Universitas Ciputra Perkuat Ekosistem Kampus Inklusif Lewat Integrasi Data dan Digitalisasi
5 Mei 2026
SURABAYA, HARIAN DISWAY – Di tengah upaya perguruan tinggi di Indonesia yang masih berfokus pada penyediaan layanan dan fasilitas disabilitas, Universitas Ciputra Surabaya mengambil langkah lebih progresif. Kampus itu membangun pendekatan inklusif berbasis sistem dan data.
Komitmen itu ditunjukkan melalui peluncuran buku saku panduan dosen. Hasil kolaborasi dengan Kementerian Sosial RI.
Sekaligus penguatan platform digital internal CEDX (Ciputra Education Digital Experience). Yang mulai diintegrasikan sebagai sistem pendukung pembelajaran inklusif.
Inisiatif itu diperkenalkan dalam Workshop Disability Awareness: Membangun Kesadaran, Menciptakan Lingkungan Inklusif.
Acara itu digelar di Integrity Hall UC, Senin 4 Mei 2026. Dengan menghadirkan Penyuluh Sosial Ahli Muda Kemensos RI, Santi Utami Dewi, S.Pd., M.Si.
Dalam kesempatan tersebut, Santi menyebut tantangan terbesar yang dihadapi kampus saat ini. Yakni membangun inklusivitas bukan pada sumber daya. Melainkan pada keberanian untuk memulai.
“Kesalahan terbesar kampus adalah tidak memulai untuk membangun kesadaran dan menciptakan lingkungan inklusif. Universitas Ciputra menunjukkan langkah nyata yang patut diapresiasi,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, buku saku yang diluncurkan menjadi panduan praktis bagi dosen. Melalui itu, mereka dapat memahami karakteristik dan kebutuhan mahasiswa disabilitas di ruang kelas. Namun, UC tidak berhenti pada pendekatan manual.
Ketua Satgas Disabilitas UC Yehuda Abiel, S.Sos., M.A., menjelaskan bahwa UC mulai mengintegrasikan data mahasiswa disabilitas ke dalam sistem pembelajaran melalui platform CEDX.
“Kami ingin inklusivitas tidak hanya berhenti pada awareness. Tetapi masuk ke sistem. Melalui CEDX, dosen dapat mengakses informasi mahasiswa disabilitas di kelasnya. Lengkap dengan panduan yang relevan. Sehingga bisa lebih siap dalam merancang proses pembelajaran,” jelasnya.
Fitur yang diluncurkan pada 4 Mei itu memungkinkan dosen melihat tampilan khusus terkait mahasiswa disabilitas yang mengikuti mata kuliahnya.
Informasi tersebut disertai guidebook. Berfungsi untuk membantu dosen memahami pendekatan yang tepat sesuai kebutuhan mahasiswa.
Ke depan, pengembangan akan diperluas melalui dashboard khusus bagi dosen Pembimbing Akademik (PA). Rencananya mulai aktif pada September 2026 setelah O-Week (Orientasi Week).
Melalui fitur itu, dosen PA dapat mengidentifikasi mahasiswa sejak awal. Lalu melakukan pendampingan yang lebih terarah. Sekaligus berkoordinasi dengan admin support terkait kebutuhan pembelajaran.
UC tetap menempatkan privasi mahasiswa sebagai prioritas utama. Untuk tahap awal, data belum dibuka secara luas kepada seluruh dosen pengampu mata kuliah.
Mengingat masih diperlukan persetujuan tertulis dari mahasiswa. Skema itu menjadi bagian dari upaya membangun sistem inklusif. Yang tetap menghormati aspek etika dan perlindungan data.
Langkah itu menunjukkan bahwa pengembangan kampus inklusif tidak cukup hanya melalui fasilitas atau kebijakan. Tetapi membutuhkan integrasi antara edukasi, sistem, dan budaya.
“Kami ingin membangun ekosistem yang benar-benar siap. Bukan hanya ramah. Inklusivitas harus hadir dalam sistem. Sehingga dosen bisa mengajar dengan lebih percaya diri. Dan mahasiswa bisa belajar dengan optimal,” tutup Yehuda.
Pendekatan itu menunjukkan arah baru yang diambil UC untuk membangun kampus inklusif. Kampus yang empatik, terstruktur, dan didukung data dan sistem yang jelas. (*)

