Universitas Ciputra Buka PPDS Obgyn dan Bedah, Fokus Pemerataan Dokter Spesialis Indonesia Timur
24 Januari 2026
SURYA.CO.ID, SURABAYA – Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra (UC) Surabaya resmi membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) untuk dua bidang strategis, yakni Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) serta Bedah.
Pembukaan program ini menjadi langkah konkret Fakultas Kedokteran (FK) UC dalam menjawab tingginya kebutuhan dokter spesialis di Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia Timur.
Dekan FK UC, Prof. Dr. dr. Hendy Hendarto, SpOG Subsp FER, menyampaikan bahwa kehadiran kedua program spesialis tersebut tidak hanya ditujukan untuk mencetak dokter dengan kompetensi unggul, tetapi juga memperkuat pemerataan layanan kesehatan nasional.
“Untuk spesialis Obgyn, kami membawa misi besar meningkatkan jumlah dokter spesialis di Indonesia Timur. Saat ini kebutuhan dokter spesialis masih sangat tinggi, sementara distribusinya belum merata,” ujar Prof. Hendy dikonfirmasi SURYA.CO.ID, Sabtu (24/1/2026).
Beasiswa untuk Peserta Didik Asal Indonesia Timur
Sebagai bentuk komitmen terhadap pemerataan layanan kesehatan, FK UC juga menyiapkan program beasiswa khusus bagi calon peserta didik PPDS yang berasal dari wilayah Indonesia Timur.
Beasiswa tersebut disertai persyaratan tertentu, termasuk komitmen lulusan untuk kembali dan mengabdi di daerah asal setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kami berharap lulusan tidak hanya unggul secara akademik dan klinis, tetapi juga mampu memberikan dampak langsung bagi masyarakat di daerah yang masih kekurangan tenaga dokter spesialis,” tambahnya.
Teknologi Kedokteran Modern
Selain membuka PPDS Obgyn, UC juga menghadirkan PPDS Bedah yang dirancang selaras dengan perkembangan teknologi kedokteran modern.
Dalam program ini, mahasiswa akan dibekali keterampilan operasi minimal invasif yang kini menjadi standar penanganan berbagai kasus bedah.
“Teknologi operasi berkembang sangat cepat. Karena itu, selain menguasai kemampuan dasar bedah, dokter juga harus terampil dalam teknik minimal invasif agar pelayanan lebih efektif dan proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat,” jelas Prof. Hendy.
Kekurangan Dokter Spesialis
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia masih menghadapi kekurangan dokter spesialis, terutama di luar Pulau Jawa.
Rasio dokter spesialis nasional masih belum ideal jika dibandingkan dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), khususnya pada bidang obstetri dan bedah yang menjadi tulang punggung layanan kesehatan rujukan.
Kehadiran Program Pendidikan Dokter Spesialis di UC turut didukung pembangunan fasilitas pendidikan baru berupa tower khusus Fakultas Kedokteran.

