Waktu Prioritas untuk Tiap Anak Hindari Rasa Jealous

21 Januari 2024. Hal. 20

Sebab usia anak dekat maupun jauh memiliki tantangan masing-masing. Menurut beberapa riset, idealnya 2-4 tahun. Ketika jarak usia anak berdekatan, potensi sibling rivalry lebih besar. Bagaimana menghadapinya?

DYAH Satiti harus pintar-pintar membagi perhatian untuk kedua anaknya yang hanya berjarak 1,5 tahun. Terutama ketika Karna, 2,5 dan Kenes 1, sama-sama cranky. Kerja sama dengan suami adi solusi. Bapak pegang kakak, ibu pegang adik, atau sebaliknya.

“Dulu enam bulan pertama adik masih bisa dipegang orang lain kayak bapaknya atau mbahnya. Sekarang sudah mengenali ibunya, mulai demanding minta diperhatikan full,” cerita Dyah.

Belum lagi persoalan ASI. Dyah masih memberikan ASI untuk Karna dan Kenes. Tiga bulan pertama setelah adik lahir adalah masa-masa sulit. Sebab, bayi belum bisa duduk mandiri. “Kalau sekarang pas rewel barengan bisa langsung ditenangkan dan dihibur,” imbuhnya. Si kakak happy, adiknya ikut terhibur. Begitu pun sebaliknya.

Di sisi lain, jarak usia yang cukup dekat punya nilai plus. Salah satunya, barang anak pertama masih bisa digunakan anak kedua. “Repot dan stres pasti, ya. Kalau sudah jenuh gitu, saya ada ‘time out‘. Anak-anak saya serahkan bapaknya sebentar. Ini lumayan mengurangi tingkat stres karena kalau ibunya capek, pasti efeknya ke anak juga,” ungkap Dyah.

Karena itu, jarak usia anak perlu ortu perhatikan. Dengan begitu, ortu bisa menyiapkan fisik dan psikisnya. Psikolog Airono Zuroida menyebut idealnya jarak usia anak 2-4 tahun. “Anjuran beberapa penelitian seperti itu. Kembali ke ortunya karena masing-masing keluarga memiliki kesiapan yang berbeda sehingga itu tidak bisa jadi patokan,” tutur psikolog klinis di Griya Psikologi tersebut.

Pada dasarnya, jarak usia dekat maupun jauh memiliki tantangan masing-masing. Mengandung sembari mengasuh bayi yang baru berusia setahun akan sangat melelahkan bagi ibu. Saat si adik lahir, tantangannya semakin besar.

Kakak yang masih balita akan sering menunjukkan kecemburuan terhadap adik bayinya. Sebab, perhatian ortu untuknya jadi terbagi. “Hal itu bisa menimbulkan sibling rivalry atau persaingan antar saudara. Secara psikis, untuk anak yang punya adik dengan jarak dekat, emosinya labil,” ungkapnya.

Anak mungkin jadi mudah marah dan sedih. Sebab, sulit secara emosional bagi anak menjadi kakak saat usianya belum mencapai 2 tahun. Ortu harus bisa adil dan tidak membanding-bandingkan anak.

“Prioritaskan waktu untuk masing-masing anak. Harus ada momen berdua yang teratur dengan setiap anak untuk meminimalkan kecemburuan. Waktu 15 menit pun cukup asal fokus pada masing-masing anak,” pinta dosen psikologi Universitas Wijaya Putra itu.

Hal yang sama dilakukan Dyah. Sebisanya dia bersikap adil kepada kedua anaknya. “Kalau kakak makan snack, adik juga dibelikan snack yang sesuai dengan usianya. Adiknya pegang benda atau mainan apa, kakaknya juga diberi mainan. Itu saja masih saya temui kakak ‘intimidasi’ adiknya beberapa kali, kadang adiknya yang ‘mengganggu’ kakaknya bermain,” timpal Dyah.

Jika sudah demikian, akan sangat menguras tenaga. Aironi menyarankan ibu memiliki waktu istirahat saat beban terasa berat. Termasuk untuk tidak ragu meminta bantuan orang lain. “Jangan ragu melibatkan ayah dalam berbagi pengasuhan maupun pekerjaan rumah. Atau, minta anggota keluarga lain untuk menjaga anak sebentar,” tandasnya. (lai/c7/nor)

sumber: Jawa pos