Cikajang jeung wonogiri

Cimanuk Wetaneunana

Mun Hayang Salamat Diri

Ulah Poho Ka Mantenna

 

(Cikajang dan Wonogiri

Cimanuk disebelah Timurnya

Kalau ingin diri ini selamat

Jangan lupa kepadaNya)

 

Wajah Unen (69) wajah kikuk saat seni beluk engko dengan wawacan (bacaan) dan pupuh (bentuk puisi tradisional) magatruh itu dilagukan dalam acara Semarak Wisata Ramadan di beranda Masjid Pusdai Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (14/6) sore. Bacaan yang seharusnya penuh dengan kegembiraan itu diwarnai kekhawatiran. (Oleh Cornelius Helmy)

Grogi tak percaya diri jadi satu saat itu. Saat nada tinggi dilepaskan ke udara, justru banyak kata maaf dapat diucapkan dalam acara religi berbalut seni tradisional Sunda yang digagas Kementrian Pariwisata itu. “hapunten bisi aya kalepatan (maaf bila saya ada salah)” kata Unen.

Beluk engko adalah seni bertutur buhun (tua)Sunda yang masih bertahan. Senimannya atau yang sering disebut Juru Beluk berkreasi melagukan ragam bacaan dengan irama berliuk-liuk bernada tinggi. Unen adalah juru beluk engko terakhir dari Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Rekan-rekannya terlebih dahulu meninggalkan dunia bersamaan dengan beluk yang kini dilupakan. Sebagai garda terakhir tak mudah melacak keadaan Unen.

Koordinator acara Semarak Wisata Ramadan, Mas Nanu Muda sempat kesulitan menemukan Unen. Lama tak tampil, nama besar Unen tenggelam. Kabar Unen baru ditemukan setelah beberapa minggu dicari. “Baru bertemu beberapa hari sebelum acara ini dimulai” ujar Nanu.

Unen mengatakan, dengan mempersiapkan waktu singkat dirinya tak leluasa mengeluarkan kemampuannya. Ragam bacaan pupuh dibuat mendadak. Sisanya mengandalkan syair lama yang mengendap dikepala. Sesuai tema, pesan baik dibulan Ramadhan jadi garapan utamanya.

“Tidak banyak bacaan yang saya ingat. Maklum terakhir pentas lima tahun yang lalu. Sebelum itu bahkan lebih lama, sekita 20 tahun yang lalu di acara pernikahan warga” ucapnya.

Minim literature sejarah, asal muasal beluk samar-samar. Namun, diyakini seni ini terinspirasi oleh kebiasaan masyarakat Sunda saat berladang. Mereka berkomunikasi dengan teriakan dan lengkingan karena jarak antar lading yang berjauhan.

Seiring dengan perkembangan, beluk lantas berevolusi menjadi bentuk kesenian khas. Diduga, seni yang syairnya kerap ditulis dengan huruf arab pegon ini menjadi salah satu sarana agama Islam di Sunda.

Pesan Baik

Meski tak tahu kapan pertama kali muncul, Unen menyebutkan seni beluk engko pernah mendapat tempat dihati masyarakat di sekitar Kabupaten Bandung hingga akhir 1950-an. Beluk jadi sarana masyarakat bersilahturahmi dan mendapat informasi baik. Berisi banyak petuah hidup, beluk rutin melakukan upacara selamatan pernikahan hingga sunatan.

Saat itu justru beluk juga dihormati, Juru Beluk dianggap terpelajar karena bisa membaca huruf arab pegon dan latin saat tak banyak warga di Kabupaten Bandung yang bisa membaca.

“Juru Beluk bisa membaca karena seni ini juga diajarkan oleh sekolah rakyat. Saya duduk di kelas VI saat pertama belajar pada Pak Wiradikarta. Belajarnya sangat bersemagat karena anak Pak Wiradikarta cantik. Banyak yang naksir, termasuk saya” katanya.

Tak melanjutkan ke jenjang kependidikan yang lebih tinggi, beluk engko jadi jalan anyar setelah Unen lulus sekolah rakyat (setingkat SD). Ia ikut seniman beluk senior tampil di sejumlah acara pernikahan, sunatan hingga syukuran kelahiran.

Panggung mereka tak pernah megah. Saat upacara perikahan, mereka hanya tampil didepan mempelai dan keluarganya. Diacara selametan kelahiran anak, seniman beluk berkreasi diruang tidur. “Bacaannya beragam, mulai dari petuah bijak nenek moyang, kisah kepahlawanan, hingga kebesaran nabi dan sahabatnya” ujarnya.

Setengah jam kemudian pentas di Pusdai itu rampung. Hanya sedikit tepuk tangan yang mengeringi Unen turun panggung. Hal itu kontras saat seni gembyung asal Ciamis dimainkan setelah beluk. Bebrapa orang ikut menari diiringi bunyi rebana penuh semangat.

Unen tak berkecil hati sudah memperkirakannya. Ia sadar, beluk engko tak lagi popular. Sekolah-sekolah tidak mengajarkan lagi. Akibatnya generasi muda tak muncul saat jurus beluk tua satu persatu meninggalkan dunia ini.

“Susah kalau mau mencari uang dari beluk. Mungkin karena beluk tidak diminati saat ini” ucap Unen yang kini mempertahankan hidup menjadi buruh tani dengan penghasilan Rp.500.000/bulan.

Pemimpin grup kesenian Georeoono Sundanese asal Banjaran , Guru Ono yang mengiringi penampilan Unen, mengatakan sulit membuat beluk engko bangkit kembali. Kemauan anak muda membaca huruf arab pagon dan olah suara melengking penuh liukan masih minim.

“Kretivitas memasukan unsur kecapi, gong, dan kendang belum membantu beluk kembali diminati masyarakat” ujar Ono.

Akan tetapi diantara napas yang renta, unen mengatakan tak ingin menyerah. Jika ada undangan tampil pasti ia datang, tak sekedar mencari uang, tetapi tetap menjaga beluk engko tetap ada. Ia mengatakan, maut mungkin tak lama lagi akan menjemputnya. Namun, ia ngotot beluk ongko harus tetap abadi. “Beberapa tahun terakhir hati ini mulai bahagia. Ada mahasiswa datang dan bertanya tentang beluk” lanjutnya.

Unen lantas mengelurkan bundel fotokopian dari tasnya yang kumal. Buku itu didapat dari mahasiswa yang pernah menjadikan Unen sebagai narasumber. Isinya banyak bacaan dan beragam pupuh. Bundel using itu kini menjadi paduan bagi Unen saat menjawab pertanyaan eksistensi beluk engko dinunia digital ini.

Tak diminta Unen menyayikan satu syair yang terinspirasi dari buku itu sebelum pamit pulang. Ia memodifikasi menjadi syair yang bebas berkaitan erat dengan bulan Ramadhan. Sekali lagi pesan baik itu meluncur lewat lengkingan suara tinggi dan penuh liukan.

 

Curug Agung Sagaranten

Gamelan jeung Nayagana

Neda Agu Pangapunten

Neda Jembar Hampurana

(Air Terjun Agung Sangaranten

Gamelan dan para penabuhnya.

Mohon dimaafkan

Mohon Kebesaran Hati untuk  selalu Dimaafkan)

 

Unen

Lahir                : Bandung 14 November 1948

Pekerjaan         : Buruh Tani

Pendidikan       : Sekolah Rakyat

Pasir Huni (lulus 1958)

 

 

Sumber: KOMPAS, JUMAT 23 JUNI 2017