Widodo Budiharto, Profesor tetap Bidang Kecerdasan Buatan di Universitas Bina Nusantara

Pencapaiannya menyandang gelar profesor dengan loncat jabatan akademik, yakni dari lektor langsung menjadi profesor, juga jarang terjadi dalam peraihan profesor di Indonesia.

Widodo yang mendalami bidang kecerdasan buatan atau artifical intelligence (AI) melahirkan banyak karya intelektual, baik dalam bentuk prototipe robot yang mengaplikasikan AI, buku ajar, hingga publikasi penelitian. Widodo setidaknya sudah menulis 36 buku dan puluhan paper dan jurnal bereputasi, sembilan hak kekayaan intelektual di bidang AI, dan juga menjadi profesor kunjung ke luar negeri.

Atas kinerja dan dedikasi Widodo, Kementria Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menetapkan Widodo sebagai guru besar meskipun harus meloncati satu jenjang jabatan akademik lektor kepala.

Widodo dikenal sebagai sosok yang serius, ta banyak bicara, tetapi inovatif dan senang mendorong dosen dan mahasiswa untuk menghasilkan lebih banyak inovasi berbasis kecerdasan, yakni sistem berbasis komputer yang mamou menduplikasi kemampuan manusia, yaitu berpikir dan mencari sebab. Istilah kecerdasan buatan, kata Widodo, dipopulerkan pada 1958.

Membantu manusia

Idealismenya sebagai dosen dan peneliti membuat dia terus berkarya, terutama menciptaan robot humanoid yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Ketika mendampingi mahasiswa dan tim dalam riset berbasis kecerdasan buatan yang diaplikasikan pada robot, Widodo mengutamakan pada kegunaan untuk kehidupan manusia.

Dari riset Widodo dan tim lahirlah sejumlah prototipe robot humanoid yang dapat membantu di bidang pendidikan, seperti belajar berhitung, bernyanyi, dan mendongeng. Uniknya, prototipe robot yang mengimplementasikan kecerdasan buatan itu berbahasa Indonesia yang baik dan benar.

Tak hanya untuk pendidikan, implementasi kecerdasan buatan juga diaplikasikan untuk mencari solusi bagi penyandang disabilitas. Karya yang dihasilkan antara lain kursi roda berbasis pikiran. Kursi roda ini dapat digerakkan dengan sinyal otak sesuai dengan apa yang dipikirkan pengguna.

Ketergantungan penyandang disabilitas pada antuan orang lain untuk mendorong kursi roda bakal teratasi. Selain itu, ada pula lengan robot untuk mereka yang tidak punya lengan dengan sinyal sensor otot.

Widodo juga senang pada riset mahasiswa yang menghasilkan robot rapiro. Root ini diyakini sangat tepat dijadikan prototipe robot humanoid karena isa diprogram untuk bisa menjadi robot masa depan. Robot ini sudah mampu mengenal ucapan dalam bahasa Indonesia dan mengenal arti suatu kalimat.

“Buat kita manusia, memahami suatu kalimat mudah, tapi untuk robot sulit. Dengan memakai natural language processing, robot jadi bisa cerdas dan mengerti maksud ucapan kita,” ujar Widodo.

Hidup dengan robot, kata Widodo, bukan lagi hal yang asing, di masa – masa mendatan, termasuk di Indonesia. “Waktunya sudah makin dekat. Indonesia sudah mulai mampu menerapkan kecerdasan buatan,” katanya.

Ke depan, ujar Widodo, kecerdasan buatan yang dapat membaca pikiran manusia akan semakin erkembang. Sistem kecerdasan buatan dapat diprogram dan dilatih untuk menagkap sinyal yang berbeda dari pikiran manusia. Hanya dengan pikiran, manusia, misalnya, dapat memindahkan barang, mematikan lampu, dan sebagainya.

“Dengan riset yang fokus da tahu mau diarahkan ke mana, kami bsa mengasilkan sejumlah produk berbasis kecerdasan buatan. Riset yang dilakukan ini harapannya dapat dikembangkan lebih lanjut dalam skala industri,” kata Widodo.

Sadarkan masyarakat

Widodo menyampaikan, masyarakat perlu disadarkan tentang kehadiran teknologi robotika yang akan segera memasuki Indonesia disertai dengan dampaknya. Di Jepang, misalnya, restoran sudah dilayani robot. Ada dampak nanti pada pengurangan tenaga kerja. “ kita harus siap dengan tren teknologi masa depan. Kita akan hidup berdampingan dengan sistem kecerdasan buatan,” katanya.

Pencapaian Widodo menjadi profesor kecerdasan buatan dalam usia yang terbilang muda dan lompat jabatan akademik ini merupakan buah dari kerja keras dan komitmennya. Sejak lulus kuliah, dia bekerja di bidang teknik informatika sebagai trainer, lalu sebagai dosen. Setelah lulus S-2 pada 2002, dia menjadi dosen di Universitas Binus.

“Menjadi pendidik memang passion saya karena bisa berbagi ilmu pengetahuan,” ucap Widodo yang menyebut dapat titisan dari ayahnya yang seorang widyaiswara atau pelatih pendidik.

Widodo menuturkan, ayahnya senantiasa mendorong dirinya menjadi yang teraik. Kaeena itu, saat jadi dosen, ia begitu rajin menghasilkan publikasi internasional dari hasil riset yang didanai Pemerintah Indonesia ataupun dari luar negeri. “ jadi terbaik di publikasi itu tidak mudah, tapi mungkin saya beruntung ada bakat dan senang menulis. Ketika sudah berhasil meraih hibah penelitian, untuk dapat hibah lain mudah,” katanya.

Widodo yang yang memimpin Lab Robotics dan Intelligent Systems School of Computer Science di Universitas Binus, menargetkan pada 2025 mampu membawa laboratorium ini ternama di dunia dan menghasilkan riset yang berguna tinggi pada manusia. Untuk meraih mimpi itu, pelatihan workshop harus harus terus digelar.

“Lihat era ke depan, semua kecerdasan buatan dan peluang untuk menghasilkan inovasi. Semua produk mulai disisipi kecerdasan buatan. Kita harus bisa mengembangkan inovasi,” kata Widodo.

Widodo bertekad terus mengembangkan riset lintas jurusan untuk menghasilkan inovasi robot humanoid yang berbasiskan kecerdasan buatan. Dia juga menekankan bahwa esensi penelitian tidak hanya mengejar publikasi, tetapi untuk menghadirkan solusi kehidupan bagi manusia dan bangsa.

Sumber : Kompas.27 September 2017.Hal 16