
SURABAYA, Jawa Pos – Denting gamelan iringi sejumlah sinden yang mengalunkan tembang Jawa. Kolaborasi apik itu menjadi pembuka saat pergelaran wayang kulit lakon Nalendra Dipa Boyong. Pentas tersebut digelar di Pendapa Taman Budaya Jawa Timur dengan tidak mendatangkan penonton. Namun, ditampilkan secara virtual di kanal YouTube Cak Durasim sejak Sabtu (16/1).
Didalangi Dimas Dwipa Surya, lakon itu menceritakan salah satu kisah legenda Mahabarata. Yakni, Peristiwa Nalendra Dipa yang didukungmemboyong istrinya, Dewi Citrawati ke Negara Maespati. Dalam perjalanannya, Nalendra menghadapi sejumlah halangan. Dari ceritanya, terdapat sebuah pesan untuk selalu menjaga ke- setiaan antar pasangan.
Perundingan perundingan dilewati Nalendra Dipa sejak ingin melamar Dewi Citrawati. Salah satunya dengan sang raja. “Sliramu arep mboyong Dewi Citrowati, nanging ngertenono iki dino akeh penglademi mar sako liyo negoro,” kata sang raja. Lantas, Nalendra pun menjawab, “Nggih sendiko dawuh romo,” tandas Nalendra yang disuarakan Dimas. Pada puncaknya, dia harus melawan Prabu Dasamuka. Sang prabu menginginkan Nalendra untuk melepas Dewi Citrawati untuk dirinya. Alhasil, perang pun terjadi.
Dialog demi dialog terlewati. Gunungan diangkat dan digoyangkan sebagai tanda selesainya tiap babak. Alunan gamelan menggelegar saat dialog-dialog dengan nada tinggi tercetus. Sesekali campursari kembali bergema setiap dialog selesai. Tata diatur rupa agar terlihat dramatis.
Mengirimkan sebuah pesan. “Setialah terhadap pasangan dan calon dalang muda yang menempuh pendidikan pedalangan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu. Rangkaian acara Wayang Kulit Jawa Timuran secara virtual. Pendalangnya merupakan seniman-seniman muda Pemuda asal Pasuruan tersebut baru saja mendapat penghargaan dari Pemprov Jatim. Yakni, Penyaji Catur Dari kisah itu, sang dalang ingin mengganggu hubungan lain.
“Acara tersebut digelar pada Jawa Timur. Salah satunya, Dimas. Terbaik Festival Dalang Muda 2020. (nas / c13 / tia)
Sumber: Jawa Pos. 20 Januari 2021. Hal.24
