Perbedaan Pola Sesuai Taraf Ekonomi
Pada pekan libur Lebaran, kunjungan ke beberapa wisata outdoor menunjukkan peningkatan. Kondisi itu memang dipengaruhi larangan mudik sejak pertengahan Ramadan. Baik ke tujuan wisata yang dikelola pemkot maupun pihak swasta.
“Akibat larangan mudik, warga akhirnya pikir alternatif wisata ke mana yang terjangkau,” kata Agoes Tinus Lis Indrianto, penggiat wisata. Menurut dia, wisata outdoor banyak dipilih kalangan menengah dan bawah. Di lokasi tersebut, biasanya harga tiketnya ramah di kantong. Pilihannya juga cukup banyak, baik dari pemerintah maupun pengelola swasta. “Selain outdoor, mereka pilih jalan-jalan ke pusat perbelanjaan,” ujar Agoes.
Dua hari libur Lebaran menunjukkan kondisi tersebut. Di Surabaya, pengunjung memiliki banyak pilihan. Di kawasan barat, Taman Hutan Raya (Tahura) Pakal 1 dan 2 menjadi pilihan banyak warga. Pada momen hari kedua Lebaran kemarin (14/5), pengunjung lebih ramai jika dibandingkan dengan hari pertama.
Salah seorang pengunjung, Lukas, sengaja datang ke tahura pada hari kedua. Sebab, saat hari pertama Lebaran, dia dan keluarga sibuk halal bi halal. “Saya datang sama anak dan istri,” ucap warga Banyu Urip tersebut.
Menurut Lukas, selama berkeliling di tahura, tidak ada yang membuatnya risi. Semua pengunjung mematuhi protokol kesehatan. “Tempat cuci tangan juga ada. Cuma, tadi ada sabun yang habis, tapi setelah saya ngomong ke petugas langsung diisi lagi,” kata Lukas.
Bagi Lukas, tahura menjadi opsi rekreasi yang ramah kantong. Sebab, dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk masuk ke tahura. Berbeda ketika dia berkunjung ke lokasi lain. Salah satunya, Kebun Binatang Surabaya (KBS). “KBS harus bayar. Kami ke tahura bawa bekal makanan sendiri sehingga bisa lebih hemat,” tuturnya.
Terpisah, Koordinator Tahura Pakal 1 dan 2 Parjo menyebutkan, pada hari kedua Lebaran, ada 170 orang yang berkunjung. Angka itu lebih banyak jika dibandingkan pada hari pertama Lebaran. “Hari pertama Lebaran cuma 70 orang,” jelasnya,
Dia menyatakan, meski ada peningkatan jumlah pengunjung, tidak ada pelanggaran protokol kesehatan di tahura. Petugas disiagakan untuk keliling tahura. Jika ada yang berkerumun, petugas langsung mengurainya. Jam buka tahura masih sama dengan hari pertama Lebaran. Sejak pukul 11.00 hingga pukul 15.00.
Tren tersebut cukup berbeda dengan kalangan menengah ke atas. Saat larangan mudik diumumkan, kebanyakan di antara mereka memutuskan untuk mencari suasana baru atau memilih memanfaatkan paket staycation di hotel. “Mereka memilih tempat yang space-nya luas, lalu punya banyak fasilitas,” ungkap Agoes.
Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra itu memperkirakan pola kunjungan semacam itu berlaku selama penyekatan terjadi. “Nah, kalau tidak ada ledakan kasus, bepergian lebih mudah, baru ada pola-pola yang berbeda pula,” terangnya.
Sumber: Jawa Pos, 15 Mei 2021

