Vania Erlita memberanikan diri menawarkan produknya secara personal ke beberapa toko grosir di Surabaya. Ternyata, responsnya cukup bagus.
Buka Toko dan Jasa Konsultasi
Koleksi produk milik Vania Erlita Pratama bisa diterima masyarakat. Beberapa pesanan sudah sampai Jakarta. Bahkan, tak sedikit teman atau kenalannya yang menikah, bersiap memesan baju bayi dan mainan ketika mereka memiliki anak nantinya.
Beberapa kali, Vania memperoleh pesanan dalam jumlah besar. Saat ini, bersiap mengembangkan usaha yang diawali dengan hanya menjual maninan edukatif itu. Apalagi, Vania sudah mampu menutup modal yang banyak dikeluarkan diawal usaha.
Produk baju bayi juga cukup laris, membuatnya ingin memperbesar bisnis di bidang perlengkapan anak dan bayi. Vania sudah bekerja dengan beberapa penjahit yang masing-masing khusus membuat bagian mainan tertentu.
“Setiap penjahit mendapatkan tugas yang berbeda dan spesifik, jadi hasinya tetap sama dalam setiap produksi,” katanya.
Dengan hasil penjualan hingga kini, Vania sudah memulai pembangunan toko setinggi dua lantai di kota kelahirannya, Malang. Setelah lulus kuliah, dia berencana memfokuskan diri pada usaha perlengkapan bayi sambil melanjutkan kuliah S2 di Malang.
“Toko dua lantai itu akan saya jadikan toko perlengkapan bayi di lantai satu, dan praktik konsultasi di lantai dua,” ujarnya.
Vania berharap mimpinya itu segera terwujud karena kurangnya pemahaman masyarakat akan pentinya bantuan psikolog atau terapis dalam perkembangan anak.
Selama ini, masyarakat berasumsi psikolog hanya untuk menangani anak yang bermasalah. Padahal, dalam proses perkembangan, anak membutuhkan konsultasi. Salah satunya, tes bakat minat yang akan Vania sediakan di tempat praktik. (nh)
Kalimat dari seorang dosen itu masih melekat benar di benak Vania Erlita Pratama. Kalimat itu pula yang mengantarkan dan meyakinkannya untuk membangun usaha mainan edukatif dan baju bayi bernama Verlina Baby Wear and Toys sejak 2015. Kalimat itu adalah ‘Mulailah bisnis dari apa yang kita sukai dan didasari dengan passion’.
Perempuan dengan rambut bergelombang hingga bahu ini sangat menyukai anak kecil dan menyayangkan harga mainan edukatif di pasaran sebagian besar harganya cukup tinggi.
Vania beberapa kali mendapatkan keluhan dari sang kakak, yang terpaksa tidak jadi membelikan putrinya mainan edukatif karena harga yang mahal.
“Miris sekali mendengarnya. Saya sempatkan melihat langsung ke toko mainan, memang benar,” kata mahasiswi Psikologi Universitas Ciputra Surabaya ini.
Selain harga, masih sangat jarang pula toko yang menjual mainan edukatif. Jadilah, ide membuat usaha mainan edukatif semakin mengumpal di otak Vania.
Semangatnya semakin membara setelah mendapatkan mata kuliah perkembangan anak di semester 1 masa kuliahnya pada 2014. Vania mencoba membuat mainan pertama berbentuk ayam, dengan telur yang diletakkan di bagian dalam. Bahannya cukup bagus namun harganya terjangkau.
Gadis asal Malang itu banyak melakukan konsultasi dengan beberapa dosen sehingga mendapatkan banyak masukan atau produk pertamanya.
Mereka mengatakan produk kreasinya sudah bagus karena memiliki dasar yang kuat, tapi akan sulit memasarkannya, beberapa teman ikut meragukan keberhasilan usahanya dari sesi pemasaran.
Tapi dara kelahiran 25 Oktober 1996 ini pantang menyerah. Dia memberanikan diri menawarkan produknya secara personal ke beberapa toko grosir di Surabaya. Ternyata, responsnya cukup bagus. Sampai saat ini, tiap bulannya Vania memproduksi sekitar 10 lusin mainan edukatif. Mainan edukasi ini punya branding Verlita Shop. Cukup beragam, mulai boneka peraga dongeng hingga mainan untuk perkembangan motorik anak.
Semuanya memiliki output dalam perkembangan anak. Misalnya, saja mainan berbentuk buah-buahan dengan kancing untuk latihan motorik halus. “Latihan motorik halus sangat penting untuk anak usia 1,5-2 tahun sebagai dasar menulis,” jelas Vania.
Ada mainan berbentuk bola berbagai ukuran untuk latihan menggenggam, boneka ayam dan buaya yang berisi telur untuk mengajarkan pada anak bahwa beberapa hewan berkembang biak dengan bertelur.
Ada pula boneka kodok yang disertai kecebong untuk memperkenalkan metamorphosis. Vania menjual mainan edukatif itu dengan harga sekitar Rp 30.000.
Selain mainan edukatif, Vania memproduksi baju bayi dengan harga terjangkau. Ide kreasi lain ini karena ketika menawarkan mainan pada orang-orang atau toko grosir banyak yang bertanya tentang baju bayi.
Dari situlah, Vania memutuskan untuk membuat baju bayi. Harga baju bayinya Rp 50.000 per satuan dan berupa paket berisi tujuh baju anak satu minggu, dengan harga Rp 100.000, (nh)
Sumber: Surya.-14-september-2016.Hal_.7

