Beragam Event Rayakan Hari Batik Nasional
Surabaya- Keindahan batik tak terbantahkan. Buktinya, pada 2 Oktober 2009, Unesco menetapkan batik sebagai salah satu warisan budaya. Sejak saat itu, 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Berangsur-angsur pula batik berubah menjadi gaya hidup. Tak ada lagi pandangan batik sebatas kain kuno yang hanya dikenakan kalangan senior.
Kemarin (2/10) berbagai event bertema batik diadakan di Indonesia, termasuk di Surabaya. Pengunung mal, tempat umum, dan berbagai spot mengenakan batik dengan bangga.
Salah satunya event Batik Fair yang didakan di Jayanata beauty Plaza. Sebanyak 26 tenant dari seluruh Indonesia menampilkan koleksi busana batik premium fashionable. Bertema Beauty in Diversity, event itu mencoba menampilkan batik secara elegan.
Laurensia Nianney, 27, marketing and communication Jayanata Beauty Plaza, mengungkapkan, event tersebut seudah berlangsung kali ketiga. “Perkembangan batik sangat pesat. Tiap tahun jumlah pengunjung dan tenant selalu bertambah,” jelasnya.
Tunjungan Plaza Surabaya (TP) juga mengadakan event Batik Day Instagram Contest. Bedanya, dalam even itu, pihak Tunjungan Plaza Surabaya mengajak pengunjungnya untuk ber-selfie dengan menggunakan batik. Berlokasi di berbagai spot di TP, hasil foto harus diunggah ke media sosial Instagram milik Tunjungan Plaza Mall.
Hal senada diungkapkan dua pengusaha busana batik muda, Sally Santoso, 24, dan Febrina Gonta, 24. “Batik sudah menjadi gaya hidup warga Surabaya,” kata Febrina.
Saat ditanya tentang tren, sara alumnus University of Washington, AS, tersebut menerangkan bahwa anak-anak muda cenderung memilih batik dengan warna-warna cerah. Kebanyakan cutting-nya body fitting dengan memadupadankan beberapa busana lain. Misalnya, cardigan, miniskirt, atau pun syal. “Positif ya, berarti ada kebanggan memakai warisan asli Indonesia. Bangga pakai batik,” imbuh Sally.
Secara teknik, batik memang beragam. Ada batik tulis, celup, lukis, dan cap. Sementara itu, corak atau motif milik Iwan Tirta, salah seorang desainer batik Khas Indonesia, mencapai 11 ribu.
Era Soekamto, ahli waris Iwan Tirta, mengaku perlu riset kembali untuk memfokuskan motif ketika membuat Dewaraja. Rancangan itu menjadi penutup ciputra World Fashion Week pada 20 September lalu. “Batik Iwan Tirta mempunyai kesan elegan dan klasik. Teknik yang digunakan batik tulis,” ujar Era.
Teknik itu juga digunakan desainer Surabaya, Yuana Tanaya. Pemilik Sephora batik tersebut mengelaborasikan batik tulis Jawa Tengah dan Jawa Barat. “Untuk motifnya, saya suka pakai kawung dan angkin,” ungkap alumnus Ohio State University, AS, itu.
Untuk menghadapi pasar yang tidak lagi kaku, Amelia Kartikasari, desainer batik Surabaya, membuat batik yang kasual, colorful, dan simpel. Karya Amelia didominasi warna candy dan menggunakan kain katun. Total ragam busana berjumlah 25 buah itu memang ditunjukkan kepada remaja hingga perempuan berjiwa muda.
Karya perdana di ranah batik itu rupaya mempunyai banyak bentuk. Ada dress, kulot,jumpsuit,dan crop top menarik yang bisa dipadu dengan jeans. “Koleksi terinspirasi dari keinginan batik yang lebih bmembudaya. Inginnya semua perempuan bisa pakai. Muda dan tua tidak masalah,” ujar desainer kelahiran 12 agustus 1981 itu.
Amelia mengatakan desain batik yang dia buat berasal dari batik cap kepunyaan sendiri. Itulah yang membuat dia dapat memiliki banyak gambar. Variasi motif batik yang dia miliki cukup beragam.
Dia pun memberikan saran untuk umat muslim. Pakaian batik itu, lanjut pemilik koleksi Antara Batik tersebut, bisa dipadu dengan koleksi coat dengan celana jins atau lengan panjang dan hijab.
Sementara itu, perayaan hari Batik Nasional dirayakan dengan fashion show bertema All about Modern Batik. Acara ini merupakan bentuk kerjasama Kokola Grup dan Merlion Internasional School. Sebanyak delapan keluarga hadir untuk memeriahkan acara ini.
Sumber: Jawa Pos, Sabtu, 3 Oktober 2015

