Wayang dari Kantong Semen Wujud Kepedulian Budaya dan Lingkungan
Jawa Pos. 4 Oktober 2023. Hal.15
SURABAYA – Sebanyak 12 wayang purwa aliran Jawa Tengahan dipajang di Pusat Interpretasi untuk Kreativitas dan Inovasi Universitas Ciputra (UC) Tower. Wayang-wayang tersebut tidak dibuat dari kulit sapi. Tapi dari lapisan kantong semen yang sudah diolah selama dua pekan, kemudian dijadikan wayang.
Pameran itu menjadi pembuka peluncuran Center for Sustainable Design (CoS) dan Center for Creative Heritage Studies (CCHS) kemarin(3/10).CoS resmi dibuka Universitas Ciputra untuk pengembangan desain, ilmu pengetahuan, kebijakan, dan praktik manajemen keberlanjutan.
“Sebenarnya program pemanfaatan limbah industri sudah kami lakukan beberapa tahun terakhir,” ucap Kepala CoS Yoanita Kartika Sari Tahalele.
Pendirian CoS diawali dari program Matching Fund Kedaireka yang didanai Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. “Lewat CoS, harapannya lebih banyak lembaga yang bekerja sama terkait isu keberlanjutan ini,” ujar Yoanita.
Sebelumnya pihaknya sudah membuat desain produk dari limbah kulit, Kini mereka mulai menjajaki kerja sama terkait limbah plastik.
Koleksi wayang kantong semen menjadi bentuk yang cocok dari perpaduan CoS dan CCHS. Program Manager CCHS Rani Prihatmanti mengatakan, pihaknya kini fokus menjaring anak muda untuk kembali menghidupkan budaya leluhur. Di antaranya melalui program digitalisasi dan mendekatkan budaya kepada generasi muda. Membawa koleksi museum ke kampus menjadi salah satu upaya mendekatkan budaya.
Bukan hanya itu, sivitas akademika juga diajak menilik cara pembuatan wayang berbasis kantong semen. Kemarin Ki Juki asal Kediri berhasil mendemonstrasikan pembuatan wayang,
“Butuh berapa lapis kantong semen itu bergantung tokoh yang dibuat. Kalau tokoh-tokoh besar, biasanya butuh 8-9 lapis kantong, ungkapnya.”Kantong semen lebih tahan kondisi. Kena air tidak akan rusak,” imbuh perwakilan Museum Gubug Wayang Tri Suhartanto. (dya/c9/may)

