Kreator Calung dari Gunung Tangkubanparahu. Kompas.22 Agustus 2015. Hal.16

“Ka ka ka kakoncara, pariwisata Jawa Barat, wisata budaya wisata balanja, wisata alamna beunghar pisan…”

Itu adalah sebait kidung Sunda berjudul “Gawok” (senang sekali atau hobi) ciptaan Warman Santi (56), seniman asal lereng selatan gunung Tangkubanparahu, tepatnya dari Desa Curug Rendeng, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, yang melukiskan betapa kayanya budaya dan wisata alam Jawa Barat.

OLEH DEDI MUHTADI

Kidung itu khusus diciptakan untuk lagu pembuka seni tradisional calung Sunda. Akhir Juli lalu grup calung ini diundang festival seni tradisional di Sumedang, kabupaten tetangga Subang. Lewat kreasinya, calung yang biasanya beranggotakan empat orang dengan alat musik bambu menjadi calung kreatif beranggotakan delapan orang. Empat orang lainnya masing-masing memegang kecapi, gong, drum, dan gitar bas sebagai pengiring musik induk calung.

Inovasi ini dilakukan agar pertunjukan seni calung tradisional tidak membosankan, tidak hanya bobodoran (lawakan) diselingi musik bambu yang monoton. Dengan tambahan kecapi, gong, drum, dan gitar bas, penonton juga bisa menikmati selingan musik dan lagu.

“Ketika ada permintaan lagu dangdut, ya, kami nyanyikan,” ujarnya.

Modifikasi itu dilakukan dalam rangka mengimbangi gencarnya serangan seni lain, terutama musik dangdut dan organ tunggal. Kedua jenis musik itu selama lebih dari tiga dekade merasuki pelosok pedesaan sehingga acara-acara hajatan warga yang sederhana sekalipun hampir selalu diisi dengan organ tunggal. Anak-anak muda dan remaja pedesaan senang sekali seni yang mereka anggap sebagai sesuatu yang “modern”.

Tidak heran jika kebanyakan remaja Subang, khususnya dan umumnya Jawa Barat saat ini kurang meminati seni dan budaya Sunda, warisan leluhurnya. Remaja di kalangan menengah ke atas lebih memilih mempelajari tarian modern, bahkan bergaya hidup kebarat-baratan.

“Padahal, apabila sampai jati ka silih ku junti, yakni kesenian lokal tersisihkan seni budaya asing, kita akan kehilangan jati diri,” kata Warman.

Sebaliknya, kalau generasi muda mengembangkan serta melestarikan seni dan budaya sendiri, bangsa ini akan penuh warna dan banyak peluang. Karena itu, sebelum kesenian lokal tergerus zaman, tahun 1982 Warman membangun Padepokan seni Gentra Parahyangan di lereng Gunung Tangkubanparahu. Tujuannya untuk melestarikan seni tradisional yang semakin tersisih seni asing.

Laboratorium Seni

Sanggar seni ini berupaya menggali dan menghimpun aneka ragam seni tradisional lalu mengenalkannya kepada anak-anak sekolah. Selain calung, reog, ketuk tilu, degung, gending karesmen, sandiwara Sunda, dan sisingaan, sanggar Gentra Parahyangan juga menggali seni buhun lain, seperti ronggeng lenco atau doger yang lahir dari budaya perkebunan di pegunungan. Lalu, seni belantuk ngapak dari budaya pedataran dan dombret dari budaya pantai.

Kondisi geografis Kabupaten Subang memang lengkap, ada pegunungannya di selatan, daerah dataran di tengah, dan kawasan pesisir Laut Jawa di utara. Hal ini pula yang menjadikan kondisi sosial budaya satu wilayah dan wilayah lainnya berbeda.

“Kekayaan seninya juga lengkap sehingga cocok untuk dijadikan laboratorium seni Jawa Barat,” demikian harapannya.

