Dalang eksperimental dari Kediri, Safarudin Balok, mengkreasikan wayang yang terinspirasi dari paduan Potehi dan wayang golek. Ia menamainya ima atau Boneka Panji Malangan. Cerita-ceritanya pun tak lepas dari cerita Panji.

AFARUDDIN Balok dikenal sebagai S dalang eksperimental, ser dalang eksperimental. la sering wayang yang ia kreasikan. Bila cerita dalam wayang identik dengan Ramayana atau Mahabharata, Balok pernah mentransformasikan cerita ludruk besutan ala Jawa Timur ke dalam wayang yang dimainkannya. Karakter wayang itu dikerjakan lengkap dengan kostum ala besutan.

Lagi-lagi pria yang tinggal di Cerme Kediri itu tampil dengan kreasi terbaru. Wayang yang dimainkan serupa dengan boneka tangan. Ia menemaninya Bojima atau Boneka Panji Malangan. Karakternya menggunakan tokoh-tokoh khas cerita Panji yang tersebar di daerah Malang, Jawa Timur.

Dalam Panji Malangan, karakter tokoh-tokoh wayang tersebut ditampilkan dalam kreasi topeng. Seperti tokoh Dewi Ragil Kuning yang digambarkan dalam topeng perempuan berkulit kuning. Beralis tipis, hidung mancung dan senyum yang mengembang.

Ada juga tokoh Klana Sewandana. Karakter topengnya berwarna merah dengan ekspresi mata melotot, hidung mancung dan kumis tebal. “Saya memesan cinderamata cinderamata kecil berupa kepala karakter tokoh Panji Malangan,” ujarnya.

Cinderamata itu dikerjakan oleh Handoyo, pengrajin yang juga ketua topeng Malangan Asmorobangun. Kepala-kepala kayu berbentuk wajah topeng Panji Malangan itu dikreasikannya dengan kain perca dan kain-kain bermotif batik. Dijahit dan digunting dengan cermat lalu bagian bawahnya diberi lubang agar tangan bisa masuk dan bisa dimainkan. “Jika dimainkan, per adegan menampilkan dua boneka,” ungkap ayah dua anak itu.

Kreasi wayang Bojima karya Balok itu dipentaskan dalam acara Vitalisasi Sastra Kentrung, yang diadakan pada 23 Juni kemarin, di Rumah Budaya Pantura, Desa Kemantren, Paciran, Lamongan. la tampil sebagai pembuka pementasan. Kehadiran Balok dalam acara tersebut karena ia dianggap merepresentasikan sastra tutur dalam media wayang. “Sastra tutur itu sama halnya dengan folklor. Berisi cerita rakyat yang dituturkan, dan tak tertulis. Penuturannya bisa secara oral, bisa juga lewat media wayang,” ungkap pria alumni Sastra Indonesia, Universitas Airlangga itu.

Penuturan sastra lewat media wayang biasanya memuat kisah-kisah tentang petuah hidup yang mengandung ajaran moral dan keagamaan. Saat itu ia tampil bersama penggiat seni tradisi lain seperti seni kentrung dan sebagainya. Balok menampilkan cerita tentang Panji Asmorobangun yang berencana memboyong Dewi Sekartaji dari kerajaan Daha.

Konon, kerajaan Jenggolo yang dipimpin Panji akan goyah dan terus terjadi pertikaian. Bila Dewi Sekartaji tidak berada bersamanya. Karena takdir kerajaan Jenggolo akan menjadi damai jika kedua pasangan itu bersatu. Panji Asmorobangun mendatangi Dewi Sekartaji di Kerajaan Daha.

Namun sang Dewi meminta syarat. Jika ingin memboyongnya, maka Panji harus menyediakan pitik tulak jengger delimo tukung. Yakni ayam yang sekujur tubuhnya berwarna hitam, namun jenggernya berwarna merah delima. Ayam itu hanya bisa didapatkan di Gua Selomangleng. Gua itu dijaga oleh jin Dandaran.

Dalam pertunjukan yang dimainkan Balok, ia memegang wayang boneka karakter Dewi Sekartaji dan Mbok Emban. Adegan itu menunjukkan interaksi keduanya. Dewi Sekartaji sedang menumpahkan isi hatinya kepada Mbok Emban. “Aku wes kadung ngomong ngono, mbok. Njur piye iki?,” keluh Dewi Sekartaji pada Mbok Embannya. Ia menyesal telah membuat sayembara yang begitu berat.

“Sampun takdiripun, ndoro. Mugi ndoro Panji bijak angsal pitik tulak jengger delima tukung,” ujar Mbok Emban seperti diucapkan Balok. Dia menghibur hati majikannya, dan percaya bahwa Panji dapat menyediakan ayam hitam seperti yang diinginkan.

Memang benar pada pertempuran sengit di Gua Selomangleng, Panji Asmorobangun berhasil mengalahkan jin Dandaran dan membawa ayam hitam ke hadapan Dewi Sekartaji. Karena sayembara telah usai, Dewi Sekartaji bersedia diboyong Panji Asmorobangun ke kerajaan Jenggolo.

Di kerajaan Jenggolo, ayam hitam itu disembelih untuk upacara slametan. Dagingnya dimakan oleh orang-orang banyak. Saat itulah takdir telah tercapai, dan kehadiran Dewi Sekartaji di samping Panji Asmorobangun mampu membawa kesejahteraan bagi kerajaan Jenggolo. Tak ada lagi ontran-ontran yang terjadi di negara itu.

“Pesan moralnya tentu perjuangan berat tokoh Panji demi kebesaran negaranya. Apa pun dilakukan, meski berat,” ujar pria 45 tahun. itu. Pementasan Balok berlangsung dengan sukses dan ditutup dengan applause panjang para penonton. Musiknya ditangani oleh tim panitia yang hadir di sana.

Wayang Bojima tampil pertama kalinya sebagai satu-satunya wayang kreasi masa kini dalam perhelatan Vitalisasi Sastra Tutur. Dengan cerita khas tradisi Panji Jawa Timuran, dipadu dengan joke-joke segar ala Balok. (Heti Palestina Yunani Guruh Dimas Nugraha)

 

Sumber: Harian Disway. 27 Juni 2021. Hal.42-43