri tak bisa mewujudkan cita-citanya untuk sekolah. Undang yang lahir dan besar di Desa Talagasari, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, hanya bisa mengecap pendidikan sampai tingkat SD. Keinginannya untuk sekadar melanjutkan pendidikan ke SMP kandas.

“Waktu SD, saya hars jalan kaki 12 kilometer untuk sampai di sekolah. Kalau ke SMP, saya mesti jalan dengan jarak dua kali lipat. Saya tetap menuntut untuk sekolah,” ucapnya.

Namun, Undang hrus menerima kenyataan orangtuanya yang hanya petani gurem tidak sanggup membiayai sekolahnya. Undang sempat marah, tetapi ia tak punya daya untuk mengubah keadaan. Ia hanya bisa memendam keinginan untuk sekolah. Ia juga mmbayangkan suatu ketika, jika memiliki rezeki lebih dan umur panjang, ia akan menyekolahkan anak-anak tak mampu.

Lama terpendam, angan itu mulai terwujud pada 2012 ketika ia berhasil mendirikan tempat belajar untuk anak-anak tak mampu disekitar tempat tinggalnya. Namun, langkah pertamanya itu langsung dihadang berbagai kendala. Sejumlah warga tak percaya pada kesungguhan Undang membuka sekolah.

“Mungkin melihat saya hanya seorang juru parkir. Pendidikan saya dan istri juga rendah. Ada yang bilang saya miskin. Sekolah yang saya dirikan bohong-bohongan,” ujarnya.

Cibiran bermunculan, bahkan fitnah menyebar. Undang dituduh memungut bayaran ratusan ribu rupiah dari setiap muridnya, padahal mereka hanya belajar di masjid. Untuk menepis tuduhan seperti itu, Undang menemui para orangtua murid dan menjelaskan persoalannya.

Awalnya, hanya ada 18 anak yang dititipkan orangtuanya belajar disana. Setahun kemudian, pada 2013, jumlah murid meningkat menjadi 25 orang.

Selama dua tahun pertama, Undang masih merogoh koceknya untuk membiayai pengeluaran taman belajarnya. Agar pengeluaran bisa ditekan, ia memanfaatkan ruangan masjid untuk tempat belajar. Belakangan baru ia memanfaatkan rumahnya dan rumah mertuanya.

Pada 2014, Undang berhasil meningkatkan status taman belajarnya menjadi TK Nafiatul Husna Ataullah dan TPA Raudlotul Jannah. Hal itu dilakukan setelah ia mengikuti lokakarya pendidikan yang digelar Ikatan Guru TK Al Quran Jawa Barat. Dari pelatihan itu, ia memperoleh pengetahuan untuk menentukan kurikulum dan mendirikan TK.

Tukang Parkir

Undang bukanlah orang kaya. Sehari-hari ia bekerja sebagai juru parkir di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjajaran (Unpad) di Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari rumah Undang di Rancaekek.

Pekerjaan yang telah ia lakoni sejak tahun 1992 itu hanya memberikan penghasilan rata-rata Rp. 50.000 per hari. Penghasilannya yang pas-pasan ia sisihkan Rp. 10.000 untuk biaya operasional taman belajar. Namun, uang sebesar itu tak cukup untuk menutup pengeluaran taman belajar.

Laki-laki yang di kalangan mahasiswa Fikom Unpad dipanggil Jack itu akhirnya mengambil pekerjaan tambahan sebagai pegawai tempat pencucian mobil di Jalan Buah Batu, Kota Bandung. “Saya kerja di pelataran parkirkampus dari pagi sampai pukul 17.00. Lalu, saya kerja lagi di Jalan Buah Batu mulai pukul 18.00 hingga 03.00,” katanya.

Ia sudah tiba di Fikom Unpad pukul 07.00. Undang letih luar biasa sehingga sering mengenakan kacamat hitam untuk menyamarkan wajahnya yang pucat. “Saya sering merasa tak enak badan. Sabun untuk mencuci mobil juga mengandung obat. Tangan menjadi bengkak, kaku, dan kasar. Kalau kena kulit yang lecet, pasti sangat perih,” tutur Undang.

Pekerjaan sebagai tukang cuci mobil member Undang tambahan penghasilan sekitar Rp. 50.000 per hari. Di kampus, sesekali juga membersihkan mobil mahasiswa agar mendapat upah tambahan.

Istri Undang, Yani Novitasari, terharu melihat ikhtiar keras suaminya. Ia memutuskan membantu mencari uang dengan bekerja di tempat pencucian mobil yang sama dengan suaminya. “Seharusnya saya membahagiakan dan menghibur dia…,” cetus Undang tak menyelesaikan kalimatnya.

Satu ketika pada 2013, pemilik pencucian mobil takjub melihat kegigihan Undang dan istrinya mencari uang untuk mendanai taman belajar. Sang bos terketuk hatinya dan akhirnya memberikan bantuan berupa uang sewa rumah untuk aktivitas sekolah selama satu tahun. Ia juga memberikan bantuan buku gambar, pensil, penghapus, dan buku belajar membaca Al Quran.

“Dia orang pertama yang membantu saya. Setelah itu, dukungan dari mahasiswa juga mengalir, antara lain berupa karpet dan alat tulis,” kenang Undang. Sekarang ini, sebagian besar pengeluaran TK dan TPA ditutup dari donasi para dermawan.

Mereka hanya belajar di TPA tak dipungut bayaran. Kotak sumbangan disediakan untuk peserta TPA yang ingin mendonasikan uang. Jika dibuka, kotak itu biasanya hanya terisi uang receh pecahan Rp. 500 – Rp. 1.000.

Murid TK dari keluarga mampu dikenai iurang paling banyak, Rp. 25.000 per bulan. Mereka yang tidak mampu membayar dibebaskan dari iuran. “Ada juga orangtuanya yang hanya bisa memberikan beras untuk biaya sekolah,” cerita Undang.

Seiring waktu, TK dan TPA yang didirikan Undang semakin diminati orang. Saat ini, murid TK berjumlah 60 orang, sedangkan TPA 120 orang. “Sekitar 75 persen murid TK berasal dari keluarga tidak mampu,” katanya.

Dulu, Undang dan istrinya yang mengajar anak-anak membaca, menulis, dan berhitung. Yang Belakangan, istrinya yang pernah mengajar di sebuah TK mengajak beberapa warga untuk ikut mengajar. Saat ini ada 5 guru TK dan 10 guru TPA yang mendidik murid-murid. Mereka rela mengajar tanpa dibayar.

Kadang, jika ada dana, mereka diberi honor Rp. 10.000. Namun, uang itu biasanya digunakan untuk membeli bahan makanan. Mereka memasak bahan itu dan makan bersama-sama.

Undang kini bahagia. Impiannya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga tak mampu sudah terwujud. “Saya tak punya ilmu dan harta. Hanya punya tenaga, dan itu saya gunakan untuk berbagi,” ujar Undang merendah.

Undang Suryaman

  • Lahir: Desa Talagasari, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, 25 Mei 1976
  • Istri: Yani Novitasari (37)
  • Anak:
  • Taufik Ahmad Iryani (18)
  • Septiani Damayanti (16)
  • Rezki Septian Nugraha (12)
  • Salsabilla Adyanafila (9)

Pendidikan: Sekolah Dasar Negeri Padahurip,

Sumber: KOMPAS, SENIN 24 OKTOBER 2016