Seni tradisional merupakan salah satu bentuk warisan budaya tak benda. Pada dasarnya, bangsa ini, khususnya tatar Sunda, kaya tradisi khas yang dituangkan pada nama kesenian sesuai konsep kultur daerahnya masing-masing. Calung Sunda merupakan salah satu seni tradisional yang meliuk di antara derasnya arus seni modern

Calung sendiri merupakan alat musik Sunda yang terbuat dari bambu seperti angklung. Kalau angklung dimainkan dengan cara digoyangkan, calung ditabuh dengan memukul batang dari bilahan atau tabung bambu yang tersusun berdasarkan tangga nada Sunda (titi laras) pentatonik (da-mi-na-ti-la).

Tak terhitung Warman menciptakan kidung Sunda untuk mengisi jenis seni yang bakal digelar. Bersama kidung ia juga membuat skenario cerita untuk sandiwara Sunda, baik untuk pergelaran di dalam gedung maupun seni di ruang terbuka.

Suatu saat ada sanggar seni dari Pangandaran, kawasan pantai di Jawa Barat selatan, meminta izin menggunakan kidung ciptannya. “Kalau mau digunakan, silahkan saja karena itu berarti sebuah upaya pelestarian seni Sunda,” ujarnya kepada seniman Pangandaran itu.

Selain calung kreatif, Warman juga mengembangkan jenis seni dalem sado singkatan dari dagelan lembur sandiwara jeung doger. Dalem sado biasa digelar di sanggarnya di hari-hari libur atau malam Minggu.

Pergelaran itu dilengkapi dengan sajian khas desa, seperti bubuy sampeu (ubi kayu yang direbus), sangu leuweung (nasi hutan), dan soto batok (nasi soto yang wadahnya terbuat dari batok kelapa).

Turunan dalang

Warman lahir dari keluarga seni, karena kakeknya adalah seorang tokoh dalang terkenal di Sumedang. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah diarahkan ibunya masuk kelompok seni Sunda Gending Karesmen. Ibunya melihat bakat seni Warman saat menjadi juara mengarang dengan judul “Nun Jauh di Sana di Kaku Gunung Tanguban Parahu,” kampung halamannya.

“Saat itu ibu saya sendiri yang memberi judul karangan itu,” kenang bapak beranak empat ini.

Setelah menamatkan pendidikan di SMP Jalancagak, Warman melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Pendidikan Guru, Subang. Sambil mengajar kesenian di SD, Warman sempat kuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung. Namun, ia menamatkan S1-nya di Jurusan Pendidikan Agama Islam Riyadul Jannah, Subang.

Sebagai Kepala Seksi Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Subang. Warman berobsesi menjadikan Subang sebagai proyek percontohan laboratoriun seni budaya Sunda. Kondisinya memungkinkan karena kabupaten ini memiliki tiga kekayaan geografis di atas. Dari 30 kecamatan, bisa dibagi menjadi enam kantong budaya berdasarkan tiga kekuatan wilayah, yakni pengunungan, dataran, dan pesisir.

Sebagai pusat laboratorium diperlukan kawasan wisata budaya seluas 60 hektar di daerah dataran Subang, “Prinsipnya, kalau mimpi itu dinilai 100 tanpa disertai langkah awal (0), jika keduanya dikalikan, hasilnya adalah 0,” ujarnya.

Warman lalu membuat pengalinya agar bernilai melalui Gentra Parahyangan.

WARMAN SANTI

Lahir                : Subang, Jawa Barat, 10 November 1959

Pendidikan      : – SD Ciater

– SMP Jalancagak

– SPG Subang

– ASTI Bandung dan STAI Riyadul Jannah, Subang

Istri                  : Warliah Mutiarsih

Anak                : – Ajeng Cinta Lestari Dewi

– Sandi Gintara

– Nipa Sanjoya

– Nopa Widiya

 

Sumber: Kompas.22-Agustus-2015.-Hal.16