
Kampung Jadi Subur, Warga Lebih Sehat
SURABAYA, SURYA – Suasana asri sangat terasa saat memasuki kawasan kampong RT 1 RW 4 Jalan Lakarsantri, Kelurahan dan kecamatanLakarsantri. Di halaman setiap warga, aneka tanaman hias dan pohon buah-buahan tumbuh subur.
Tanaman hias seperti, mawar, kamboja, pucuk merah, atau serut, terlihat mewarnai setiap rumah. Untuk pepohonan, ada pohon manga, belimbing dan sawo.
Ya… setiap warga di kampong ini memang wajib menanam tumbuhan di area rumahnya. Bahkan, ada sebagian rumah warga yang tertutup oleh tanaman yang tumbuh rimpun di halaman depan.
Dian Mayasari, ibu Ketua RT, menuturkan =, sebelum ada penghijauan, kampong ini sangat gersang.
“Dulu gersang sekali, warga yang menanam tumbuhan masih sedikit,” katanya.
Kegiatan penghijauan ini mulai digalakkan warga pada 2013. Seluruh warga gotong royong mengubah kampung yang gersang menjadi hijau nan sejuk.
“Seluruh warga RT 1 bergerak untuk melakukan penghijauan. Sebulan sekali kami menanam pohon,” terang Dian.
Tidak hanya itu, warga juga membangun Taman Toga di sudut belakang kampung. Setiap warga yang sakit boleh memetik tanama di sini.
“tak jarang ada pula masyarakat luar yang memetik tanaman disini, kami memperbolehkan,” terang ibu empat anak ini.
Kentongan Celengan
Untuk pembibitan tanaman, seluruh warga berswadaya membayar iuran. Dian tidak mamatok harga dan waktu untuk iuran.
“terpenting iklas, kami tidak mengharuskan perhari atau perminggu untuk membayar, semua terserah warga,” terang wanita asli Surabaya ini.
Soal pengumpulan dana iuran, warga RT 1 RW 4 membuat kentongan yang tergantung di depan rumah, dan dijadikan seperti celengan.
“ketika hendak bayar iuran warga tinggal memasukkan uang ke dalam kentongan itu,” ungkap Dian.
Selain untuk membeli bibit, dana itu juga digunakan untuk perawatan tanaman.
Warga yang tida sempat merawat tanaman lantaran padat jadwal kerja, tim penggerak lingkungan RT 1 RW 4 siap merawatnya.
Tim Penggerak Lingkungan (TPL) terdiri dari ibu-ibu PKK, Karang Taruna, dan dibantu warga lainnya.
Anggota Karang Taruna yang tergabung dalam TP, Ayessandro Alfinero menuturkan, timnya akan siaga merawat tanaman warga.
“Setiap hari kami mengecek tanaman warga, lalu memberi pupuk juga,” ujar mahasiswa Universitas Bhayangkara ini.
Ayess mengaku, sangat senang dengan perubahan wajah kampung, yang dulu terkenal gersang ini.
“Tambah sejuk, saya juga bisa pamer bahwa kampungku sekarang hijau,” tambahnya.
Hal senada diutarakan warga lain, Agus Gunawan. Menurutnya, pernghijauan yang dilakukan warga telah mengurangi polusi udara. Sedang tanaman toga bisa menjaga kesehatan warga.
“Warga semakin sadar akan pentingnya penghijauan,” pungkasnya.(nen)
Olah Jadi Produk Makanan Minuman
HASIL panentaman RT 1 RW 4 tidak hanya dikonsumsi sendiri, tetapi juga diolah Ibu-Ibu PKK untuk dijual. Sebagian tanaman memang bisa diolah menjadi makanan atau minuman yang mempunya nilai ekonomis.
Seperti, mangga dan belimgin, biasanya diolah menjadi manisan.
“Saat panen, setiap warga memetik buah mangga yang ada di depan rumah lalu dikumpulkan di balai untuk diolah menjadi manisan,” tutur Nunung Indrawati, Ketua PKK setempat.
Warga juga memanfaatkan kedua buah untuk diolah menjadi produk minuman (jus buah).
“Sedang tanaman toga diolah menjadi jamu,” ujar wanita asal Bojonegoro ini.
Ia menuturkan, jika produk itu laku hasil dari penjualnnya digunakan untuk menambah kas kampung.
“kami masih memasarkan di kampung-kampung dekat sini saja, kedepan akan diperluas.” Imbuh wanita 2 anak ini.
Produk yang dijual Ibu-Ibu PKK dibanderol sekitar Rp6.000 untuk jamu hingga Rp 10.000 untuk manisan dan jus buah.Selain itu, Ibu-Ibu PKK memanfaatkan limbah rumah tangga untuk diolah menjadi pupuk, sehingga bisa mengurangi pengeluaran dalam hal perawatan tanaman.
“Ada ruangan komposter di dekat taman tanaman toga, untuk mengola limbah makanan menjadi pupuk,” imbuh Dian Mayasari, ibu Ketua RT.(nen)
Sumber: Surya_.22-Maret-2018.Hal_.11
